Sabtu 26 November 2022, 16:18 WIB

Guru Harus Ciptakan Lingkungan Belajar yang Menyenangkan

Faustinus Nua | Humaniora
Guru Harus Ciptakan Lingkungan Belajar yang Menyenangkan

ANTARA
Guru di Pamekasan, Jawa Timur memberikan pelajaran saat uji coba sekolah tatap muka.

 

MENTERI Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud-Ristek), Nadiem Makarim mengajak para guru untuk bisa menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan bagi siswa. Suasana belajar yang menyenangkan merupakan faktor penting untuk menghadirkan pembelajaran yang efektif dan berdampak. 

Menurutnya, jika seorang anak mengasumsikan pembelajaran sebagai sesuatu yang membosankan, menyebalkan bahkan menyakitkan maka anak itu akan mengasosiasikan belajar dengan hal yang negatif. Maka, penting untuk memahami potensi setiap peserta didik. 

Baca juga: 10 ribu Lansia di Jakarta Sudah Dapat Vaksinasi Booster ke-2

“Untuk menjadikan anak sebagai pemelajar sepanjang hayat maka pembelajarannya harus menyenangkan. Dengan demikian, yang lebih penting adalah kemampuan untuk mencintai belajar bukan sekadar menghafal pelajaran,” ujar Nadiem pada Puncak Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) Tahun 2022, Sabtu (26/11). 

Guru pertama yang diberi kesempatan untuk bercerita adalah I Kepala Sekolah (Kepsek) SDN 09 Padangsambian, Bali I Ketut Budiarsa mengisahkan praktik baik yang dikembangkannya dalam pembelajaran. Ia memilih melakukan pendekatan yang humanis sebagai strategi awal untuk merangkul dukungan para guru mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. 

“Saya lakukan pendekatan dan pendampingan dengan meyakinkan para guru senior khususnya untuk bersama-sama belajar. Saya tekankan, saya tidak akan meninggalkan mereka bahkan akan bersama mereka menghadapi tantangan yang ada,” kisahnya. 

Sementara itu, kepada guru yang lebih muda, dirinya mendorong mereka untuk lebih bersemangat belajar. “Kita bentuk komunitas belajar, kita manfaatkan Platform Merdeka Mengajar (PMM). Kami bersama merancang pembelajaran yang berpihak pada anak-anak,” urainya. 

Guru Penggerak Angkatan I dari SMA Gabungan Jayapura, Dolvina Lea Ansanay menceritakan bagaimana dia menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas. “Saya merasa model pembelajaran ini sangat menarik karena melihat bakat dan potensi peserta didik sehingga meski kondisi kita terbatas namun dengan pembelajaran berdiferensiasi maka kita bisa kreatif mencari celah potensi sumber daya belajar dari apa yang kita punya di kelas,” jelasnya. 

Dalam aktivitas pembelajaran, Dolvina memacu anak-anak untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. “Ketika saya coba, ternyata mereka punya kemampuan dan kompetensi yang tidak saya sadari. Saya bagi kelompok agar mereka bisa unjuk kebolehannya berdasarkan minat mereka masing-masing,” katanya. 

Kemudian, Lili Gusni yang merupakan guru ASN PPPK yang mengajar di UPT SDN 28 Indrapura Batu Bara, Sumatra Utara sangat bersyukur karena setelah bertahun-tahun mengabdi pencapaiannya kini setelah berstatus ASN PPPK memacunya untuk berkarya lebih baik lagi. “Saya terus memacu diri meski sebelumnya saya berstatus honorer, saya terus mencari peluang untuk mengembangkan diri,” ungkap wanita yang juga tergabung dalam komunitas Ibu Penggerak. 

Eka Widiastuti, Guru Penggerak SMPN 1 Sungkai Selatan Lampung Utara mengungkapkan tantangan yang ia hadapi pascapandemi di mana peseta didik berkurang minat belajarnya. Menyikapi agar kegemaran siswanya bermain gim, Eka tergerak untuk menciptakan materi ajar melalui gim. Namun, ia kembali dihadapkan pada terbatasanya kuota internet yang dimiliki siswa karena latar belakang ekonominya menengah ke bawah. 

“Akhirnya saya membuat aplikasi yang bisa diakses siswa melalui HP android tanpa memakan kuota internet. Selain itu, saya juga membuat penilaian bersama dengan siswa dengan membuat inovasi pembelajaran 'Petak Umpet Soal'. Ketika saya desain seperti itu anak-anak berlomba-lomba mencari soal di berbagai tempat dan menjawab soal dengan semangat,” ujarnya bersyukur karena metode ini bisa mengangkat animo siswanya belajar. 

Dalam kesempatan yang sama, Maudy Ayunda mengaku sangat terkesan dengan cara guru-guru peserta dialog dalam mengajar. Ia melihat bahwa kini secara langsung guru-guru aktif melibatkan anak-anak dalam proses belajar mereka sendiri. “Itu adalah metode yang efektif,” ungkapnya. 

Maudy menceritakan pengalaman masa sekolahnya, ketika ia diberikan kebebasan oleh guru untuk mengekspresikan pembelajaran dengan cara yang sesuai dengan minatnya, maka ada rasa kepemilikan yang tumbuh dalam proses belajar itu. Dengan begitu, pada saat nilainya bagus, ada kepuasan yang rasanya berbeda sekali. 

“Belajar menjadi sesuatu yang menyenangkan dan peran guru ke depan harus dikembangkan agar para guru bisa menumbuhkan benih motivasi belajar bagi murid,” harap Maudy Ayunda.(OL-6)

Baca Juga

MI/Naviandri/Koresponden

Festival Film Bulanan 2023 Dibuka, Sandiaga Ajak Para Sineas Muda Berkreasi

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 02 Februari 2023, 19:59 WIB
Festival Film Bulanan merupakan festival film yang menjaring dua film pendek terbaik setiap bulannya, baik fiksi maupun dokumenter yang...
MI/Moh Irfan

Cap Go Meh 2023, Media Group Rayakan Kebersamaan di Dalam Perbedaan

👤Dinda Shabrina 🕔Kamis 02 Februari 2023, 19:57 WIB
Perayaan Cap Go Meh kali ini menjadi momentum untuk merayakan kebersamaan di dalam...
Ist

FKG UI Kembali Gelar Forum Internasional KPPIKG 2023

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 02 Februari 2023, 19:57 WIB
Selain kegiatan ilmiah, terdapat sejumlah booth pameran seperti perusahan alat-alat kedokteran gigi, perbankan, serta produk-produk...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya