Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Arbain Rambey Jurus Jitu Juarai Lomba Foto

Deden Muhammad Rojani
27/11/2020 02:50
Arbain Rambey Jurus Jitu Juarai Lomba Foto
Jurnalis foto Arbain Rambey(MI/Ramdani)

JURNALIS foto Arbain Rambey, 59, sejak belia menyukai hal-hal yang berkaitan dengan fotografi . Menurutnya, fotografi bukan sekadar memberinya kehidupan, tetapi juga menghubungkan dan menguak sisi-sisi lain kehidupan. 

Hal itu diutarakannya saat menjadi narasumber di program Diksi kanal Youtube Media Indonesia, Selasa (24/11). “Fotografi itu bukan hanya sisi kehidupan, tapi menghubungkan saya dengan sisi kehidupan. Kamera itu bukan hanya sekadar alat kerja, menurut saya itu seperti  temuan manusia yang luar biasa,” tutur pria kelahiran Semarang, 2 Juli 1961 itu.

Berbagai lomba fotografi telah dimenangi Arbain, baik di level nasional maupun luar negeri. Ia pun berbagi formula untuk bisa menjuarai lomba foto.

Arbain menyebutkan tiga kunci yang harus diperhatikan dalam perlombaan, yaitu kategori bagus, indah, dan menarik. Kategori bagus, kata dia, adalah fotografer harus membaca tema dengan baik, foto harus sesuai tema. Semua syarat yang ditentukan panitia harus dipenuhi karena apabila tidak memenuhi syarat, berkas akan dieliminasi sebelum sampai ke juri.

Untuk kategori bagus itu harus sesuai dengan unsur-unsur kesenangan pemilik lomba. Misalnya yang menyelenggarakan perlombaan ialah sebuah merek kamera, imbuh Arbain, maka fotografer harus mencari foto yang menurut merek kamera tersebut bagus, yakni memenuhi unsur-unsur yang diinginkan pemilik lomba tersebut.

“Yang kedua unsur indah. Nah ini spesifik. Juri akan senang, juri itu jurnalis, foto matahari terbit atau tenggelam itu indah, tapi sesuatu yang tidak menarik buat jurnalis,” ungkapnya.

Lantas, ketika sebuah foto itu menarik, artinya foto tersebut tidak basi. Jadi untuk memenangi sebuah lomba, menurut Arbain, pada kategori bagus maka foto harus sesuai tema, foto disebut indah jika jurinya suka, dan foto dianggap menarik jika tidak klise, tidak pernah diulang.

“Hindari karya-karya yang sudah pernah muncul karena idenya sudah tidak segar,” serunya.


Abadi

Petualangan Arbain dengan dunia fotografi dimulai pada 1974. Arbain yang saat itu masih duduk di kelas 1 SMP sudah mampu mencuci cetak foto. Meski sudah bisa mencetak foto, Arbain belum pernah memotret.

Pada 17 Agustus 1977, berbekal kamera pinjaman, itulah kali pertama Arbain memotret. Setelah itu, pada 1978 ia membeli kamera Ricoh 500GX.

Kamera itulah yang menemani petualangannya bersama seorang kawan naik sepeda motor dari Jakarta ke Larantuka, Nusa Tenggara Timur, pergi-pulang selama 26 hari.

Pada 1 Mei 1990, alumnus Institut Teknologi Bandung itu mengawali kariernya sebagai reporter di Kompas, lalu beralih jadi wartawan foto dengan kode Arb. Selama 10 tahun pria berdarah Batak ini mengasuh rubrik tetap ‘Klinik Fotografi Kompas’.

Pada 31 Oktober 2019 Arbain memasuki masa pensiun. Namun, dengan semua pencapaiannya, Arbain merasa belum mencapai garis finis. Ia pun terus berkarya melalui dunia fotografi selama waktu dan lensa mengizinkannya merekam.

Dia berkeyakinan bahwa foto merupakan alat perekam yang bisa mengabadikan perjalanan sejarah manusia. Menurutnya, di era sekarang ini semua orang sudah bisa mengabadikan semua momen yang terjadi di sekitarnya.

“Bersiaplah untuk merekam kapan pun, di mana pun, karena rekaman yang tampaknya mungkin sederhana sekarang, itu 10 tahun kemudian bisa sangat berharga,” ujar peraih Lifetime Achievement Award pada ajang Anugerah Pewarta Foto Indonesia 2019 itu. (H-2)
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya