Headline

Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.

Kehamilan dengan Gangguan Tiroid

Atalya Puspa
24/6/2020 02:35
Kehamilan dengan Gangguan Tiroid
(Sumber: Kementerian Kesehatan/Pita tosca/Hello Sehat/Tim Riset MI-NRC/Grafis: Seno)

HATI Sri Rahayu sontak hancur saat mengetahui putra pertamanya, Faiz Sofyan Nurrahman, lahir dengan sejumlah cacat bawaan.

Anaknya mengalami down syndrome, kelainan jantung, hipoteroid kongenital, dan infeksi torch (toksoplasma, rubela, sitomegalovirus, dan herpes). Sri merasa tidak ada gangguan kehamilan yang berarti selama mengandung Faiz.

Dokter pun melakukan tes dan menemukan cacat bawaan sang anak karena kurangnya hormon tiroid yang berfungsi untuk membentuk syaraf, otak, dan kognitif di masa kandungan.

“Saya rasa tak satu pun ibu yang dapat mendengar semua itu dengan hati bahagia. Saya benar-benar hancur. Seperti tidak ada semangat hidup,” tutur Sri saat mengisahkan pengalamannya di Instagram komunitas pejuang tiroid Indonesia @pitatosca.

Kini, Faiz sudah berusia 2 tahun 4 bulan, bertahan hidup dengan menjalani semua pengobatan untuk penyakit yang diidapnya. Dari situ Sri belajar bahwa screening kehamilan merupakan hal penting. Pejuang tiroid lainnya, Awiddah, yang mengidap hipertiroid sejak usia muda dan rutin mengonsumsi obat setiap hari, harus melalui kehamilannya dengan hati-hati dan tak lepas dari pantauan dokter.

“Begitu anak lahir harus screen tiroid. Hasilnya, anak saya mengalami hipertiroid. Tapi, setelah 4 bulan pengobatan, hasilnya hormon tiroid anak saya kembali normal,” kata Awiddah yang tengah hamil anak kedua.


Kabar baik

Tiroid merupakan kelenjar endokrin berbentuk kupukupu yang terletak pada bagian depan leher di bawah jakun dan berperan penting mengatur metabolisme tubuh. Perempuan lebih banyak menderita penyakit ini dibanding laki-laki karena hormon tiroid terkait erat dengan hormon estrogen.

“Gejala gangguan tiroid, jarak menstruasinya lama, lebih dari 35 hari. Menstruasi tidak teratur atau pendarahan vagina. Itu salah satu tanda hipotiroid atau hipertiroid,” terang dokter spesialis obgyn dari Rumah Sakit St Carolus Noviani Sugiarto.

Kabar baiknya, sebut Noviani, tiroid ini paling mudah diatasi dibanding masalah infertilitas lainnya. Tinggal rutin konsumsi obatnya teratur sampai target tercapai, 3 bulan sekali dikontrol. Nanti akan ovulasi dan akan hamil. 

“Setelah hamil, juga tetap konsumsi obat sesuai dengan anjuran,” paparnya.

Bila tidak dikontrol, Noviani mengatakan gangguan tiroid bisa menyebabkan komplikasi kehamilan, seperti keguguran, lahir prematur, kematian janin, dan permasalahan janin saat kehamilan.

“Pasalnya, 12-14 minggu pertama janin tidak bisa membentuk hormon tiroid. Jadi itu bergantung pada ibunya. Itu penting untuk perkembangan syaraf, otak, dan kognitif. Penting kita melakukan perencanaan promil dan cek sedini mungkin untuk mengontrol hormon tiroidnya,” kata Noviani.

Menurutnya, peluang keberhasilan dalam program kehamilan lebih tinggi kalau TSH ( thyroid stimulating hormone) dan FT4 (salah satu hormon tiroid) di bawah 2,5. Target itu bisa dicapai dengan rutin minum obat dan menerapkan pola hidup sehat. (H-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya