Selasa 26 Juli 2022, 07:45 WIB

Ini yang Perlu Anda Tahu Soal Cyberbullying

Basuki Eka Purnama | Humaniora
Ini yang Perlu Anda Tahu Soal Cyberbullying

Medcom
Ilustrasi

 

TIDAK bisa dipungkiri, saat ini, akses internet menjadi kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh semua orang, termasuk anak-anak.

Bagi siswa, internet memang sangat menunjang kegiatan belajar, terutama di masa pandemi. Beragam manfaat mulai dari sarana komunikasi hingga mendapatkan informasi. 

Namun, sisi lain dari penggunaan internet bagi anak usia sekolah adalah fenomena perundungan di dunia maya (cyberbullying) yang kian marak.

Baca juga: Wujudkan Sekolah yang Aman, Kemendikbud-Ristek Gandeng Komunitas Ibu Penggerak

Berdasarkan Laporan Survei Internet Indonesia yang disusun Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) per 2021-2022 (Q1), Tingkat penetrasi internet pada anak usia 5-12 tahun mencapai 62.43%, sedangkan pada anak usia 13-18, penetrasi internetnya sebesar 99,16%. Sebanyak 90,61% anak usia 13-18 tahun tersebut mengakses internet melalui gawai.

Center For Digital Society (CfDS) melakukan penelitian yang dirilis pada Agustus 2021, bertajuk Teenager-Related Cyberbullying Case In Indonesia yang dilakukan kepada 3077 siswa SMP dan SMA usia 13-18 dari 34 provinsi di Indonesia. 

Hasil penelitian terkait cyberbullying tersebut menyebutkan sebanyak 1.895 siswa (45,35%) mengaku pernah menjadi korban, sementara 1182 siswa (38,41%) lainnya menjadi pelaku.

Platform sosial media yang jamak digunakan untuk cyberullying adalah WhatsApp, Instagram, dan Facebook. Adapun perilaku cyberbullying yang paling sering dilakukan adalah kekerasan siber (harassment), pencemaran nama baik (denigration), serta pengucilan (exclusion).

Dari sisi dampak, menurut UNICEF, cyberbullying akan mempengaruhi tiga aspek yakni mental, emosional dan fisik. 

Secara mental, siswa yang mengalami cyberbullying akan merasa kesal, malu, bodoh bahkan marah. Dari aspek emosional, korban cyberbullying akan kehilangan minat pada hal-hal yang disukai. Untuk aspek fisik, dampak yang paling dirasakan korban cyberbullying adalah lelah (kurang tidur), sakit perut dan sakit kepala. 

Dalam kasus yang ekstrim, cyberbullying bahkan bisa memicu seseorang menjadi depresi hingga melakukan bunuh diri.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, Zulfadly Syam, dalam webinar "Mencegah Tindakan Cyberbullying pada Siswa, yang diselenggarakan oleh KGSB (Komunitas Guru Satkaara Berbagi) menyebutkan ada enam hal yang menjadi penyebab maraknya cyberbullying yakni moral sebatas offline, buta perlindungan data pribadi, internet hanya ranah hiburan, perkembangan komunitas, community development rendah, penegakan hukum, law enforcement, dan eksploitasi simbol.

"Untuk itu perlu ada sosialisasi etika berinternet dan bersosial media dengan bijak," kata dia dalam siaran pers, dikutip Selasa (26/7).

Sekolah juga perlu meningkatkan literasi mengenai cyberbullying dan mengarahkan anak- anak memanfaatkan internet untuk hal yang produktif dan positif karena kita tidak bisa menahan laju perkembangan teknologi yang cepat dan massif.

Zulfadly menjelaskan perlu menggunakan metode B-I-J-A-K dalam mencegah cyberbullying.

"B-I-J-A-K; B adalah menggunakan Bahasa yang baik. I merupakan penggambaran Ikon emosi, J adalah Jangan sharing sebelum disaring. A diwujudkan dengan Atur data pribadi, serta K adalah Kuatkan password supaya tidak mudah diretas orang lain," ujar Zulfadly.

Sementara Wakil Ketua Bidang Pengabdian Masyarakat sekaligus Plt. Ketua Bidang Studi Hukum Pidana Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera, Asfinawati menjelaskan perihal regulasi hukum, beberapa undang-undang terkait cyberbullying yakni UU ITE pasal 27 (1), pasal 27(3), pasal 29, pasal 28 (2) serta pasal 14 UU TPKS. 

Perlu kehati-hatian dan tinjauan lebih lanjut dalam penggunaan regulasi-regulasi tersebut. Namun ia menekankan sanksi hukum yang diterapkan kepada pelaku cyberbullying merupakan solusi terakhir dari berbagai upaya penyelesaian.

Adapun upaya pencegahan yang bisa dilakukan di lingkungan sekolah adalah dengan penyebaran kesadaran kepada murid terkait cyberbullying, tidak melakukan viktimisasi serta menjadikan cyberbullying dan dampaknya sebagai topik pelajaran yang relevan di sekolah.

"Pada dasarnya, anak adalah anak. Sebagai pendidik kita perlu lebih bersikap terbuka terhadap apa yang kita tidak tahu (internet). Memberikan contoh menghargai sesama manusia dengan dekat dan menjadi teman bagi siswa. Dalam banyak kasus cyberbullying, yang menyelamatkan siswa bukanlah hukum atau pendisiplinan melainkan respon dari lingkungan terdekat termasuk guru," tuturnya.

Cyberbullying merupakan sisi lain dari internet yang melewati batas, oleh sebab itu fenomena ini perlu disikapi oleh semua pihak dengan baik terlebih guru dan tenaga pendidik sebagai support system siswa. (Ant/OL-1)

Baca Juga

MI/ Tri Subarkah

Sinar Mas Agribusiness and Food Ajak Masyarakat Garap Kebun Belakang Rumah

👤Tri Subarkah 🕔Minggu 14 Agustus 2022, 21:27 WIB
Ia berharap proyek Safe Water Garden (SWG) bisa meningkatkan pendapatan dan kesehatan...
DOK Sinar Mas Land.

Sinar Mas Land Bantu Penyandang Disabilitas, Lansia, Yatim Piatu

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 14 Agustus 2022, 20:39 WIB
Sinar Mas Land melalui PT Bumi Serpong Damai Tbk melaksanakan kegiatan bakti sosial dengan menyalurkan bantuan uang tunai, pangan, dan alat...
Antara

170,4 Juta Orang Sudah Divaksinasi Lengkap

👤MGN 🕔Minggu 14 Agustus 2022, 20:10 WIB
Indonesia menargetkan 208,2 juta penduduk menerima vaksin...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya