Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
ADANYA anggapan bahwa anak tidak berisiko terkena covid-19 perlu dikritisi. Beberapa dokter mengakui fakta di lapangan bahwa jumlah keterpaparan anak terhadap virus korona cenderung meningkat.
“Buat orang-orang yang masih menganggap anak-anak enggak mungkin kena covid-19, aku kasih tahu ya sekarang ini dari hasil pemeriksaan swab PCR sudah mulai ada anakanak yang hasilnya positif, dari umur bayi sampai remaja.Makin hari jumlahnya makin meningkat,” tulis dokter spesialis anak dan konselor laktasi dari RS PMI Bogor Fransiska Sri Susanti di akun medsosnya, belum lama ini.
Sejauh ini memang belum pernah ada kasus terkonfirmasi positif covid-19 pada anak yang perlu dirawat di RS tempatnya bekerja. Artinya, sebagian besar mengalami gejala ringan atau bahkan tanpa gejala. Namun, di beberapa rumah sakit lain, ujar Fransiska, sudah banyak dokter yang merawat kasus covid-19 pada anak-anak.
Meski tidak sampai dirawat, dr Fransiska mengingatkan, anak-anak yang terkonfirmasi covid-19 maupun yang tidak terkonfirmasi, akan menjadi carrier atau sumber penularan yang utama kepada anggota keluarga lainnya.
Dokter spesialis anak I Gusti Ayu Nyoman Partiwi dari RSIA Bunda Jakarta mengungkapkan sejak minggu ke empat Desember dan libur tahun baru, ia sering menerima pesan dari orangtua. “Orangtua anak/bayi yg biasa dilayani vaksin ...mulai banyak yang covid!,” tulisnya di akun medsosnya.
Sebelumnya, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aman B Pulungan mengungkapkan 1 dari 9 kasus positif covid-19 di Indonesia ialah anak-anak berusia 0-18 tahun. Kasus kematian anak akibat covid-19 sebesar 3,2% dan itu tertinggi di Asia Pasifi k. Karena itulah, IDAI berkukuh menyatakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) masih yang terbaik dilakukan dalam kondisi saat ini.
Satuan Tugas Penanganan Covid-19 optimistis peran besar para ibu dalam mengedukasi keluarganya untuk menerapkan protokol pencegahan covid-19 dapat mengendalikan penyebaran pandemi. Ia menambahkan, semua anggota keluarga berisiko sama tertular virus SARS-CoV-2, penyebab covid-19.
Nasib SKB
Semakin rentannya anak tertular covid-19 memunculkan sikap IDAI berkukuh menyatakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) masih yang terbaik dilakukan dalam kondisi saat ini.
Menanggapi hal tersebut, Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah (PAUD Dikdasmen), Jumeri, menjelaskan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Semester Genap Tahun Ajaran dan Tahun Akademik 2020/2021 di Masa Pandemi Covid-19 sudah tepat.
“Banyak yang bertanya pada saya, apakah SKB empat menteri tersebut dicabut dengan banyaknya daerah yang menunda pembelajaran tatap muka? SKB itu tidak akan dicabut karena SKB 4 menteri itu memberikan kewenangan kepada daerah. Daerah yang paling tahu bagaimana kondisi covid-19 di daerah masing-masing,” ujar Jumeri, kemarin.
Dia menambahkan, bisa jadi pembukaan sekolah di daerah tidak dilakukan secara serentak, tetapi memprioritaskan pada wilayah yang aman untuk diadakan pembelajaran tatap muka. (Wan/H-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved