Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
SELURUH puskesmas diusulkan menggunakan GeNose, alat deteksi covid-19 melalui embusan napas dari Universitas Gadjah Mada (UGM) karena nilai keekonomian, kepraktisan, dan akurasinya yang mendekati 100%.
Usulan tersebut disampaikan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat mengunjungi UGM di Yogyakarta, kemarin. Pada kesempatan itu Ganjar memesan 100 unit GeNose untuk keperluan pendeteksian covid19 di Jawa Tengah.
“Saya mau beli 100 unit, tapi baru dapat 35 unit, karena baru 10 hari berproduksi, izin edar baru keluar. Saya ke sini untuk melihat seperti apa kondisinya,” kata Ganjar di UGM Science Technopark.
Pada kesempatan tersebut, orang nomor satu di Jateng itu menjajal langsung GeNose. Ganjar mengembuskan napas dan dimasukkan ke kantong plastik khusus yang disiapkan kemudian dimasukkan ke alat GeNose yang terkoneksi dengan laptop.
Dalam hitungan tiga menit saja, hasil tes melalui GeNose sudah keluar dan Ganjar dinyatakan negatif covid19. Menurut Ganjar, GeNose sangat efektif untuk meningkatkan upaya pelacakan covid-19 karena cara kerjanya sangat simpel dan waktu yang dibutuhkan sangat cepat.
“Ini sangat cepat jika dibandingkan dengan tes lain, misalnya PCR. Jadi nantinya laboratorium tidak pusing lagi, masyarakat juga tidak sakit lagi karena harus di-swab, cukup nyebul saja sudah keluar hasilnya,” ujarnya.
Menurut Ganjar, jika semua puskesmas di Indonesia memiliki alat ini, proses tracking akan semakin cepat dan para surveilans yang bekerja di lapangan akan sangat terbantu dalam memutus rantai penyebaran covid-19.
Dukungan untuk pemakaian GeNose juga disampaikan Forum Rektor Indonesia. Terpisah, Ketua Tim Pengembang GeNose, Kuwat Triyono menjawab adanya tudingan oleh pihak-pihak tertentu mengenai kelemahan GeNose. Salah satunya ialah tidak bisa mendeteksi orang yang sesaat sebelum tes mengonsumsi minuman beralkohol, memakan petai, atau merokok.
“Itu bukan kelemahan alat, itu prekondisi pasien. Sama seperti orang uji darah kan dia mesti puasa enam jam begitu,” terang Kuwat. (AT/H-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved