Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

APD dengan Gown Jadi Alternatif

MI
17/12/2020 01:20
APD dengan Gown Jadi Alternatif
Tenaga medis mengenakan alat perlindungan diri (APD)(ANTARA)

TENAGA kesehatan yang merupakan garda terdepan penanganan pasien covid-19 menjadi kelompok yang berisiko tinggi terinfeksi. Mereka selalu berkontak langsung dengan pasien saat memberikan pelayanan kesehatan. Agar terhindar dari virus yang mematikan itu,  perlengkapan alat pelindung diri (APD) wajib dikenakan. Mulai masker, sarung tangan, pelindung mata, hingga jubah yang direkomendasikan WHO dan pemerintah di berbagai negara termasuk Indonesia.

Namun, penggunaan APD seperti hazmat sering menuai polemik. Selain harganya yang cukup mahal dan sulit didapat di daerah pelosok, pakaian ini pun dirasa tidak nyaman. “Kalau kita memakainya di puskesmas terasa nyaman. Namun, saat di lapangan dengan jumlah tracing ratusan, memakai hazmat cukup melelahkan,” tutur dokter Jen Alif Latifah Helmy yang memilih memakai jubah atau gown sederhana untuk menangani pasien covid-19.

Dalam satu seminar, dia mengatakan langkahnya bukan tidak berdasar. Sebagai dokter, dia paham rekomendasi WHO. “Penggunaan APD itu sesuai dengan penilaian risiko. Intinya dalam pikiran saya itu yang terpenting mata, hidung, dan mulut terlindungi,” ucap Kepala Puskesmas Karanggayam 1 itu.

Dokter Jen mengaku, mengenakan hazmat hanya pada awal pandemi, Maret. Lantaran harganya yang cukup mahal dan saat itu hanya bisa untuk sekali pakai, dia pun mencoba mencari alternatif. Gown atau jubah kain menjadi pilihan. Selain murah dan mudah didapat, gown juga terbukti aman bagi dia dan petugas di puskesmas. Meski demikian, Jen menggarisbawahi butuh kewaspadaan standar yang harus dijadikan patokannya. Sering mencuci tangan, memakai masker, dan pelindung mata secara benar untuk mencegah penularan.

Konsultan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) Costy Pandjaitan menegaskan nakes yang melengkapi diri dengan APD tidak perlu khawatir tertular. Justru para nakes seharusnya lebih paham pentingnya mengikuti kewaspadaan standar.

“Kita tahu kewaspadaan standar itu hal sepele, tetapi itu sangat berdampak bisa terjadi infeksi,” tuturnya. Patuh terhadap protokol dalam setiap penanganan pasien menjadi kunci pencegahan infeksi. Hal itu juga menjamin mutu pelayanan kesehatan baik di rumah sakit maupun fasilitas kesehatan lainnya. (Faustinus Nua/H-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya