Headline

Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.

Prisia Nasution Pengalaman Berharga dari Film

Atalya Puspa
04/7/2020 04:25
Prisia Nasution Pengalaman Berharga dari Film
Aktris Prisia Nasution(MI/Sumaryanto Bronto)

AKTRIS Prisia Nasution, 36, mengungkapkan pengalaman sangat berkesan ia dapatkan ketika menjadi pemeran utama dalam film Sokola Rimba dan Sang Penari yang diangkat dari novel Ronggeng Dukuh Paruk.

Kedua film tersebut mengangkat kearifan lokal budaya Indonesia. Agar bisa mendalami karakter Srintil dalam film Sang Penari, Prisia melakukan pendekatan budaya dengan mempelajari kehidupan penari di Banyumas.

“Aku pelajari bagaimana caranya mereka berinteraksi satu sama lain, cara mereka makan, mereka duduk pun beda. Jadi justru pas aku ke Banyumas sudah bawa bekal waktu masih di Jakarta, dan mencoba terapkan di sana. Tapi pastinya banyak serapan juga yang diambil dari lokal,” kata Prisia Nasution dalam Ngobrol Daring bersama Studio PFN dan Medcom.id, Kamis (2/7).

Pendekatan budaya untuk peran Srintil di Sang Penari diakui membutuhkan waktu kurang lebih setahun. Prisia yang tak memiliki latar belakang budaya Jawa menggabungkan idenya tentang Srintil dengan Ifa Isfansyah, sutradara Sang Penari yang memang memiliki latar belakang budaya Jawa.

“Aku berusaha bagaimana caranya kami membentuk karakter Srintil dari dua kepala ini jadi satu. Di kepala Mas Ifa Srintil seperti ini, di kepalaku Srintil seperti ini, akhirnya nyambung,” jelas Prisia. 

Usahanya tak sia-sia. Sang Penari mengantarkannya mendapatkan Piala Citra untuk pemeran utama wanita terbaik. Berbeda dengan saat akan berperan sebagai Butet Manurung dalam film Sokola Rimba di wilayah Jambi.

Prisia Nasution meminta waktu dua minggu lebih awal kepada sutradara Riri Riza untuk berkenalan dengan anak-anak lokal dari suku Anak Dalam. Ia mengatakan cukup sulit untuk menjelaskan proses syuting fi lm kepada anak-anak di Sokola Rimba yang tak bersentuhan dengan teknologi.

“Untuk masuknya saja susah, bukan cuma lokasi, untuk masuk ke hati anak-anak Rimba juga susah karena mereka sering sakit hati juga sama orang luar. Orang kita yang sudah berbajulah, sering dianggap bodoh, sering dikerjai, dijahati, jadi mereka sendiri perlu waktu untuk menerima kita,” jelas Prisia.

“Aku bilang sama Mas Riri, boleh enggak aku datang dua minggu sebelumnya karena aku mau interaksi langsung sama mereka, mau belajar bahasa langsung sama mereka supaya ketika kami bisa hidup bareng, aku makan apa yang mereka makan,” kata Prisia.

“Mereka bisa sepercaya itu juga sama aku, semoga pada saat kami interaksi benar-benar enggak ada lagi border antara orang kota yang pura-pura jadi bu guru, enggak ada yang purapura jadi murid,” lanjutnya.


Emosional

Prisia pun memuji akting para anak-anak Sokola Rimba. Mereka merespons natural tanpa referensi menonton televisi atau medium apa pun. “Benar-benar mereka memakai ‘rasa’ mereka,” kata Prisia.

Hal lain yang mengharukan ialah ketika Prisia yang sudah terikat secara batin dengan anak-anak Sokola Rimba harus berpisah karena proses syuting sudah selesai. Anak-anak Sokola Rimba merasa sudah terikat sehingga merasa emosional ketika mengetahui profesi Prisia dan harus pergi dari Sokola Rimba yang berlokasi di dekat sungai Makekal di wilayah konservasi Taman Nasional Bukit Duabelas.

“Untuk masuk saja diterima sebagai warga lokal berat. Ketika sudah masuk, lagi dekatdekatnya harus cabut, justru bagian-bagian itu yang seru, tapi kadang-kadang berat juga,” terang Prisia. (Medcom.id/H-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya