Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
USAI kasus Johnny Depp dan Amber Heard mencuat di berbagai pemberitaan, banyak orang kemudian menyoroti hubungan yang tidak sehat atau toxic. Namun, dalam sebagian besar kasus, orang tidak menyadari mereka sedang terjebak dalam hubungan tersebut.
Dikutip dari siaran pers, Selasa (21/6), Chief of Cupid dan CEO Lunch Actually Violet Lim mengungkapkan tanda-tanda hubungan toxic yang perlu diwaspadai.
Hubungan seharusnya menjadi tempat aman untuk menjadi diri sendiri, memiliki seseorang yang bisa diandalkan, dan sama-sama tumbuh menjadi orang yang lebih baik dalam setiap aspek.
Baca juga: Perlu Kolaborasi Berbagai Pihak untuk Atasi Stigma Kesehatan Mental
Dalam hubungan yang toxic, kedua belah pihak akan sangat kompetitif. Mereka tidak akan membiarkan pasangannya menjadi lebih baik atau bersama seseorang yang lebih baik dari mereka.
Salah satu pihak juga akan takut pasangannya meninggalkan mereka. Dengan demikian, mereka akan mengendalikan pasangannya tentang siapa yang ditemui, siapa yang disukai, dan tidak membiarkan pasangannya tumbuh menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.
Hubungan yang sehat adalah hubungan di mana keduanya merasa bahagia dengan saling memenuhi kebutuhan dan keinginan masing-masing.
Ketika Anda merasa selalu menjadi pihak yang menyenangkan pasangan dan hanya memikirkan apa yang membuat pasangan Anda bahagia tanpa mempertimbangkan kebahagiaan Anda sendiri, Anda harus berhenti.
Sering kali, Anda berpikir hal itu normal dan Anda masih dapat menoleransi perilaku pasangan Anda. Kemudian, Anda berharap pasangan akan berubah. Tapi nyatanya, Anda hanya akan memberikan sesuatu kepada pasangan tanpa mendapatkan sesuatu kembali.
Jika ada teman dekat yang mengkritik pasangan Anda, kemudian Anda selalu berargumen bahwa dia tidak mengenal pasangan Anda sebaik Anda, padahal hati kecil Anda tidak mengatakan demikian, ini adalah tanda bahaya.
Ketika Anda merasa dipaksa untuk membela pasangan, Anda perlu memikirkan kembali hubungan yang sedang dijalani.
Anda perlahan-lahan berhenti untuk mengatakan apa yang sedang dirasakan karena sudah tahu ke mana arah pembicaraan akan berakhir.
Misalnya, ketika Anda mengatakan, "Saya merasa sangat sedih tentang pekerjaan akhir-akhir ini," dan dia menjawab, "Kamu tampak baik-baik saja ketika teman-temanmu ada, kenapa kamu mengeluh saat bersama saya?". Perkataan dia akan membuat Anda merasa bahwa semua yang terjadi adalah salah Anda sendiri.
Jika Anda merasakan hal-hal tersebut, sudah saatnya Anda untuk mempertimbangkan kembali hubungan yang sedang Anda jalani sebelum melangkah lebih jauh.
Jika sulit keluar dari hubungan yang toxic, Anda bisa mencari bantuan dari seseorang yang Anda percayai atau bahkan tenaga profesional jika diperlukan. (Ant/OL-1)
Studi terbaru mengungkap teknik "meta-cognitive doubt". Meragukan pikiran negatif ternyata lebih efektif untuk kembali berkomitmen pada tujuan jangka panjang.
Korps Relawan Bencana di bawah Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi), melaksanakan rangkaian Psychosocial Support Program bagi anak-anak yang terdampak gempa bumi di Kabupaten Poso.
Dialah Saparinah Sadli, perempuan berusia 99 tahun yang menjadi saksi hidup perjalanan panjang ilmu psikologi dan gerakan perempuan di Indonesia.
Talentlytica bersama Unit Usaha Akademik Unpad akan menggelar Workshop Pauli Reimagined pada 4 Oktober mendatang di Bandung, Jawa Barat
Penggunaan pacar AI di platform seperti Character.AI makin populer, tetapi pakar memperingatkan risikonya.
Cinta bukan hanya soal perasaan, tapi juga ilmiah. Pelajari efek hormon ini saat jatuh cinta dan patah hati.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved