Rabu 07 April 2021, 22:00 WIB

Kegiatan Seni dan Kebudayaan Butuh Perhatian Pemangku Kepentingan

Mediaindonesia.com | Humaniora
Kegiatan Seni dan Kebudayaan Butuh Perhatian Pemangku Kepentingan

Dok MPR
Lestari Moerdijat

 

DIBUTUHKAN perhatian dari pemangku kepentingan agar para pekerja kreatif bisa memanfaatkan setiap peluang yang mampu mendorong industri kreatif di tanah air tetap survive.

"Membutuhkan kerja-kerja besar dan harus mendapat prioritas tinggi agar peluang yang ada pada industri kreatif bisa dimanfaatkan dengan baik para pekerja seni," kata Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat saat membuka diskusi daring bertema Merumuskan Jalan Kebangkitan Industri Kreatif Pasca Pandemi yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (7/4).

Diskusi yang dimoderatori Luthfi Assyaukanie, Ph.D (Tenaga Ahli Wakil Ketua MPR RI Bidang Penyerapan Aspirasi Masyarakat dan Daerah) itu menghadirkan Wishnutama Kusubandio (Komisaris Utama Telkomsel, Menteri Parekraf 2019-2020), Harry ‘Koko’ Santoso (Promotor Event), Irfan Aulia (Founder Portamento) dan Diana Sastra (Seniman Tradisional Tarling).

Hadir juga Niluh Djelantik (Ketua DPP Partai NasDem Bidang UMKM, Entreprenuer Industri Fashion) dan Ananda Sukarlan (Pianis & Komponis) sebagai penanggap.

Menurut Lestari, saat ini Indonesia belum bisa dikatakan bebas dari pandemi dan masih dalam masa transisi menuju pengendalian penyebaran Covid-19.

Sehingga mobilitas manusia, jelas Rerie, masih harus dibatasi. Akibatnya, pekerja di industri kreatif yang sebagian besar seniman terdampak.

Bukan hanya itu, tegas anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu, dampak pembatasan mobilitas orang ini juga dirasakan masyarakat penikmat seni pertunjukan.

"Jadi, baik seniman dan penontonnya terdampak di masa transisi ini. Ada aspek lain yang hilang dari rutinitas hiburan masyarakat," ujar Rerie.

Karena itu, jelasnya, saat ini harus ada upaya agar di masa transisi ini bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya agar industri kreatif tetap bergeliat dengan tetap menjalankan protokol kesehatan yang ketat.

Menteri Parekraf 2019-2020, Wishnutama Kusubandio berpendapat bahwa industri kreatif di masa pandemi ini sangat lekat dengan ekonomi digital.

Namun, ujar Wishnutama, kita harus memahami bahwa peluang di ekonomi digital ini belum maksimalkan dimanfaatkan.

Sangat disayangkan, jelas Wishnutama, yang mendapatkan keuntungan lebih besar bukan platform-platform dari Indonesia. "Jadi yang paling dapat manfaat dari maraknya digitalisasi ekonomi ini bukan bangsa kita," ujarnya.

Padahal, ujarnya, peluang pendapatan ekonomi digital itu senilai US$155 miliar atau 10% dari GDP Indonesia.

Wishnutama berharap pembangunan ekonomi kreatif harus komperhensif dari berbagai sisi. Untuk mengantisipasi perkembangan ekonomi digital pada masa datang, tegasnya, para pemangku kepentingan harus melalukan persiapan secara matang.

Promotor pertunjukkan, Harry ‘Koko’ Santoso menilai kondisi infrastruktur kesenian Indonesia masih tertinggal dari negara-negara lain.
Gedung-gedung kesenian misalnya, yang layak hanya tersedia di Jakarta.

Akibatnya, jelas Koko, musisi nasional saat ini belum memiliki daya tawar yang cukup untuk bisa dihargai di kancah global.

Untuk bangkit dari kondisi tersebut, menurut Koko, kita perlu sebuah gerakan berskala nasional. Perlu perhatian besar dari para pemangku kepentingan untuk mewujudkan gerakan tersebut.

Seniman tradisional Tarling, Diana Sastra  mengakui kebijakan pembatasan sosial menyebabkan para pekerja seni di daerah terpukul karena tidak bisa sama sekali menjalankan profesinya.

Untuk memanfaatkan media digital, ujar Diana, sebagian pekerja seni di daerah belum memiliki ketrampilan yang memadai.

Menyikapi kondisi tersebut, dalang Warseno, yang hadir sebagai peserta diskusi, berharap pemerintah hadir dalam membantu para pekerja seni untuk mengatasi sejumlah kendala yang dihadapi di masa pendemi ini.

Ketua DPP Partai NasDem Bidang UMKM, Entreprenuer Industri Fashion, Niluh Djelantik berpendapat, usaha mikro kecil dan menengah adalah real ekonomi saat ini. Karena sejumlah acara pertunjukan hilang, jelasnya, berdampak langsung terhadap UMKM.

Niluh menyarankan, perlu kesepakatan sejumlah pihak untuk disiplin menjalankan protokol kesehatan agar kegiatan pertunjukan atau aktivitas seni bisa dilakukan. Dengan begitu, jelasnya, UMKM bisa menggeliat kembali.

Pada kesempatan yang sama, Pianis & Komponis, Ananda Sukarlan yang sedang berada di Labuhan Bajo, mengungkapkan, lemahnya infrastruktur kesenian di Indonesia.
Di Labuhan Bajo, Ananda kesulitan mendapatkan grand piano yang dibutuhkan untuk memproduksi konten kesenian. 

Jurnalis senior Saur Hutabarat menilai urusan kebudayaan di negeri ini memang belum mendapatkan penanganan yang serius dari pemerintah.
Hal itu terlihat dari berpindah-pindahnya posisi Ditjen Kebudayaan pada pemerintahan. Ditjen Kebudayaan pernah di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pernah juga di bawah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan akhirnya dikembalikan lagi di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kenyataan itu, tegas Saur, memperlihatkan negara tidak memiliki kebijakan yang tegas dan jelas terkait pengembangan kebudayaan di masa datang. (OL-8)

Baca Juga

DOK BKHM Kemendikbud

Pelaksanaan PTM Pada Juli Mendatang Diharapkan Berjalan Lancar

👤Syarief Oebaidillah 🕔Senin 19 April 2021, 00:23 WIB
PEMBELAJARAN Tatap Muka (PTM) terbatas yang akan digelar serentak pada Juli 2021 mendatang, diharapkan bisa berjalan...
DOK Polisi Selebriti

Polisi Selebriti Gelar Kak Seto Award 2021

👤Syarief Oebaidillah 🕔Minggu 18 April 2021, 23:40 WIB
Polisi Selebriti menggelar malam puncak penganugerahan Kak Seto Award 2021 dan Pencatat Prestasi Polisi Selebriti, Jumat (16/4) di...
DOK Kemenag

Kasus Paul Zhang, Wamenag Minta Umat Islam Untuk Menahan Diri

👤Widhoroso 🕔Minggu 18 April 2021, 21:54 WIB
UMAT Islam diminta untuk menahan diri terkait penistaan agama yang dilakukan Jozeph Paul Zhang. Hal itu diungkapkan Wakil Menteri Agama...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Jalan Tol dan PKT untuk Ekonomi yang Lebih Baik

Pembangunan jalan tol sejatinya berpengaruh terhadap roda perekonomian bahkan sejak mulai tahap perencanaan.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya