Selasa 28 September 2021, 12:58 WIB

Peringati Hari Jantung Sedunia 2021, Masyarakat Diajak Ambil Peran Lakukan Pencegahan

Eni Kartinah | Humaniora
Peringati Hari Jantung Sedunia 2021, Masyarakat Diajak Ambil Peran Lakukan Pencegahan

Ist
Konfenresi pers peringatan Hari Jantung Sedunia 2021 secara virtual pada Selasa (28/9).

 

PENYAKIT jantung atau kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia yang mengakibatkan 18,7 juta kematian per tahun.

Di Indonesia sendiri berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menyebutkan bahwa setidaknya 15 dari 1.000 orang individu di Indonesia menderita penyakit jantung atau kardiovaskular.

Penyakit jantung memiliki banyak penyebab mulai dari kebiasaan merokok, diabetes, hipertensi dan obesitas, hingga polusi udara. Oleh karena itu, seluruh masyarakat perlu mengambil peran dalam mencegah tingginya angka jumlah penderita dan kematian akibat penyakit jantung.
 
Tanggal 29 September tiap tahunnya diperingati sebagai Hari Jantung Sedunia. Diperingatinya Hari Jantung Sedunia ini merupakan salah satu bentuk dan cara untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pencegahan penyakit jantung dan pembuluh darah. 
 
Pandemi yang terjadi selama lebih kurang 2 tahun belakang membuat masyarakat mau tidak mau harus beradaptasi dengan keadaan termasuk dalam hal bagaimana cara kita tetap menjaga dan merawat kesehatan jantung kita dan orang-orang terdekat kita.

Jika sebelum pandemi masih banyak dari masyarakat yang melakukan perawatan kesehatan secara konvensional dengan datang langsung ke fasilitas kesehatan guna mengontrol dan mengobati penyakit.

Maka, kini mau tidak mau masyarakat harus menemukan cara yang berbeda dan inovatif. Banyak pasien jantung yang enggan datang langsung ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya karena takut terpapar virus.
 
Meskipun layanan konsultasi dengan dokter tanpa harus tatap muka (telemedika) sudah mulai dikenal lama, tetapi setelah pandemi terjadi banyak yang lebih memilih untuk konsultasi jarak jauh seperti ini guna meminimalisir kontak langsung.

Dengan memanfaatkan teknologi kesehatan digital untuk meningkatkan kesadaran, pencegahan, dan perawatan penyakit jantung adalah tujuan dari diperingatinya Hari Jantung Sedunia tahun ini. 
 
Esti Nurjadin selaku Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia (YJI) mengatakan, “Teknologi yang ada saat ini semakin memudahkan kita untuk bisa mendapatkan informasi-informasi tentang kesehatan dan juga dapat memperoleh pelayanan kesehatan dengan melakukan konsultasi secara virtual."

"Dalam situasi pandemi seperti sekarang, telemedicine menjadi sarana untuk berkonsultasi yang aman tanpa tatap muka langsung," jelasnya pada keterangan pers, Selasa (28/9).

"Dengan teknologi kita juga bisa dengan mudah memantau dan mengukur tekanan darah/detak jantung dan memantau kegiatan saat kita sedang beraktivitas dan berolahraga secara mandiri melalui perangkat pintar yang sekarang banyak beredar," tuturnya.

"Alat digital dan aplikasi di ponsel yang marak beredar di pasaran dapat membantu kita melakukan prevensi terhadap penyakit jantung dan kardiovaskular dan membantu memantau kesehatan bagi para penderita penyakit jantung dan kardiovaskular secara cepat dan mudah,” jelas Esti.
 
Tahun ini, dalam rangka menyambut Hari Jantung Sedunia, YJI mengusung tema yang juga diusung secara global yaitu Use Heart To Connect.

"Tema ini dimaksudkan untuk menggunakan knowledge, kasih sayang, dan peran kita untuk memastikan bahwa kita dan orang-orang di sekeliling kita memiliki kesempatan yang terbaik untuk memiliki jantung yang sehat," ucap Esti.

"Dengan teknologi kita dapat saling terhubung sehingga memungkinkan kita sharing informasi dan edukasi menjangkau masyarakat yang lebih luas lagi dari sebelumnya dimanapun mereka berada," tambahnya.
 
Mela Sabina sebagai Ketua Bidang Komunikasi dan Promotif Yayasan Jantung Indonesia mengungkapkan,“Penyakit jantung kini bukan hanya banyak dialami oleh orang-orang di usia senja tapi juga banyak menyerang usia muda."

Tingginya prevalensi penyakit jantung di Indonesia banyak disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat. Perubahan gaya hidup harus dilakukan sedini mungkin sebagai investasi kesehatan di masa depan.

"Di era serba digital seperti saat ini perkembangan teknologi di bidang kesehatan akan mempermudah siapapun dalam mendapatkan layanan kesehatan," katanya.

"Saat ini sudah semakin banyak yang mengenal wearables seperti jam atau gelang pintar dengan fitur utama mengukur frekuensi dan target berbagai jenis aktivitas fisik jadi semua orang bisa mempunyai pengingat kala sedang menjalani gaya hidup yang kurang baik,” papar Mela. (Nik/OL-09)

Baca Juga

Antara

Update 10 Agustus: 5.926 Kasus Covid-19 Terdeteksi Hari Ini

👤MGN 🕔Rabu 10 Agustus 2022, 17:22 WIB
Sementara itu, kasus aktif covid-19 bertambah 1.002 sehingga menjadi 52.043...
DOK Pribadi.

Rayakan 60 Tahun Berdiri, Hotel Indonesia Kempinski Gelar Pameran Seni

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 10 Agustus 2022, 17:02 WIB
Merayakan 60 tahun berdirinya Hotel Indonesia, Hotel Indonesia Kempinski Jakarta kali ini mempersembahkan keelokan seni Indonesia melalui...
Dok MGN

Lampung Post Luncurkan Aplikasi One Click

👤Andi Apriadi/Muklis Efendi 🕔Rabu 10 Agustus 2022, 16:52 WIB
Transformasi itu merupakan bentuk kecintaan terhadap masyarakat dan ikut serta memajukan Provinsi...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya