Senin 17 Agustus 2020, 12:20 WIB

Epidemolog: Belajar Tatap Muka Berpotensi Timbulkan Klaster Baru

Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora
Epidemolog: Belajar Tatap Muka Berpotensi Timbulkan Klaster Baru

Antara/ Raisan Al Faris
Siswa Ibtidaiyah mengikuti kegiatan belajar mengajar di Sekolah Satu Atap Ibnu Aqil Ibnu Sina di Soreang, Kabupaten Bandung

 

Epidemiolog Universitas Gadjah Mada Bayu Satria menilai pembukaan sekolah di tengah pandemi covid-19 masih berisiko memunculkan klaster-klaster baru penularan covid-19. Menurutnya, pembukaan sekolah tatap muka baik di zona hijau maupun kuning perlu melalui proses asesmen yang menyeluruh.

Asesmen dilakukan mulai dari kesiapan daerah hingga sekolah masing-masing terkait dengan protokol kesehatan. "Misalnya, terkait desain kelas, bagaimana proses siswa datang, pengawasan penggunaan masker, mencuci tangan, menjaga jarak hingga skenario seperti apa yang akan dijalankan jika ada yang terkonfirmasi positif," kata Bayu dalam pernyataan tertulis, Senin (17/8).

Sekolah tatap muka, imbuhnya, memiliki beberapa faktor risiko penularan karena ada kesulitan pengaturan jarak. "Kesulitan lainnya terkait ruang tertutup, waktu yang lama, serta interaksi antarorang secara dekat, terutama pada anak-anak kecil. Oleh karena itu, jika tidak dilakukan dengan baik dan benar bahkan di zona hijau maka bisa jadi sumber penularan baru," tambahnya.

Baca juga: JK Optimistis Indonesia Bisa Kendalikan Covid-19

Bayu menyebutkan, pihak sekolah harus bisa memastikan pelaksanaan protokol kesehatan berjalan dengan ketat jika akan menyelenggarakan sekolah tatap muka. Salah satunya memastikan siswa yang datang benar-benar sehat, tidak ada gejala dan menjadi kontak dari kasus positif covid-19.

"Ini perlu kerja sama dengan pihak Dinkes untuk verifikasi serta kejujuran orang tua siswa," tegas Bayu.

Oleh karena itu, menurutnya, perlu dilakukan pembatasan jumlah siswa di dalam kelas, pengurangan waktu tatap muka, pengaturan ventilasi yang baik, pengaturan kursi serta pembatasan interaksi di luar kelas. Kemudian pengawasan ketat terhadap pemakaian masker melalui edukasi ke siswa baik dari orang tua maupun guru, serta adanya ketegasan jika ada yang melanggar.

"Kantin seyogyanya didesain sesuai protokol kesehatan. Tidak lupa asesmen dari pihak eksternal sekolah untuk melakukan pengecekan apakah sudah siap buka atau belum," imbuh Bayu.

Kendati begitu, dia menyebutkan saat ini kegiatan pembelajaran sebaiknya dititikberatkan dilakukan secara daring dengan kerja sama yang baik antara sekolah dan orang tua. "Sebab pembelajaran daring pun akan percuma jika anak-anak di melakukan PJJ, tapi tetap bermain dengan temannya di sekitar rumah tanpa memakai masker," jelas Bayu. (OL-14)

 

Baca Juga

Medcom.id

Doni Monardo Jalani Isolasi Mandiri

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 23 Januari 2021, 16:00 WIB
Doni dan seluruh staf yang mendampinginya selama kunjungan kerja di Sulawesi Barat dan Kalimantan Selatan juga menjalani tes PCR. Hasilnya,...
ANTARA/PUSPA PERWITASARI

Doni Monardo Menduga Terpapar Covid-19 Saat Makan Bersama

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 23 Januari 2021, 15:45 WIB
Selama seminggu memimpin langsung penanganan bencana di Sulawesi Barat dan Kalimantan Selatan ada beberapa momen Doni harus melepas masker...
ANTARA/ M Agung Rajasa

Vent-I, Tak Sekadar Alat Tapi Juga Perjuangan Kemanusiaan

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Sabtu 23 Januari 2021, 15:35 WIB
Dalam prosesnya, butuh waktu 1 bulan untuk bisa lulus uji alat ventilator tersebut. Mulai dari uji ketahanan, keamanan, dan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya