Kamis 23 September 2021, 06:00 WIB

Vaksinasi di Kaki Gunung

Fathurrozak | Humaniora
Vaksinasi di Kaki Gunung

Dok. Mandalawangi Bergerak
Pelaksanaan vaksinasi di desa Kaki Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat.

 

SUATU hari di penghujung Agustus lalu, sekitar pukul 08.00 WIB, beberapa orang di desa kaki Gunung Gede Pangrango, Cibodas, Jawa Barat, sudah berkumpul. Mereka tengah bersiap menerima vaksin covid-19. Hingga pukul 09.00, setidaknya ada sekitar 100 orang. Barulah di jam berikutnya, ada 100 orang lagi, hingga seterusnya berjumlah 500 orang. Keesokan harinya, kegiatan serupa berlangsung lagi.

Kegiatan itu diinisiasi sekumpulan pencinta alam yang tergabung dalam gerakan Mandalangi Bergerak. Sulitnya akses vaksin yang sejauh ini hanya menjangkau di titik-titik perkotaan, menggerakkan hati, pikiran, dan tenaga mereka untuk turut membantu membuka akses vaksin bagi masyarakat di sekitar kaki gunung.

Salah satu kekhawatiran mereka ialah, kelak ketika beberapa gunung di Indonesia telah kembali dibuka untuk pendakian, warga di sekitar kaki gunung bakal rentan terpapar virus akibat lalu-lalang masuknya para pendaki. Para porter, pemandu, juga pemilik warung hingga warga yang menyediakan penginapan, adalah beberapa di antara yang bersinggungan langsung. Sebab itu, Mandalawangi Bergerak berinisiatif mengupayakan percepatan vaksinasi masyarakat di kaki gunung.

“Karena di kaki gunung itu vaksinasinya masih minim. Kami mikirnya, jangan sampai ketika nanti ada yang naik gunung, malah bawa risiko buat masyarakat sekitar,” terang Ketua Mandalawangi Bergerak, Rahmi Hidayati, saat dihubungi Media Indonesia melalui sambungan telepon, Senin (13/9).

Saat ini, Rahmi dkk sudah mengupayakan vaksinasi untuk masyarakat di Selabintana Sukabumi, Cibodas, dan di kaki Gunung Putri. Ke depan, mereka memproyeksikan akan mempercepat vaksinasi bagi warga di sekitar 10 gunung yang paling ramai dan menjadi favorit para pendaki, seperti Gunung Slamet dan Gunung Perahu di Jawa Tengah, Gunung Ciremai di Jawa Barat, Gunung Agung di Bali, dan Gunung Rinjani di Lombok, NTB.

Untuk menjamin itu, vaksin disediakan oleh dinas setempat bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan. Mereka juga bekerja sama dengan para aktivis lingkungan dan pencinta alam setempat, juga para tenaga kesehatan di puskesmas setempat di kaki gunung.

“Sebelum bergerak, kami juga pelajari karakter masyarakat di sekitar kaki gunung. Bikin riset awal, bagaimana sebaiknya saat bergerak di gunung selanjutnya, termasuk nanti di luar Jawa. Kami juga ajak nakes puskesmas setempat, mereka yang lakukan penyuntikan dan skrining,” terang Rahmi.

 

Beri edukasi

Selain mengupayakan akses vaksin bagi warga kaki gunung, tim Mandalawangi Bergerak juga melakukan edukasi kepada masyarakat. Tidak semua warga sudah memahami pentingnya vaksinasi covid-19. Rahmi yang juga anggota Mapala Universitas Indonesia ini bercerita tidak sedikit warga menolak karena terpapar informasi yang kurang tepat.

Karena itu, sebelum vaksinasi berlangsung, beberapa waktu sebelumnya juga dilakukan sosialisasi pentingnya warga mendapat vaksin covid-19. “Misal yang di jalur pendakian Gunung Putri, itu masyarakat di sana awalnya sempat tolak vaksin. Tapi kami lakukan sosialisasi mengenai kegunaan dan dampaknya. Akhirnya di menit-menit akhir, warga berbondong daftar dan mau vaksin.”

Rahmi menyatakan timnya juga menjamin hingga proses vaksinasi kedua. Adapun bagi warga yang belum mendapatkan vaksin, ia mendorong pemda dan dinas setempat untuk segera mendata mereka. Sebab, jika melihat antusiasme dari beberapa kegiatan yang sudah berjalan, warga umumnya mau divaksin. Memang awalnya memang sempat ada beberapa penolakan.

Rahmi juga menyatakan siap jika ia dan timnya dimintai tolong oleh beberapa komunitas di sekitar kaki gunung yang ada di wilayah lain di Indonesia untuk percepatan vaksinasi.

“Kalau misal ada teman-teman di gunung lain yang mau dan bisa mengakomodasi, kami bisa mendukung untuk kepentingan di lapangan,” terang perempuan yang pernah berprofesi sebagai jurnalis ini.

Concern kami adalah tidak ingin masyarakat di sekitar pegunungan terkena dan terpapar dari para pendaki nantinya. Dan, mudah-mudahan ini juga bisa menjadi kesadaran bersama untuk teman-teman.” (M-4)

 

 

Baca Juga

ANTARA/GALIH PRADIPTA

Buku Statistik JKN, Upaya Peningkatan Akses Kesehatan Masyarakat

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Senin 18 Oktober 2021, 12:20 WIB
Buku ini berisi gambaran capaian dan perkembangan program JKN-KIS yang disajikan dalam bentuk indikator kepesertaan iuran dan juga...
Ist/Hotel Sahid Serpong

Semangat Berbagi Telah Kembali, Hotel Sahid Serpong Gelar Donor Darah

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 18 Oktober 2021, 12:08 WIB
Seluruh karyawan Hotel Sahid Serpong bersemangat dan telah kembali mendonorkan darah setelah 8 bulan vakum dari kegiatan donor...
Dok. Universitas Indonesia

AHS, Integrasi Pendidikan dan Kesehatan Hasilkan Inovasi Layanan Publik

👤Faustinus Nua 🕔Senin 18 Oktober 2021, 12:05 WIB
Salah satu manfaat terbesar implementasi AHS dalam bidang kesehatan adalah inovasi pemeriksaan mikrodelesi kromosom Y...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Mencegah Proyek Kereta (jadi) Mubazir

Pembengkakan biaya menjadi biang keladi perlu turun tangannya negara membiayai proyek dengan dana APBN.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya