Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Menyemai Ilmu di Lahan Tandus

Bagus Pradana
16/4/2020 00:10
Menyemai Ilmu di Lahan Tandus
Diah Widuretno (Dok. Pribadi Diah Widuretno )

PENDIDIKAN semestinya merupakan proses pemberdayaan manusia. Ia menjadi jalan menjawab persoalan realitas kehidupan di sekitar. Pendidikan harus kontekstual dan berakar pada budaya setempat. Definisi pendidikan semacam itulah yang berupaya ditegakkan masyarakat Dusun Wintaos, Desa Girimulyo, Panggang, Gunung Kidul, Yogyakarta, melalui Sekolah Pagesangan. Pagesangan artinya hidup atau kehidupan.

Dusun Wintaos berada di Desa Girimulyo terletak di sisi selatan Yogya karta. Kawasan ini tandus, gersang. Warga selalu kesulitan air, terutama saat kemarau. Struktur tanah yang didominasi batu cadas membuat upaya menggali sumur nyaris mustahil. Mayo ritas masyarakat Wintaos bertahan hidup dengan bertani secara subsisten di ladang-ladang berbatu yang mereka kelola turun-temurun.

Adaptasi dan kompromi yang mereka lakukan selama berpuluh-puluh tahun dengan lingkungan alam yang kering, kemudian melahirkan budaya dan tradisi tani yang khas, yang tidak dimiliki daerah mana pun.

Namun, bertani bagi sebagian besar generasi muda di Wintaos, tidak lagi menarik. Mereka lebih memilih hijrah ke kota. Masifnya urbanisasi membuat desa yang berada di kaki bukit Wonosari ini hampir saja menggerus budaya bertani lokal yang telah ada turun-temurun di desa tersebut.

Hal inilah yang memicu keprihatinan Diah Widuretno. Sarjana biologi dari Institut Pertanian Bogor ini awalnya mengenal masyarakat Wintaos ketika terlibat sebagai seorang fasilitator dalam sebuah proyek sosial. Kala itu, dia bersama sejumlah aktivis sosial di Yogyakarta menginisiasi sebuah konsep komunitas belajar yang ditujukan untuk anak-anak putus sekolah di Girimulyo, pada awal 2009. Komunitas itu mereka beri nama Sekolah Sumbu Panguripan.

Konsep dari sekolah ini cukup sederhana. Siapa saja bisa ikut dan boleh belajar apa saja yang mereka inginkan sesuai realitas kehidupan yang ada di sekitar mereka. “Tujuan utamanya adalah agar para pembelajarnya menjadi manusia yang berdaya dan mandiri,” terang Diah saat dihubungi Media Indonesia, pekan lalu.

Setelah berjalan empat tahun, Sekolah Sumbu Panguripan pun bubar. Namun, Diah yang masih memiliki keterikatan kuat dengan masyarakat Wintaos memutuskan menghidupkan lagi sekolah tersebut dengan nama baru, yaitu Sekolah Pagesangan. “Jadi, alasannya kenapa ada kata ‘sekolah’ di depan kata ‘pagesangan’ itu karena untuk memberikan identitas buat teman-teman yang sudah tidak punya akses ke pendidikan lagi, aku juga sekolah lo, awalnya kayak gitu,” ungkap Diah.

Kata Diah, nama pagesangan diberikan salah satu tokoh masyarakat di Wintaos. “Pagesangan itu artinya kehidupan, jadi di Sekolah Pagesangan kita belajar untuk hidup, belajar tentang kehidupan yang berdaya itu seperti apa,” terang Diah.


Subjek pembelajaran

Di sekolah ini masyarakat ialah subjek dari proses pembelajaran. Mereka belajar menyelesaikan masalah yang mereka hadapi sehari-hari. Pembelajaran yang berbasis persoalan itu, kata Diah, harus partisipatif. Artinya, semua orang harus terlibat, mulai merumuskan sampai memutuskan.

“Kalau masyarakat sendiri tidak pernah diajak ngobrol, tidak pernah diajak berpartisipasi, itu tidak kontekstual. Kontekstual
di sini enggak hanya nyambung dengan persoalan setempat, ya, tapi juga persoalannya itu harus didefi nisikan masyarakat sendiri,” ungkap Diah.

Dari sejumlah persoalan itu, tutur Diah, hal yang paling relevan dan paling banyak dikerjakan masyarakat di Dusun Wintaos ialah berladang. Hubungan masyarakat dengan ladang itu yang kuat, dari pagi sampai menjelang malam, aktivitas masyarakat dihabiskan di ladang,” ujarnya.

Bagi masyarakat Wintaos, ladang ialah penghidupan. Mereka telah turun-temurun mengurus ladang, mengembangkan pengetahuan untuk bertahan hidup dengan cara bertani (subsistensi) meski dalam kondisi medan yang berbatu dan susah air. Walhasil, komoditas yang dikembangkan pun khas, yaitu komoditas lokal, mulai kelapa, singkong, hingga jagung dengan metode pengolahan pangan yang unik yang berbeda dari produk makanan lainnya.

“Di Wintaos, mayoritas adalah petani subsisten. Mereka tidak menanam komoditas pertanian yang bisa dijual untuk membeli sesuatu, tapi untuk dikonsumsi oleh keluarga mereka. Kadang dipakai sebagai persediaan pangan hingga musim panen berikutnya,” ujar Diah.

Melalui Sekolah Pagesangan, masyarakat diajarkan dan belajar mengelola bahan-bahan pangan tersebut. Mereka mengidentifikasi pengetahuan dan kearifan lokal yang biasa digunakan untuk mengolah bahan-bahan itu. Misalnya, kelapa yang biasa diolah menjadi minyak kelapa. Begitu juga singkong yang dapat dijadikan tiwul.

“Tiwul merupakan makanan pokokpengganti nasi di Gunung Kidul. Nah, hal-hal seperti itu kita lakukan secara bersama-sama. Proses ini menjadi penting karena ini bagian dari membuat masyarakat percaya diri bahwa mereka sebenarnya punya potensi,” tandas Diah.

Menurut Diah, proses pengelolaan penting. Itu karena masalah pangan menjadi salah satu kontributor terbesar kerusakan lingkungan, dari penebangan hutan untuk lahan hingga penggunaan saprodi dalam proses produksi dan distribusinya yang juga butuh banyak bahan bakar. “Hampir separuh persoalan lingkungan itu disebabkan oleh pangan. Sebenarnya kalau kita bisa menyelesaikan persoalan pangan, akan sangat berkontribusi buat lingkungan,” terang Diah.

Alam, kata Diah, ialah ibu yang harus dijaga dan dihargai. “Cara kami adalah dengan bertani secara alami ini. Kami berusaha untuk merekonstruksi pengetahuan lokal yang sebenarnya sudah dikembangkan oleh nenek moyang kita dulu bahwa bertani selaras dengan alam lebih menyejahterakan dan menyehatkan, enggak hanya buat manusia, tapi juga buat lingkungan.” (M-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya