Rabu 08 Juni 2016, 07:40 WIB

TAFSIR AL-MISHBAH: Islam Ajarkan Kebersamaan

Quraish Shihab | Humaniora
TAFSIR AL-MISHBAH: Islam Ajarkan Kebersamaan

Ilustrasi--MI/Seno

 

TAFSIR Al-Mishbah kali ini menjelaskan makna dari Surah Asy Syu'ara ayat 52-68. Secara garis besar ayat-ayat itu berisi perintah Allah kepada Nabi Musa untuk menyelamatkan Bani Israil dari kekejaman dan pembinasaan Firaun.

Ayat 52 berisi, "Dan kami wahyukan kepada Musa berangkatlah di waktu malam bawa hamba-hambaku (Bani Israil), sebab pasti kamu akan dikejar." Wahyu dari segi bahasa berarti isyarat yang cepat. Wahyu bisa berarti ilham.

Akan tetapi, wahyu dalam bahasa agama ialah informasi yang diterima seseorang dan diyakininya bahwa itu sumbernya dari Allah. Wahyu dalam artian seperti itu tidak akan ada lagi setelah Nabi Muhammad wafat. Ayat 53-56 menjelaskan Firaun mengirim orang untuk mengumpulkan bala tentaranya. Bagi Firaun, Bani Israil sesungguhnya hanyalah sekelompok kecil kaum yang ditindasnya, tetapi sebagian dari Bani Israil ada yang masih berutang kepada orang Mesir dan telah berbuat hal-hal yang menimbulkan amarahnya.

Yang perlu kita garis bawahi bahwa Musa dan Bani Israil tidak berangkat melalui jalur yang dekat, tapi ambil jalur yang jauh. Apa makna itu? Walaupun mereka telah mendapat jaminan dari Allah, Musa harus tetap berhati-hati dan berusaha di jalan yang tidak mudah.

Ketika matahari terbit Firaun mengutus orang-orangnya untuk mencari jalur yang dilewati Musa. Dan ketika dia tahu yang mana jalurnya, dia ikuti dari belakang.

Di ayat 57-59 dijelaskanlah bahwa itu merupakan tipu daya Allah agar Firaun dan para pengikutnya meninggalkan tempat tinggal, kebun-kebun, mata air, perbendaharaan mereka untuk mengejar Musa. "Demikianlah, dan Kami wariskan semuanya (itu) kepada Bani Israil." Kalau Allah mau turun tangan, jangan anggap kekuasaan dan kekayaan Anda akan kekal terus bersamamu.

Ayat 60-62 menjelaskan sampailah Firaun dan bala tentaranya menyusul Musa dan Bani Israil pada waktu matahari terbit. Ketika kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, "Kita benar-benar akan terkejar.

"Lalu Musa menjawab, "Tidak akan terkejar, sesungguhnya Tuhanku bersamaku, dia akan memberi petunjuk kepadaku." Mari kita bandingkan ucapan Musa ini dengan Nabi Muhammad ketika dikejar-kejar waktu hijrah. Nabi Muhammad berkata, "Jangan sedih, jangan takut, Tuhan bersama kita." Ia mengucapkan kita, bukan aku. Lalu apa ini maknanya? Ajaran Islam itu menekankan kebersamaan.

Ayat 63-66 menjelaskan mukjizat yang diterima Musa yakni membelah laut merah. "Lalu Kami wahyukan kepada Musa, 'Pukullah laut itu dengan tongkatmu'. Maka terbelahlah lautan itu dan setiap belahan akan seperti gunung yang besar. Dan di sanalah Kami dekatkan golongan Firaun. Dan Kami selamatkan Musa dan pengikutnya. Kemudian Kami tenggelamkan golongan lain.

"Ayat 67 dan 68 menjelaskan itulah kekuasaan Allah yang Mahaperkasa lagi Mahapenyayang. Memang dalam hidup ini ada yang dinamai rasional. Contoh satu tambah satu sama dengan dua. Namun, ada pula yang irasional. Ada hal-hal yang tidak bisa kita jangkau dengan akal.(*/H-1)

Baca Juga

Ist

Relief Indonesia Festival 2022 Usung Tema 'Harmoni Indonesiaku'

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 18 Agustus 2022, 10:37 WIB
Relief Indonesia Festival 2022 ingin menyatukan para pelaku ekonomi, seni dan budaya menjadi lebih harmoni dalam berkarya serta...
ANTARA FOTO/Yudhie

Peneliti BRIN Sebut Konflik Manusia dan Satwa Liar Meningkat

👤Faustinus Nua 🕔Kamis 18 Agustus 2022, 10:16 WIB
Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, konflik antara manusia dan satwa liar terus terjadi dan tidak ada tanda-tanda...
Foto/Youtube Satgas penanganan Covid-19

267 Ribu Tenaga Kesehatan Telah Disuntik Vaksin Covid-19 Keempat

👤Atalya Puspa 🕔Kamis 18 Agustus 2022, 09:52 WIB
Sementara itu, tenaga kesehatan yang telah mendapatkan vaksinasi dosis ketiga berjumlah 1,7 juta...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya