Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTUR Lembaga Biologi Molekular Eijkman, Amin Soebandrio mengatakan Indonesia telah menjalani proses uji klinis fase III vaksin Covid-19 dari Sinovac. Namun, Indonesia sendiri terlambat 4 bulan dari negara lainnya.
"Harus diakui memang, kita start-nya 4 bulan terlambat dari negara lain. Kalau kita lihat Tiongkok dan negara lainnya itu Januari sudah bergerak. Kita baru diberi 'perintah' Maret dan kemudian April praktis baru kita mulai. Ya memang terlambat 4 bulan, jadi mudah-mudahan kita bisa mengejar itu," kata prof Amin dalam diskusi daring bertema menanti vaksin Covid-19, di Jakarta, Sabtu, (15/8).
Prof Amin menjelaskan pengembangan vaksin dalam negeri yang terlambat 4 bulan ini bisa diantispasi dengan pengembangan vaksin dari luar negeri. Hal itu mengingat vaksin tersebut memenuhi syarat yang sudah ditetapkan, antara lain uji klinis, dan seusai industri di Indonesia.
"Uji klinis ketiga ini upaya untuk memastikan vaksin efektif dan aman," sebutnya.
Terkait vaksin merah putih, Prof Amin menekankan yang terpenting ialah kemampuan anak bangsa yang dalam membuat vaksin. Apalagi nantinya vaksin ini diharapkan memenuhi 50% dari kebutuhan pasien di Indonesia.
Indonesia memiliki kemampuan dan kapasitas yang mumpuni untuk mengembangkan vaksin yang dibutuhkan. Menurutnya, Eijkman akan memimpin konsorsium yang akan mengakomodasi sejumlah peneliti vaksin.
"Alhamdulillah progresnya masih sesuai dengan jadwal yang kita buat, Insya Allah hasil pengembangan kami bisa diterima Bu Neni (Bio Farma). Jadi Bulan Februari atau Maret sehingga nanti bisa dilakukan uji klinik seperti apa yang dilakukan semua vaksin yang mau digunakan di Indonesia," terang Prof Amin.
Baca juga: Inggris Beli Vaksin Covid-19 Produksi J&J dan Novavax Inc
Secara garis besar, tahapan yang sedang dilakukan pihaknya, yakni skala laboratorium dan industri. Sebut Prof Amin, tugas Eijkman dalam skala laboratorium sampai dengan bibit vaksin. Sebab, untuk uji klinis vaksin harus siapkan agar bisa diberikan kepada manusia.
"Untuk yang disuntikkan kepada manusia betul-betul harus disiapkan dengan baik, industri harus memiliki fasilitas Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). Oleh karena itu, kita siapkan betul di laboratorium sampai dengan siap untuk dialihkan ke skala industri," lanjutnya.
Prof Amin menambahkan koordinasi dengan produsen swasta juga telah dilakukan agar bila vaksin yang tengah dikembangkan berhasil, kemudian segera diproduksi massal untuk kebutuhan masyarakat luas
"Kami juga sudah kontak dengan beberapa institusi khususnya sejak bulan Januari awal ketika waktu itu belum dimulai pandemi. Tapi dimulai kasus-kasus ini yang sudah mencurigakan kami sudah berbicara pimpinan Bio Farma untuk ayo kita bikin vaksin untuk Covid-19," terangnya.
Meski masa edar vaksin buatan Eijkman akan membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan vaksin Sinovac. Dia yakin nantinya vaksin itu dapat menjadi jawaban bagi masyarakat sebagai alternatif pengobatan guna menangkal Covid-19.
"Kita harus memastikan produksi apapun yang diberikan masyarakat harus sudah terbukti aman dan bermanfaat. Kita mengikuti proses, walaupun proses ini diperpendek, karena kalau kita lihat pengalaman vaksin lalu, skala laboratoriumnya ada yang sampai 10 tahun, kita upayakan secepat mungkin sehingga 1 tahun selesai dan berikutnya dipakai untuk uji klinik," pungkasnya. (A-2)
Riset terbaru menunjukkan vaksin Covid-19 berbasis mRNA seperti Pfizer dan Moderna dapat memicu sistem imun melawan sel kanker.
DUA tenaga kesehatan menerima vaksin Covid-19 di hari yang sama, pola respons antibodi setiap orang ternyata berbeda-beda menentukan berapa lama perlindungan vaksin bertahan
Pengurus IDI, Iqbal Mochtar menilai bahwa kekhawatiran masyarakat terhadap vaksin berbasis Messenger Ribonucleic Acid (mRNA) untuk covid-19 merupakan hal yang wajar.
Menteri Kesahatan AS Robert F. Kennedy Jr. membuat gebrakan besar dengan mencabut kontrak dan membatalkan pendanaan proyek vaksin berbasis teknologi mRNA, termasuk untuk covid-19.
Sejalan dengan penjelasan Kementerian Kesehatan yang menyebutkan vaksinasi booster covid-19 tetap direkomendasikan.
Pemakaian masker, khususnya di tengah kerumunan mungkin dapat dijadikan kebiasaan yang diajarkan kepada anak-anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved