Sabtu 12 Desember 2020, 04:55 WIB

Marka DNA untuk Konservasi

( Atalya Puspa/H-2) | Humaniora
Marka DNA untuk Konservasi

Sumber: IUCN/Kementerian LHK/Tim Riset MI-NRC

 

DENGAN luas wilayah sekitar 9 juta km2, Indonesia memiliki kekayaan keanekaragaman hayati fl ora dan fauna sehingga sering disebut sebagai negara mega biodiversity. Ironisnya,
hingga kurun waktu 2009-2018, ada 437 spesies tumbuhan yang kita miliki terancam punah.

Beberapa jenis tumbuhan hutan tropis yang terancam punah, menurut IUCN ( International Union for Conservation of Nature and Natural Resources), ialah aquilaria, shorea, ulin, ramin, eboni, kayu kuku, kayu merah, cendana, dan merbau.

Dari fakta inilah Prof Ris Anthonius Yan Pancratius Bambang Catur Widyatmoko melakukan penelitian yang berfokus pada penggunaan marka DNA untuk konservasi genetik tumbuhan hutan tropis yang terancam punah.

“Kegiatan konservasi genetik tumbuhan hutan memerlukan kontribusi dari genetika molekuler, yaitu bidang genetika yang berhubungan dengan struktur dan aktivitas materi genetik di dalam makhluk hidup, termasuk gen-gen pengatur sifatnya,” ujar peneliti di Bidang Penelitian, Pengembangan, serta Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), saat orasi pengukuhan gelar profesor risetnya di Jakarta, Kamis (3/12).

Ia menerangkan, ada sejumlah metode yang bisa dilakukan dalam mencari informasi genetik tumbuhan hutan melalui berbagai penanda molekuler seperti, isozyme, RFLP (restriction fragment length polymorpism), marka DNA dan sekuensing.

Dari metode-metode itu, imbuh Anthonius, pengembangan marka DNA dan aplikasi genetika molekuler menggunakan marka DNA semakin meningkat untuk berbagai kepentingan, termasuk mendukung kegiatan konservasi genetik.

“Dengan perkembangan marka DNA seperti AFLP (amplifi ed fragment length polymorphism), SSR (simple sequence repeat), dan SNP (single nucleotide polymorphism), studi genetik tumbuhan, seperti taksonomi, struktur genetik populasi, keragaman genetik populasi, sistem perkawinan dan analisis tetua, serta hibridisasi akan semakin mudah,” bebernya.

Dari penelitiannya dengan menggunakan marka DNA, Anthonius menemukan sejumlah hal, antara lain identifi kasi jenis aquilaria dan shorea penghasil tengkawang; dan keragaman genetik sumber benih Gyrinops versteegii di Lombok, cempaka di Sumatra Selatan serta ramin di OKI Sumatra Selatan.

Saat ini, sahut Anthonius, metode marka DNA memang berkontribusi besar dalam konservasi genetik. Namun, di masa depan, perkembangan metode sekuensing jadi asa baru untuk bisa melakukan konservasi genomik yang memberikan ketepatan yang lebih tinggi dari konservasi genetik. ( Atalya Puspa/H-2)

Baca Juga

Dok. Kemenko PMK

Menko PMK Klaim Pelaksanaan Mudik Lebaran Tahun Ini Sukses

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 19 Mei 2022, 23:05 WIB
Muhadjir mengatakan, bukti sukses pelaksanaan mudik 2022 adalah angka kecelakaan telah menurun dibandingkan mudik tahun...
Freepik.com

Hepatitis Akut Merebak, Orangtua Diminta Bawa Anaknya ke Rumah Sakit Jika Alami Gejala

👤Selamat Saragih 🕔Kamis 19 Mei 2022, 22:59 WIB
Anak yang diperiksa kemungkinan akan diminta untuk melakukan kontrol ulang. Saat kontrol ulang, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan...
Frepik.com

Inovasi Deteksi Dini Tingkatkan Cangkupan Skrining Kanker Serviks di Indonesia

👤Faustinus Nua 🕔Kamis 19 Mei 2022, 22:49 WIB
Meski termasuk jenis kanker yang mematikan, ternyata risikonya dapat dicegah dengan pemeriksaan secara terpersonalisasi sejak...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya