Sabtu 05 Desember 2020, 10:05 WIB

Ex-situ Link to In-situ Sukses Naikkan Populasi Curik Bali

Atalya Puspa | Humaniora
Ex-situ Link to In-situ Sukses Naikkan Populasi Curik Bali

Antara
Sepasang burung Curik Bali (leucopsar rothschildi) atau Jalak Bali.

 

POPULASI curik Bali  di kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) mengalami kenaikan. Hasil monitoring terakhir pada November 2020 mendapati jumlah burung curik Bali (jalak Bali) sebanyak 341 ekor, meningkat dari 2019 yang hanya sebanyak 256 ekor. Angka itu pun jauh lebih besar ketimbang baseline data pada 2015 silam sejumlah 57 ekor.

"Beberapa tahun terakhir, populasi di alam menunjukkan peningkatan yang signifikan dan tahun 2020 merupakan jumlah tertinggi berdasarkan catatan populasi mulai dari tahun 1974," sebut Kepala Balai TNBB, Agus Ngurah Krisna saat prosesi penyerahan burung hasil restocking dari penangkar curik Bali dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah, Kamis, 3 Desember 2020.

Agus menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada BKSDA dan Mitra Penangkar yang telah mendukung upaya pelesatrian burung curik bali di alam, melalui restocking. Penangkar memang diminta menyerahkan 10% dari hasil penangkaran sebagai bagian dari restocking.  

"Restocking akan menjadi fresh blood yang membantu menjaga kualitas genetik burung curik bali," kata Agus.

Kepala Sub Bagian TU BKSDA Jawa Tengah, Ilmi Budi Martani mengungkapkan, Jawa Tengah memiliki 366 unit penangkar burung, dengan 268 diantaranya adalah penangkar burung curik bali.

Selain memberikan kontribusi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), katanya, usaha penangkaran mampu menyerap kurang lebih 700 tenaga kerja di luar pihak lain yang terlibat seperti penjual pakan, kandang dan usaha lainnya.

"Komitmen penangkar dalam mendukung kelestarian burung di alam ditunjukkan melalui kesediaan untuk melaksanakan kewajiban restocking di TNBB yang telah dilakukan 3 kali yaitu tahun 2017 sebanyak 24 ekor, tahun 2018 sebanyak 28 ekor dan tahun 2020 sebanyak 55 ekor," terang Ilmi.

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Indra Exploitasia mengapresiasi pencapaian itu. Ini sekaligus membuktikan bahwa strategi ex-situ link to in-situ ini sukses dilakukan dalam upaya meningkatkan populasi berbagai satwa prioritas yang terancam punah di alam.

"Strategi ini memerlukan proses panjang yang dimulai dari keberhasilan menangkarkan burung dan kesediaan untuk menyerahkan 10 persen dari hasil penangkaran sebagai bagian dari restocking," terang Indra. 

Status konservasi Jalak Bali masih masuk dalam Appendix I Cites, namun mendapat identitas dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) bahwa burung hasil penangkaran boleh diperdagangkan. (H-2)

Baca Juga

ANTARA

KRL Yogyakarta-Solo Mulai Uji Coba, Tarif Dipatok Rp8 ribu

👤Insi Nantika Jelita 🕔Kamis 21 Januari 2021, 00:13 WIB
Sama dengan tarif kereta api (KA) Prambanan Ekspress (Prameks) yang selama ini sudah melayani koridor...
Dok. Shafwah Global Utama

Shafwah Holidays Gandeng Santri Kembangkan Wisata Halal

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Rabu 20 Januari 2021, 23:53 WIB
program yang dinamakan Ustadpreneur itu mengajak santri di seluruh Indonesia untuk mengembangkan paket wisata halal melalui...
ANTARA/Nova Wahyudi

BMKG Ingatkan Waspada Hujan Ekstrem Hingga Februari 2021

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 20 Januari 2021, 23:40 WIB
Masyarakat juga diimbau berhati-hati dengan tidak mendekati area kejadian guna menghindari risiko yang lebih...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya