Minggu 28 Februari 2021, 12:18 WIB

KLHK Sebut Bayi Hiu Menyerupai Manusia di Rote Alami Cacat Bawaan

Atalya Puspa, Palce Amalo | Humaniora
KLHK Sebut Bayi Hiu Menyerupai Manusia di Rote Alami Cacat Bawaan

Dok BBKSDA NTT.
Janin hiu yang menyerupai manusia di Rote Ndao NTT

 

BALAI Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT menanggapi informasi yang beredar di masyarakat mengenai adanya temuan bayi hiu yang menyerupai manusia di Rote Ndao, NTT. Mereka pun datang ke tempat kejadian untuk memeriksa keberadaan hiu tersebut.

"Ikan hiu sepanjang sekitar 1,50 meter dibawa ke darat dan ketika dibelah terdapat tiga janin di dalamnya. Dari ketiga janin hiu tersebut salah satunya berwujud menyerupai manusia. Kemudian, janin itu diawetkan dalam wadah kaca berisikan cairan alkohol. Petugas lalu melakukan pengukuran terhadap awetan janin hiu dengan hasil panjang 20 cm dan berat 300 gram,” kata Kepala BBKSDA NTT Timbul Batubara dalam keterangan resmi, Minggu (28/2).

Untuk memastikan, Timbul Batubara menghubungi Dosen dan Peneliti Ikan/ Ichthyologist Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, Charles P.H. Simanjuntak. Setelah membaca dan memperhatikan hasil pengumpulan informasi oleh petugas Resor Kesatuan Wilayah (RKW) Rote, Charles menyimpulkan spesies janin hiu ini adalah Carcharinus melanopterus atau blacktip reef shark.

Spesies ini termasuk kategori rentan dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN). Menurut Charles bayi hiu yang diawetkan masih dalam kondisi janin atau fetus, yang berasal dari dalam tubuh induknya (belum dilahirkan).

Lebih lanjut, di bagian lubang atau bulatan adalah organ mata namun posisinya belum berada pada bagian lateral (sisi tubuh) melainkan ventral (depan).

Baca juga: Ini Negara dengan Serangan Hiu Terbanyak

Mata yang tidak bermigrasi saat pembentukan embrio, yaitu berada pada bagian ventral, mengindikasikan adanya cacat bawaan atau congenital abnormalities.

Penyebabnya ada beberapa faktor baik karena genetik maupun lingkungan. Informasi ini sekaligus mematahkan dugaan kedua lubang adalah hidung.

“Walaupun hiu belum termasuk dilindungi menurut Peraturan Menteri LHK Nomor 106 tahun 2018, namun keberadaannya penting di perairan laut. Posisi hiu dalam rantai makanan adalah sebagai top predator berfungsi untuk mengendalikan jenis-jenis yang dimangsanya. Penurunan populasi hiu dikhawatirkan mengganggu kestabilan ekosistem,” tutur Timbul.

Timbul pun mengimbau kepada masyarakat untuk membatasi konsumsi sirip hiu dan turut melestarikan sumberdaya perairan laut.(OL-5)

Baca Juga

IPB University

Rektor IPB Ungkap Plus Minus Peleburan Kemenristek ke Kemendikbud

👤Faustinus Nua 🕔Minggu 18 April 2021, 08:05 WIB
REKTOR IPB University, Arif Satria mengungkap plus minus penggabungan Kemenristek ke Kemendikbud, sesuai keputusan rapat paripurna...
ANTARA/Ari Bowo Sucipto

Pemerintah Jerman Tawarkan Bantuan untuk Organisasi Budaya

👤Basuki Eka Purnama 🕔Minggu 18 April 2021, 06:56 WIB
Di Indonesia, proses pendaftaran untuk Dana Bantuan Internasional sudah dibuka dan akan berlangsung sampai 7 Mei...
MI/Seno

Zaman Ruwaibidhah

👤Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal 🕔Minggu 18 April 2021, 05:25 WIB
Ciri-ciri orang Ruwaibidhah yang diadopsi generasi penghancur, yaitu merasa sok pintar padahal dungu, tidak mau mendengarkan nasihat dari...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Maksimalkan Target di Ajang Pramusim

EMPAT tim semifinalis Piala Menpora, yakni PSS Sleman, Persib Bandung, Persija Jakarta, dan PSM Makassar, akan memaksimalkan turnamen pramusim sebelum berlanjut ke Liga 1

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya