Minggu 18 Juli 2021, 10:25 WIB

Resiliansi Komunitas Penting dalam Hadapi Pandemi Covid-19

Atalya Puspa | Humaniora
Resiliansi Komunitas Penting dalam Hadapi Pandemi Covid-19

Dwi Apriani/MI
ADAPTASI KEBIASAAN BARU: Berbagai upaya dilakukan pemda untuk menyadarkan warga menerapkan prokes dalam beraktivitas.

 

KEPALA Lembaga Demografi Universitas Indonesia Turro S. Wongkaren menekankan pentingnya resiliansi komunitas dalam menghadapi covid-19. Masyarakat yang berbudaya dan religius memiliki potensi yang besar untuk melakukan hal tersebut.

“Meskipun banyak definisi tentang resiliensi, saya menyimpulkannya ke dalam dua kata; lentur dan lenting. Lentur dapat diartikan sebagai kemampuan fleksibilitas dalam bereaksi dengan keadaan, sedangkan lenting ialah kemampuan untuk kembali ke posisi semula—kemampuan untuk bounceback, setelah melentur,” ujarnya. kata Turro dalam keterangan resmi yang dikutip dari laman resmi Universitas Indonesia, Minggu (18/7).

Ia menyatakan, tingkat kelenturan atau penerimaan keadaan dalam resiliensi dari orang-orang Indonesia sebenarnya cukup tinggi. Pasalnya, hal tersebut berkaitan dengan aspek identitas religius dan budaya yang telah dianut oleh masyarakat sejak dahulu kala.

Menurutnya, masyarakat Indonesia itu sangat ahli melakukan performance, antara persona (kepribadian) front stage dan persona back stage. Di back stage mereka dapat merasakan sedih ataupun perasaan negatif lainnya, akan tetapi pada front stage mereka menampilkan bahwa mereka selalu senang dan tidak ada masalah yang terjadi.

Hal lain yang ia sampaikan adalah tentang faktor pembentuk tekanan individu di masa pandemi ini, yaitu kekhawatiran. Kekhawatiran yang hadir dengan tidak menentu dan tidak diketahui sumbernya dapat menjadi akar dari tekanan yang dapat membahayakan keadaan seseorang.

"Kekhawatiran tersebut bilamana dikenali atau diarahkan ke bentuk proposional dapat membuat seorang individu lebih kuat dan adaptif terhadap perubahan yang mendadak. Orang-orang yang mampu melampui situasi ini adalah orang yang resilien, orang yang memiliki ketangguhan," bebernya.

Lantas, ia memaparkan, dalam situasi ini, resiliensi dimaknai sebagai kemampuan untuk bertahan dalam keadaan sulit serta berusaha untuk belajar dan beradaptasi pada keadaan tersebut, lebih dari itu untuk bangkit menjadi manusia yang lebih kuat, gigih, tangguh dan kreatif.

"Kondisi pandemi dapat dipergunakan oleh pribadi yang sehat secara mental untuk menghadapi tantangan dengan bangkit dan berusaha untuk menjadi diri yang lebih tangguh, tidak mudah menyerah, kuat, tabah, dan juga kreatif mencari solusi atas setiap masalah yang menghampiri," pungkas dia. (H-1)

Baca Juga

Antara/Hafidz Mubarak A

Eks Jubir Pemerintah Untuk Covid-19, Achmad Yurianto Meninggal Dunia

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Sabtu 21 Mei 2022, 20:57 WIB
Wiwid menyebut Ketua Dewan Pengawas BPJS Kesehatan itu meninggal dunia di RSUD Syaiful Anwar,...
Dok. Pribadi

Gelorakan Kesetaraan Dalam Peringatan Hari Kebangkitan Nasional Lewat Pertunjukan

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 21 Mei 2022, 20:30 WIB
Harkitnas bisa dimaknai dengan lebih jauh lagi. Termasuk dalam kesetaraan gender antara pria dan...
Antara/Zabur Karuru.

Lumba-Lumba Cicipi Air Seni Teman untuk Ketahui Kehadiran Mereka

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 21 Mei 2022, 20:30 WIB
Untuk lumba-lumba hidung botol, rasa urine dan bunyi suara yang memungkinkan mereka mengenali teman-teman mereka dari...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya