Headline
Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.
Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.
Kumpulan Berita DPR RI
PENDIDIKAN di Indonesia membutuhkan peta jalan yang jelas dan visoner yang dikaitkan dengan visi negara. Hal ini diperlukan agar tujuan pendidikan Indonesia ke depan menjadi lebih terarah.
“Peta jalan saat ini memang belum mengkaitkan antara pendidikan dengan visi negara. Kalau di Orde Baru kan sudah visinya tinggal landas pembangunan ekonomi, pendidikan ikut pada visi negara. Oleh karena itu, sebelum membuat peta jalan, visi negara setiap lima tahun harus sudah dirumuskan,” kata Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Sugiyono dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi X DPR RI, kemarin.
Dijelaskan, dalam perencanaan pendidikan perlu dilakukan pendekatan pada empat aspek yaitu berorientasi pada masyarakat, manpower planning atau perencanaan tenaga kerja, rate of return atau laju pengembalian, dan efektivitas anggaran.
Menurut Sugiyono sudah seharusnya pendidikan dibangun untuk menghasilkan tenaga kerja yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Kemudian negara juga perlu memperhatikan untung rugi dalam penyelenggaraan pendidikan, sehingga modal yang disiapkan juga memiliki target yang akan dicapai dalam beberapa tahun ke depan.
Bagi negara dengan anggaran pendidikan yang terbatas, perlu dirancang pula mana saja hal-hal yang paling mendesak sehingga program yang dijalankan lebih terarah.
Sugiyono juga mengkritisi rencana peta jalan pendidikan yang dirancang Kemendikbud saat ini. Menurutnya, visi dan kegiatan dalam peta jalan hanya cocok diterapkan bagi masyarakat kota. Dia pun menilai, Kemendikbud perlu merancang pendidikan multikultural yang disesuaikan dengan pemahaman, pengetahuan, dan keyakinan bangsa yang sangat
bervariasi.
Dalam kesempatan yang sama, futurologi pendidikan Badri Munir Sukoco menuturkan, link and match atau keselarasan pada dunia pendidikan selalu menjadi masalah dasar bagi pendidikan di Indonesia. Lulusan perguruan tinggi masih banyak yang tidak sesuai dengan kebutuhan industri.
PTS ilegal
Salah satu kendala untuk meningkatkan mutu pendidikan di Tanah Air ialah masih maraknya perguruan tinggi swasta (PTS) abal-abal (ilegal) beroperasi di sejumlah daerah.
Hal itu diungkapkan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah III DKI Jakarta yang mengaku tengah melakukan pembenahan atas keberadaan PTS abal-abal yang masih menjamur di wilayahnya.
“Itu harus dilakukan agar masyarakat tidak dirugikan. Kami telah me-monitoring dan mengevaluasi pada sejumlah PTS yang kami nilai bermasalah,” ujar Kepala LL Dikti Wilayah III
DKI Jakarta, Agus Setyo Budi di Jakarta, kemarin.
Dari hasil monitoring tersebut, LL Dikti telah menyerahkan sejumlah PTS yang dinilai bermasalah ke Ditjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud untuk ditutup.
Saat dikonfi masi Dirjen Dikti Kemendikbud, Nizam mengatakan pihaknya sangat ingin PTS menjadi perguruan tinggi yang berkualitas. “Kasihan mahasiswanya jika ternyata perguruan tingginya tidak bermutu.” (Bay/H-1)
TIDAK semua keberangkatan dimulai dengan surat tugas. Sebagian justru lahir dari sesuatu yang lebih sunyi, dari panggilan hati yang tidak bisa ditunda.
SEMBILAN puluh hari setelah banjir melanda Aceh, beberapa anak kembali duduk di bawah tenda biru yang difungsikan sebagai ruang kelas darurat.
Penundaan ini murni merupakan langkah taktis untuk menjaga stabilitas anggaran di tengah pemotongan dana transfer dari pusat.
PENDIDIKAN bermutu tidak pernah lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh dari tangan-tangan guru yang bekerja dengan dedikasi, ketenangan batin, dan rasa aman dalam menjalani profesinya.
DALAM dunia yang kian terhubung dan kompleks, keberagaman bukan lagi sekadar realitas sosial, melainkan juga sebuah keniscayaan historis dan antropologis.
Peran guru BK dan kepala sekolah sangat krusial dalam membantu siswa menentukan arah studi serta karier masa depan mereka.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved