Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Dee Tuntaskan Manuskrip Lama

Indrastuti
08/1/2021 05:30
Dee Tuntaskan Manuskrip Lama
Penulis Dewi Lestari(Dok. Deelestari.com)

PEKAN lalu, penulis Dewi Lestari atau yang dikenal sebagai Dee mengatakan pada penggemarnya bahwa ia sedang mempersiapkan sebuah karya. “Ada manuskrip yang sejak Oktober sudah nongkrong cantik di meja Batcave, dan dalam beberapa bulan terakhir saya masak bersama-sama dengan editor, desainer, penerbit, dan produser,” kata dia dalam unggahan Instagram-nya.

Ia mengungkapkan, naskah yang berjudul Rapijali tersebut merupakan naskah terlama miliknya. “27 tahun saya berutang pada satu naskah,” ujarnya. Naskah tersebut, imbuhnya, merupakan upaya pertamanya menulis novel saat ia masih remaja. Karya tersebut belum usai dan terbengkalai sekian lama.

Dee mengatakan lega naskah tersebut mendapatkan giliran bersuara setelah tersalip belasan naskah yang ia ciptakan sesudah upaya pertamanya tersebut. “Utang itu kini lunas. Dengan langkah tegap, senyum hangat, dan tangan terentang, ia siap menjumpai pembacanya,” ujarnya.

Penulis Supernova tersebut mengatakan, dengan keterbatasan mobilitas yang terjadi pada masa pandemi, kehadiran bacaan seru yang bisa dinikmati berkala di rumah melalui gawai bisa menjadi hiburan menyenangkan. “Bayangin-nya aja saya hepi!” kata dia.

Serupa dengan karya sebelumnya, Aroma Karsa, karya Dee tersebut akan terbit dalam format cerita bersambung (cerbung) digital dengan menggandeng platform Storial.Co. Ia menjanjikan penyajian dalam bentuk cerbung digital tersebut menjadi pengalaman membaca yang tidak boleh dilewatkan.

“Membaca bareng dalam suasana komunitas, menanti potongan demi potongan cerita layaknya menanti cerbung majalah, saling komen, dan gemes-gemesan... percayalah, it’s one of a kind reading experience!” tandas penulis Perahu Kertas tersebut.


Dokumentasi

Dee mempunyai alasan tersendiri mengapa ia memilih menerbitkan karyanya dalam bentuk cerbung. “Kertas-kertas di atas sangat berharga buat saya. Itulah dokumentasi cerita asli Rapijali (yang dulu berjudul Planet Ping) dari 1993,” tulis dia menyertai unggahan foto sejumlah kertas yang tertata rapi.

Ia menepis bentuk cerbung Rapijali karena ingin mengulang formula karya dia sebelumnya, Aroma Karsa. Menurutnya, bentuk asli Rapijali memanglah cerbung. “Seperti yang saya bilang, cerbung is in my blood, y’all!

Menurut perempuan yang pernah tergabung dalam grup vokal RSD bersama Rida dan Sita tersebut, pengalaman menikmati Rapijali dengan format ideal cerbung hanya bisa terjadi sebelum cerita utuhnya terbit.

“Ini jendela waktu yang terbatas. Jadi, enggak berlebihan kalau dibilang pengalaman membaca cerbung Rapijali tidak akan terulang dua kali. It is truly once a lifetime experience!” tuturnya.

Ia menegaskan, nantinya Rapijali akan diterbitkan dalam bentuk cetak secara utuh. Namun, ia belum mengungkapkan waktu penerbitannya. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya