Rabu 07 September 2022, 11:01 WIB

Mengenal Lie Detector Alat Pendeteksi Kebohongan, Seberapa Akurat?

Meilani Teniwut | Humaniora
Mengenal Lie Detector Alat Pendeteksi Kebohongan, Seberapa Akurat?

Ilustrasi
Mediaindonesia.com

 

PERNAHKAH kamu mendengar lie detector ? atau bahkan pernah mengunakannya ? Lie detector bukan alat yang sembarang digunakan dalam kehidupan kita karena memiliki fungsinya sendiri. 

Dalam ranah hukum, alat ini biasanya digunakan oleh penyidik guna mengungkapkan kebenaran yang sesunguhnya dalam beberapa kasus. Sama halnya dengan kasus Brigadir J ini, Timsus sedang menerapkannya untuk pemeriksaan tersangka Brigadir J dalam mengungkapkan fakta dan data. 

Baca juga: Viral Soal Pintu Rahasia Rumah Sambo, Polri: Tidak Ada, Hoaks Itu

Lalu, bagaimana kira-kira kinerja dari lie detector tersebut, apakah memungkinkan untuk bisa memecahkan sebuah masalah? 

1. Apa itu Lie Detector ?
Lie detector jika diterjamahkan artinya detektor kebohongan yang merupakan sebuah alat pendetksi kebohongan manusia dengan mengunakan mesin Polygraph. 

Polygraph itu adalah perangkat yang mengumpulkan dan memungkinkan analisis respons fisiologis manusia melalui sensor yang secara fisik terhubung ke individu yang diperiksa oleh sistem tersebut. 

Alat itu awalnya ditemukan pada awal tahun 1902. Namun seiring berjalnnya waktu, Lie detector sudah memiliki banyak versi yang lebih canggih dan modern tentunya. 

Seperti namanya, alat kebohongan berfungsi mengungkapkan kebenaran seseorang guna membantu proses penyelidikan tindakan kriminal.  Bahkan, pengunaan detektor kebohongan dalam interogasi dan investigasi polisi telah dilakukan sejak tahun 1924. 

Namun, hingga kini, alat pendeteksi kebohongan masih kontroversial di kalangan psikolog dan tidak selalu dapat diterima secara hukum.

2. Cara Kerja Lie Detector 

Dalam buku Contemporary Security Management, menyatakan bahwa lie detector didasarkan pada asumsi bahwa ketika seseorang berbohong akan mengalami ketakutan, perubahan emosional, dan perubahan fisiologis. 

Perubahan ini didorong oleh sistem saraf otonom, yang mengatur lingkungan internal tubuh dan hal-hal lain yang di luar kendali. 

Sekeras apa pun usaha seseorang, mereka tidak mampu mencegah perubahan fisiologis. Perubahan fisiologis yang dinilai saat orang berbohong, antara lain frekuensi pernapasan, tekanan darah, dan keringat yang muncul jadi meningkat tajam. 

Saat menggunakan lie detector, ada beberapa sensor yang akan dipasang di beberapa bagian tubuh. Sebuah sensor yang dipasang di dada individu mampu memonitor pernapasan. 

Satu sensor akan diletakkan di lengan atas untuk memeriksa tekanan darah. Selanjutnya, dua sensor lain terpasang di jari untuk memonitor denyut nadi dan konduktansi kulit (banyaknya keringat yang dikeluarkan). 

Instrumen poligraf dalam lie detector akan mencatat perubahan-perubahan yang terjadi saat individu diinterogasi. Selanjutnya, pemeriksa atau analis yang terlatih akan menafsirkan rekaman dan memberikan pendapat tentang kebenaran orang yang diperiksa.

Ketika ada reaksi fisiologis, seperti peningkatan berbagai indikator tersebut saat interogasi berlangsung, seseorang bisa diasumsikan melakukan kebohongan. 

3. Fakta Lie Detector 

Untuk mengetahui akurat tidaknya dari alat lie detector kalian wajib untuk memahami Fakta lie detector yang terbagi menjadi empat bagian, sebagai berikut ;

1. Tes Poligraf 
Tes poligraf adalah pengujian dan perekaman tiga indikator respons tubuh untuk menilai apakah seseorang mengatakan kebohongan. Indikator yang digunakan yaitu kondisi tekanan darah atau detak jantung, perubahan pernapasan seseorang, dan keringat di jari tangan, seperti dikutip dari laman American Psychological Association (APA).

Alat pendeteksi kebohongan saat ini umumnya merupakan serangkaian alat yang membentuk sistem perekaman terkomputerisasi. Tingkat dan kedalaman saat bernapas diukur dengan pneumograf yang dililit ke dada peserta tes. Aktivitas jantung dan pembuluh darah dicek dengan sabuk tekanan darah. Sementara itu, keringat dicek dengan elektroda di ujung jari. Datanya direkam dan tersimpan di komputer.

Peserta tes poligraf lalu menjalani serangkaian pengenalan tentang pembohongan, bagaimana cara alat pendeteksi kebohongan bekerja, menjawab pertanyaan spesifik tentang sebuah kasus, dan pertanyaan umum tentang kebohongan sambil menjalani perekaman indikator tersebut.

Pelatih penguji poligraf Prof. Don Grubin mengatakan, tidak ada pertanyaan mengejutkan yang akan ditanyakan pada peserta tes. Sebab, pertanyaan mengejutkan akan memicu respons dari ketiga indikator.

Ia menambahkan, peserta tes mungkin hanya akan memakai alat deteksi kebohongan selama 10-15 menit. Namun, peserta mungkin bisa tinggal di ruangan tes hingga 2 jam. Selama itu, pewawancara mengajukan sejumlah pertanyaan yang akan dibandingkan dengan jawaban atas pertanyaan inti.

"Kami juga menggunakan alat yang disebut detektor gerakan di kursi, yang akan menangkap sinyal ketika Anda mencoba untuk mengalahkan tes," kata Prof. Grubin, seperti dikutip dari laman BBC.

Setelah menjawab pertanyaan dan tes, akan ada sesi bagi peserta tes untuk menjelaskan setiap jawabannya.

2. Efek Tidak Langsung
Ahli psikologi forensik dan peneliti penipuan Dr. Sophie van der Zee mengatakan, tes poligraf pada dasarnya mengukur efek tidak langsung dari kebohongan. Efek inilah menurutnya yang ditangkap mesin lie detector dari tiga indikator tes.

Dengan demikian, sambung van der Zee, tes poligraf tidak mengukur penipuan atau kebohongan secara langsung, melainkan tanda-tanda kemungkinan bahwa peserta tes bisa menipu pewawancara. Informasi ini lalu digunakan dengan aspek lainnya tentang peserta tes itu untuk membentuk gambaran lebih jelas tentang apakah mereka bohong atau tidak.

"Tidak ada (indikator) manusia yang setara dengan hidung Pinokio. Tetapi, berbohong dapat meningkatkan stres, dan dengan teknik pendeteksi kebohongan, Anda dapat mengukur perubahan perilaku dan fisiologis yang terjadi saat Anda merasa stres," kata van der Zee, seperti dikutip dari laman BBC.

3. Bisa Dikelabui
Prof. Grubin mengatakan, alat pendeteksi kebohongan dan tes poligraf dapat dikelabui. Namun, mengikuti cara di situs-situs umum saja menurutnya tidak cukup.

Ia mencontohkan, pemeriksa ujian juga bisa melihat apakah peserta tes menggunakan obat tertentu atau memasang paku di sepatu yang menyebabkan peningkatan respons berkeringat dan lain-lain.

"Tidak diragukan lagi bahwa Anda dapat mengalahkan tes poligraf, tetapi Anda benar-benar butuh latihan untuk melakukannya," kata Prof Grubin.

4. Apakah Lie Detector Akurat?
Peneliti deteksi kebohongan Prof. Aldert Vrij mengatakan, akurasi poligraf sudah dipertanyakan sejak ditemukan pada 1921. Ia mengatakan, namanya sebagai 'alat pendeteksi kebohongan' pun pada dasarnya sudah salah.

"Alat ini tidak mengukur kebohongan, yang seharusnya jadi inti fungsinya. Konsepnya, pembohong akan menunjukkan peningkatan respons tubuh saat menjawab pertanyaan kunci, sementara orang yang menjawab jujur tidak. Tapi tidak ada teori yang kuat untuk mendukung konsep ini," kata Vrij.

Padahal, sambungnya, ada beberapa aspek yang memungkinkan hasil tes poligraf akurat. Akurasi terbaik, menurutnya, bisa lebih tinggi dari kemampuan rata-rata orang untuk memberitahu jika orang lain sudah berbohong.

"Jika pemeriksa terlatih, jika tes dilakukan dengan benar, dan jika ada kontrol kualitas yang tepat, akurasi diperkirakan antara 80%-90%," katanya.

Van der Zee menambahkan, ikut tes pendeteksi kebohongan saja pada dasarnya bisa meningkatkan rasa stres dan membuat peserta merasa bersalah, meskipun tidak bersalah.

"Orang-orang yang diwawancarai dengan poligraf cenderung merasa stres. Jadi, meskipun poligraf cukup bagus dalam mengidentifikasi kebohongan, poligraf tidak terlalu bagus dalam mengidentifikasi kebenaran," katanya.

Prof. Grubin memaparkan sejumlah alasan kenapa sebuah tes poligraf bisa jadi tidak akurat. Di antaranya yaitu pertanyaan dirumuskan dengan buruk, pewawancara salah membaca hasil, dan sulitnya mewawancarai korban.

Grubin menjelaskan, jika alat pendeteksi digunakan pada korban, maka ada kemungkinan hasil tes mendapati ia berbohong. Sebab, kondisinya yang emosional saat menceritakan pengalaman traumatis dapat berisiko terdeteksi sebagai indikasi sedang berbohong.

"Menguji korban adalah hal yang sangat berbeda karena sifat pertanyaan detektor kebohongan adalah memicu naiknya respons tubuh," katanya.

Vrij mengatakan, masalah-masalah saat tes poligraf dan faktor lainnya inilah yang membuat hasil tes dengan alat pendeteksi kebohongan tidak akurat. (OL-6)

Baca Juga

ANTARA/Makna Zaezar

Pengamat Nilai Upaya Mendorong Inklusivitas Sudah Mulai Masif

👤Naufal Zuhdi 🕔Minggu 25 September 2022, 21:40 WIB
Muatan kurikulum memang belum banyak menjelaskan tentang inklusifitas, khususnya terkait penyandang...
Dok. LDII

MUI Bekali Juru Dakwah LDII Sebelum Terjun di Tengah Masyarakat

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 25 September 2022, 21:17 WIB
Dalam tausiahnya, Ahmad Ali mengingatkan kewajiban dakwah terdapat dalam Al-quran Surat Ali Imran...
Antara

82,7% Remaja Sudah Divaksinasi Lengkap

👤MGN 🕔Minggu 25 September 2022, 21:02 WIB
Sebanyak 25.626.349 remaja telah menerima vaksin dosis pertama. Jumlah itu sama dengan 95,96 persen dari...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya