Rabu 21 Oktober 2020, 10:18 WIB

BATAN Kembangkan Radioisotop dan Radiofarmaka untuk Kesehatan

Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora
BATAN Kembangkan Radioisotop dan Radiofarmaka untuk Kesehatan

ANTARA/Muhammad Iqbal
Ilmuwan nuklir menggunakan manipulator tengah memproduksi Radioisotop dan Radiofarmaka di ruang Hotcell milik BATAN Puspiptek Serpong.

 

KEPALA Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Anhar Riza Antariksawan mengatakan, saat ini, Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR) BATAN mendapat penugasan dari pemerintah sebagai koordinator kegiatan prioritas riset nasional (PRN) dalam pengembangan produksi radioisotop dan radiofarmaka.

Kebutuhan dalam negeri terhadap radioisotop dan radiofarmaka, saat ini, terus meningkat seiring dengan berkembangnya pemanfaatan iptek nuklir di berbagai bidang, khususnya di bidang kesehatan.

Namun, produk radioisotop dan radiofarmaka di Indonesia masih didominasi produk impor.

Baca juga: Ilmuwan Ingatkan Soal Adanya Keraguan Publik pada Vaksin Covid-19

“Selama ini, pasokan radioisotop dan radiofarmaka di dalam negeri dipenuhi produk impor yang mencapai hingga di atas 90%. Padahal Indonesia mempunyai reaktor riset yang dapat digunakan untuk memproduksi radioisotop dan radiofarmaka,” kata Anhar dalam pernyataan tertulis, Rabu (21/10).

Anhar menambahkan, dalam kegiatan itu, PTRR menggandeng beberapa stakeholder di antaranya PT Kimia Farma, LIPI, BPPT, BPOM, Bapeten, dan Universitas Padjajaran.

Targetnya adalah memproduksi radioisotop dan radiofarmaka untuk penanganan penyakit kanker, baik untuk diagnosa maupun terapi yang banyak dibutuhkan di dalam negeri.

Kepala PTRR Rohadi Awaludin menjelaskan kegiatan pengembangan produksi radioisotop dan radiofarmaka ini akan difokuskan pada tiga produk yang sangat dibutuhkan masyarakat, yaitu Generator Mo-99/Tc-99m, Radiofarmaka berbasis PSMA (prostate specific membrane antigen) atau Lu-177-PSMA, dan Kit radiofarmaka Nanokoloid HSA.

Tc-99m banyak digunakan untuk diagnosa penyakit kanker, jantung, dan ginjal. Produk Lu-177-PSMA selain untuk diagnosa dan terapi prostat, hasil pencitraan sebaran radiofarmakanya dapat digunakan pula untuk mengetahui status terakhir sebaran kanker yang ada di dalam tubuh.

Sedangkan Kit radiofarmaka nanokoloid HSA berguna untuk mendiagnosa sebaran kanker ke kelenjar limfa (limfoscintigrafi), khususnya sebaran dari kanker payudara.

“Ketiga produk ini diharapkan dapat mensubstitusi impor luar negeri, bahkan produk Radiofarmaka berbasis PSMA saat ini mulai banyak digunakan di luar negeri dan ini mempunyai potensi penggunaan yang sangat tinggi di dalam negeri,” kata Rohadi.

Rohadi menambahkan, tahapan kegiatan PRN dalam menghasilkan radioisotop dan radiofarmaka yang harus dilalui antara lain sintesis dan preparasi, peningkatan kapasitas produksi, uji praklinis jika diperlukan, dan uji klinis.

Menurutnya, tidak semua produk radioisotop dan radiofarmaka memerlukan uji pra klinis karena merupakan hasil dari inovasi proses.

“Produk hasil inovasi proses merupakan substitusi produk impor yang telah ada selama ini sehingga tidak memerlukan uji praklinis secara lengkap, yang diperlukan adalah uji kesetaraan dengan produk yang telah digunakan selama ini,” tambahnya.

Kegiatan pengembangan produksi radioisotop dan radiofarmaka di tahun ini secara umum telah mencapai tahap sintesis dan preparasi. Sintesis dan preparasi radioisotop dan radiofarmaka dalam skala kecil telah berhasil dibuat di laboratorium.

“Tahun 2021 diharapkan skala pembuatan dapat ditingkatkan (peningkatan kapasitas) sampai skala dapat digunakan. Selanjutnya dilakukan serangkaian pengujian untuk memastikan dapat digunakan untuk pasien,” jelasnya.

Untuk produk Generator Mo-99/Tc-99m, pada 2020, telah berhasil dibuat dalam skala laboratorium dan di akhir tahun ini generator secara utuh dapat diselesaikan.

Tahun 2021 akan mulai dilakukan serangkaian pengujian untuk memastikan bahwa generator tersebut aman diangkut dan digunakan di rumah sakit.

Lu-177-PSMA tahun 2020 telah berhasil disintesis dalam skala kecil (puluhan mCi). Kemurnian radiokimia telah memenuhi persyaratan yaitu lebih dari 95%. Namun, masih perlu dipastikan dari sisi stabilitasnya dalam berbagai media dan berbagai suhu.

“Sedangkan produk Nanokoloid HSA pada tahun 2020 telah berhasil dilakukan sintensis dan preparasi. Hasil sintesis dan preparasi non steril skala kecil telah berhasil diperoleh sesuai dengan persyaratan yaitu kurang dari 100 nm dan kemurnian radiokimia hasil penandaan dengan Tc-99m lebih dari 90%,” pungkasnya. (OL-1)

Baca Juga

Dok. Kemdikbud.go.id

Perhatian Pemerintah untuk Tunjangan Guru dalam RUU Sisdiknas Dinilai Tepat

👤Faustinus Nua 🕔Minggu 25 September 2022, 12:43 WIB
"Malah kiranya aturan tunjangan kesejahteraan guru adalah paling cocok dengan situasi sekarang ini yang akan dilakukan dengan...
Ist

Eski Ingin Jadikan Indonesia Jadi Negara Mainstream Industri Fesyen

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 25 September 2022, 12:43 WIB
Menurut Eski season kali ini begitu spesial dengan come back-nya fashion designer dan brand Indonesia ke panggung resmi dari event...
Freepik

Demensia Juga Bisa Dialami Kaum Muda Lho, Ini Faktor Risiko dan Cara Mencegahnya

👤Basuki Eka Purnama 🕔Minggu 25 September 2022, 11:45 WIB
"Beberapa gaya hidup yang dapat memicu lahirnya demensia alzheimer lebih dini antara lain kurang olahraga, kebiasaan minum alkohol,...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya