Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
PEKAN lalu, warganet di jagat maya ramai memperbincangkan soal delirium yang diyakini sebagai gejala baru pada pasien covid-19. Gejala ini disebutsebut lebih sering dialami pasien covid-19 yang sudah berusia lanjut.
Delirium merupakan salah satu gejala komplikasi neurologis yang jarang terjadi, tapi menyebabkan sakit parah hingga mengganggu kejiwaan.
“Pasien covid-19 yang mengalami gangguan pada sistem saraf pusat bisa datang (alami) sakit kepala hebat disertai delirium dan pasien covid-19 bisa menunjukkan gejala gangguan jiwa (psikotik),” kata Dekan FKUI, Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, Senin (14/12).
Pasien dengan delirium biasanya datang dengan gaduh gelisah, bicara meracau, bingung, dan gangguan kesadaran. Menurutnya, ada
tiga hal kenapa pasien tersebut mengalami delirium. Pertama, pasien dengan covid19 bisa mengalami hipoksia (kekurangan oksigen) darah sehingga pengiriman oksigen ke organ di dalam tubuh menjadi terganggu.
“Otak kita sangat sensitif akan kekurangan oksigen menyebabkan pasien mengalami gangguan kesadaran berupa delirium,” ujar Ari.
Faktor kedua, bebernya, berkaitan dengan sindrom badai sitokin akibat infeksi covid-19. “Tubuh akan memproduksi sel-sel radang yang bisa menyebabkan berbagai lanjutan komplikasi seperti terjadinya peningkatan kekentalan darah dan peradangan di berbagai organ termasuk organ otak,” ungkapnya.
Selanjutnya, lanjut Ari, faktor ketiga terjadinya gangguan otak pada delirium ialah kemungkinan virus akan melewati sawar darah otak sehingga menyebabkan kerusakan otak.
“Ini menjadi pengingat bahwa infeksi covid-19 ini menyebabkan berbagai komplikasi termasuk komplikasi ke otak,” seru Ari.
Hal ini juga harus menjadi perhatian bagi para dokter yang bekerja di gawat darurat karena bisa saja pasien datang dengan kondisi bukan karena gejala covid-19 umumnya.
Pravin George, DO, dokter spesialis perawatan neurokritis mengatakan delirium terbagi menjadi dua jenis, hiperaktif dan hipoaktif. Pada delirium hiperaktif, pasien dapat berubah menjadi agresif dan gelisah, terkadang mengalami delusi atau halusinasi.
Sementara itu, delirium hipoaktif diperlihatkan dengan kondisi pasien yang tampak mengantuk, lambat merespons dan menarik diri, serta tidak berkomunikasi dengan orang lain.
Sejauh ini, kata George, obat penenang yang diberikan kepada pasien telah menutupi keberadaan delirium hipoaktif pada beberapa pasien. Namun, gejala delirium hiperaktif seperti halusinasi mulai menjadi perhatian oleh para dokter saat ini. (Wan/Medcom.id/H-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved