Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Metode Pendidikan yang Bisa Diterapkan di Mana Saja

MI
16/4/2020 00:40
Metode Pendidikan yang Bisa Diterapkan di Mana Saja
(Dok. Pribadi Diah Widuretno )

PELAN, tapi pasti masyarakat Dusun Wintaos kini mulai berdaya. Berbagai produk olahan dari desa ini mulai mendapatkan pasarnya. 
Iklim perekonomian di desa pun terbentuk. Asas gotong royong menjadi modal sosial masyarakat desa yang dulu tandus ini. Para pemuda kini tak malu lagi menjadi bagian dari warga kampung, bahkan bercita-cita menjadi petani. 

Menurut Diah, gerakan yang telah ia rintis bersama masyarakat Wintaos dapat direplikasi di daerah-daerah lain. Model pendidikan kontekstual semacam ini sangat aplikatif untuk menjawab permasalah di beberapa daerah dengan berbagai kondisi.

“Sekolah Pagesangan ini sebenarnya organisasi kecil. Organisasinya tetap kecil tidak apa-apa, tapi gerakannya harus dibesarkan. Artinya, meskipun gerakan ini berasal dari satu dusun kecil di pelosok Yogyakarta, harapannya semoga ini bisa mempunyai dampak yang luas ke seluruh Indonesia,” harap Diah.

Gerakan ini, kata perempuan kelahiran Banyuwangi itu, memang dibangun untuk menjadi cermin, menjadi obor bagi orang lain di berbagai daerah di Indonesia. Namun, proses replikasinya tidak dengan sistem copy-paste karena masalah-masalah di satu tempat pasti berbeda. “Kalau copy-paste itu artinya sudah bukan kontekstual lagi, kuncinya persoalan itu yang mendefi nisikan adalah masyarakat,” kata pendiri Sekolah Pagesangan ini.

Perjalanan panjang Sekolah Pagesangan menemani masyarakat Dusun Wintaos selama 11 tahun ini merupakan bukti bahwa pendidikan kontekstual yang menyelesaikan masalah yang nyata dihadapi masyarakat. 

Diah dkk tetap menjaga idealisme, mulai pengerjaan hingga pendanaan, mereka upayakan sendiri. Selama 11 tahun berjalan, Sekolah Pagesangan ini tidak mendapat bantuan dari siapa pun, termasuk pemerintah. “Jadi, kami benarbenar mandiri. Kami ingin buktikan bahwa organisasi seperti kami ini bisa jalan,” tegasnya.

Dia berharap konsep pendidikan nasional juga menerapkan metode kontekstual semacam ini. Selama ini, kata dia, pendidikan sangat berjarak. Apa yang dipelajari di sekolah berbeda dengan realitas di masyarakat. "Pulang dari seklah kita menghadapi realitas di rumah yang sudah berbeda sekali. apa yang dipelajari di sekolah, ya tetap mengawang-awang, engga bisa menyelesaikan persoalan yang di hadap sehari-hari. Nah, itu yang menjadi masalah, " tegasnya.

Diah menuturkan, awalnya anak-anak di Dusun Wintaos banyak memilih untuk tidak melanjutkan belajar di pendidikan formal. Awalnya, dia pikir itu hanya karena kemalasan atau sekolah yang kurang menarik. Namun, ketika sebagian ada yang melanjutkan sekolah sampai lulus SMA, bahkan S-1, banyak di antara mereka akhirnya harus meninggakan desa. “Jadi, masalahnya ternyata bukan sekolahnya, melainkan urbanisasi. Data yang kami dapatkan, di dusun kami sekitar 98% dari total pemuda/pemudi kelahiran di atas 1990, memilih bekerja menjadi buruh urban sehingga hanya sekitar 2% yang bertahan di desa,” terang Diah.

Melalui Sekolah Pagesangan, Diah berusaha memfasilitasi para pemuda Wintaos untuk tetap berdaya dari desa dan menyadarkan masyarakat tentang potensi berharga yang dimiliki desa. Melalui pendidikan kontekstual yang diterapkan di sekolah ini, anak-anak di Wintaos sejak dini mulai diajarkan untuk bangga dan mengenal potensi desa. 

Sobo kebon (menanam) dan sobo pawon (pengolahan pangan) pun menjadi kurikulum rutin yang diajarkan di Sekolah Pagesangan ini kepada para siswa. “Secara teknis kami belajar dalam kelompok. Untuk kelompok anak-anak, tujuan belajarnya adalah supaya mereka
mengenal siapa dirinya, lingkungan, dan budaya lokal setempat. 

Maka, ada kegiatan berbasiskan minat dan bakat, seperti drama, menggambar, dan menulis.” Selain itu, ada juga kegiatan yang berbasis penguatan keterampilan dasar yang dibutuhkan semua orang, seperti memamasak, pengolahan pangan (sobo pawon), dan menanam (sobo kebon). Seluruh kegiatan ini tujuannya mengenal lingkungan dan budaya setempat,” tandas Diah. (Bus/M-4)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya