Senin 04 Juli 2022, 14:05 WIB

Rendah, Cakupan Booster Covid-19 di Angka 24,50%

Atalya Puspa | Humaniora
Rendah, Cakupan Booster Covid-19 di Angka 24,50%

Satgas Penanganan Covid-19
Infografis

 

BERDASARKAN data yang diakses dari laman Kementerian Kesehatan, hingga Senin (4/7), vaksinasi covid-19 dosis ketiga atau booster telah diberikan kepada 51 juta warga Indonesia. Namun, angka itu baru mencapai 24,50% dari target yang ditetapkan.

Secara rinci vaksin itu diberikan kepada 1,6 juta tenaga kesehatan, 5,3 juta masyarakat lanjut usia, 7,4 juta petugas publik, 35 juta masyarakat rentan dan umum, serta 721 ribu kelompok usia 12-17 tahun.

Adapun, vaksinasi dosis kedua telah diberikan kepada 169 juta warga atau 81,22% dari target yang ditetapkan. Sementara itu vaksinasi dosis pertama telah diberikan kepada 201 juta warga atau 96,79% dari target yang ditetapkan.

Sebelumnya, Juru Bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito mengungkapkan bahwa vaksinasi booster akan menjadi syarat masuk ke fasilitas publik.

"Saat ini kegiatan berskala besar sudah mewajibkan vaksin booster. Ke depannya, vaksinasi booster juga akan menjadi syarat untuk masuk ke fasilitas publik," ungkap dia.

Ia mengingatkan, terjadi tren kenaikan kasus covid-19 secara global maupun nasional yang dipicu munculnya subvarian baru Omicron yaitu BA.4 dan BA.5. Dari data GISAID, dalam 1 bulan terakhir ada 99% lebih varian Omikron termasuk kedua varian tersebut yang dilaporkan dari Indonesia. Secara geografis persebarannya cukup merata di Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.

Wiku menyebut, juga terjadi tren kenaikan keterisian tempat tidur di RSDC Wisma Atlet. Namun, rata-rata dampaknya terpantau tidak menimbulkan angka kematian tinggi di berbagai negara. Para ilmuwan berpendapat hal ini dikarenakan hybrid immunity yang dihasilkan vaksinasi maupun infeksi covid-19.

"Berkaca dari hal ini pemerintah Indonesia berusaha tetap optimal dalam melakukan seluruh upaya pengendalian, baik melalui vaksinasi maupun implementasi protokol kesehatan," jelas Wiku.

Pemerintah dalam penanganan covid-19 juga menyadari pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat, sebagai perilaku berkelanjutan. Prinsipnya, masyarakat harus tetap siaga, disiplin, dan pantang lalai baik saat kondisi kasus covid-19 naik maupun melandai.

Adanya berbagai keringanan yang diberikan kepada masyarakat dalam beraktivitas, seperti kapasitas yang meningkat maupun pemakaian masker hanya di dalam ruang harus dijalankan secara bertanggung jawab. Terlebih kepada orang yang sakit agar tidak beraktivitas terlebih dahulu dan wajib bermasker.

"Hal ini sebagai bentuk antisipasi jika nantinya terdapat kemunculan varian baru atau kenaikan kasus yang tidak terelakkan. Sehingga setidaknya tidak terjadi lonjakan angka kasus maupun angka kematin yang signifikan," jelas Wiku. (H-2)

 

Baca Juga

MI/Akhmad Safuan.

Mengenal Tokoh Tiga Serangkai, Peranannya dalam Indische Partij

👤Meilani Teniwut 🕔Selasa 16 Agustus 2022, 17:41 WIB
Tiga Serangkai merupakan julukan perkumpulan atau kelompok yang beranggotakan tiga pendiri dan pemimpin organisasi Indische...
Dok. GODIVA

Rayakan Keberagaman Indonesia di Momen Kemerdekaan, GODIVA Rilis 4 Varian Cokelat Baru

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 16 Agustus 2022, 17:22 WIB
Keempatnya dikategorikan sebagai Signatutre Chocolate Tablet yang merupakan produk self-treat item dan cocok untuk dikonsumsi...
Antara/Irwansyah Putra.

Kerajaan yang Bercorak Islam di Indonesia

👤Meilani Teniwut 🕔Selasa 16 Agustus 2022, 17:20 WIB
Mengutip dari Modul Pembelajaran SMA Sejarah Indonesia, berikut beberapa kerajaan Islam tertua yang pernah ada di...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya