Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Pastikan Sistem Belajar pada Tahun Ajaran Baru

Atikah Ismah Winahyu
13/6/2020 00:35
Pastikan Sistem Belajar pada Tahun Ajaran Baru
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat(MI/M. Irfan)

PEMERINTAH dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) diminta agar segera memberikan kepastian metode pembelajaran pada tahun ajaran baru 2020/2021 yang akan dimulai dalam waktu dekat. Dengan begitu, pihak sekolah, orangtua, dan siswa dapat mempersiapkan diri.

Permintaan itu dikemukakan Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, kemarin. Selain itu, pemerintah juga diminta untuk mengevaluasi sistem belajar jarak jauh yang diterapkan selama masa pandemi.

Hasil evaluasi bisa jadi dasar dalam menentukan pola pembelajaran yang efektif ke depannya. “Perlu diperbincangkan kapan sekolah mulai dibuka dan sistem pembelajaran pada tahun ajaran baru ini,” ujar Rerie, sapaan akrab Lestari Moerdijat.

Di tengah ketidakpastian kapan berakhirnya wabah ini, imbuhnya, menetapkan pola belajar yang tepat dengan mempertimbangkan faktor penyebaran covid-19 yang masih terjadi merupakan keputusan yang bijak. “Pertimbangkan juga keluhan, baik dari sisi siswa, orangtua, hingga guru sebagai pengajar selama pemberlakuan belajar jarak jauh di masa wabah covid-19,” sambung Rerie.

Menurut Legislator Partai NasDem itu, keluhan tersebut ialah dari siswa yang jenuh belajar di rumah, terbatasnya sarana internet dan gadget,
kekhawatiran dan terbatasnya pengetahuan orangtua, keterbatasan keterampilan guru dalam mengajar jarak jauh, hingga masih banyak lagi hal teknis dan psikologis yang harus segera dicarikan solusinya.

Kebijakan tersebut hendaknya juga menyasar pendidikan anak berkebutuhan khusus. Banyak keluhan bahwa mereka kesulitan menjalani terapi selama pandemi. Menurut Guru Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Windsor Bekasi Rina Octavia, selama pandemi covid-19, anak berkebutuhan khusus kesulitan mendapat pelayanan terapi secara rutin. Hal ini disebabkan adanya pembatasan sosial berskala besar sehingga klinik tumbuh kembang terpaksa ditutup.

“Ada beberapa klinik yang membuka konseling secara daring, tapi ditujukan untuk orang tua, baru nanti membuat program,” kata Rina.


Regulasi standar

Sudah hampir 3 bulan lebih seluruh siswa dan mahasiswa mengikuti pembelajaran jarak jauh (daring) dengan belajar dari rumah karena pandemi covid-19.

Menurut Irwansyah, pakar komunikasi dari Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, di masa kenormalan baru ada lima hal yang harus diperhatikan dalam pembelajaran jarak jauh. Pertama, mengubah pola pikir dalam cara belajar. Prinsipnya harus siap dengan proses pembelajaran tanpa ruang dan waktu.

Kedua, menyiapkan regulasi dan pengembangan pembelajaran berbasis digital. “Paling tidak perlu standar minimum dalam proses pembelajaran jarak jauh dengan teknologi pendidikan yang sederhana”, sebutnya.

Ketiga, menciptakan tenaga pembelajaran, baik tenaga pengajar maupun tenaga kependidikan yang adaptif. Berikutnya, dukungan dunia usaha dan industri untuk berkolaborasi dalam proses pembelajaran. Terakhir, antisipasi proses pembelajaran bagi yang terlibat yang memiliki keterbatasan fisik dan mental. (AP/DW/PO/H-1)
MI/M. Irfan
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya