Headline
RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.
RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGGUNAAN gawai selama tiga bulan sejak kebijakan bekerja di rumah (work from home/WFH) dan belajar di rumah diterapkan telah menyebabkan sejumlah gangguan kesehatan. Nyeri pada leher merupakan kasus terbanyak yang dikeluhkan.
Temuan itu diperoleh dari hasil survei tim peneliti dari Prodi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) yang dipaparkan kemarin.
“Keluhan paling banyak dirasakan responden pada area leher. Keluhan kedua paling banyak di area bahu kanan dan kiri, punggung bawah dan atas, serta di pergelangan tangan,” jelas Ketua Departemen K3 FKM UI Indri Hapsari Susilowati dalam webinar bertajuk Dampak Kesehatan akibat Postur Tubuh yang tidak Ergonomis selama Masa WFH, kemarin.
Survei terhadap 1.082 responden dari sivitas akademika UI itu dilakukan secara daring. Lebih dari 90% mahasiswa menggunakan ponsel dalam posisi berbaring atau merebahkan diri. Di kalangan dosen justru sebaliknya. Beraktivitas dengan ponsel dalam kondisi duduk berhadapan dengan meja kerja paling banyak dilakukan.
Sementara itu, saat menggunakan laptop, baik mahasiswa, dosen, maupun tenaga pendidikan memilih duduk berhadapan dengan meja. Dari kacamata ergonomi, ungkap medical doctor Qatar Petroleum yang juga diaspora FKM UI dokter Iqbal Mochtar, laptop memang tidak kompatibel dengan biomekanika manusia.
Ia menegaskan laptop tidak didesain untuk penggunaan jangka panjang sehingga kesalahan postur seperti sambil berbaring dan menaruh di atas paha jelas menimbulkan berbagai efek gangguan kesehatan.
“Antara lain cedera regangan berulang, repetitive strain injury; mati rasa dan kesemutan, carpal tunnel syndrome; mata lelah, eye strain; kecanduan internet; gangguan tidur; serta stres dan depresi,” sebutnya.
Aturan 20-20
Untuk mencegah nyeri berkembang menjadi serius, Indri pun memberikan sejumlah panduan. Bekerja di depan laptop sebaiknya diatur dengan ketinggian yang disesuaikan sehingga badan tidak membungkuk.
Lalu, atur durasi waktu dengan aturan 20-20, yaitu lakukan aktivitas 20 menit di depan laptop kemudian istirahat selama 20 detik dengan melihat searah 20 kaki atau sekitar 6 meter dari posisi duduk.
Dari penelitian itu, kata Indri, UI berencana membuat aplikasi posture scanner detection untuk memberi peringatan dini saat beraktivitas dengan gawai.
“Dalam interval tertentu (aplikasi) akan mengecek dan kalau posturnya statis dalam jangka waktu tertentu, akan diberikan alarm peringatan bahwa posturnya statis terlalu lama. Kemudian, akan diinformasikan juga risikonya. Misalnya lehernya membungkuk lebih dari 30 derajat, artinya beban di leher sekitar 18 kilogram yang diterima leher kita,” terang Indri. (H-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved