Headline
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat sejumlah gempa tektonik signifikan pada akhir Maret lalu. Sebanyak 8 kali gempa tektonik yang guncangannya dirasakan oleh masyarakat di sekitar pusat gempa ini terjadi pada rentang 25-27 Maret.
Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono menyebut aktivitas gempa tektonik ini dipicu oleh adanya aktivitas sumber gempa.
Baca juga: Masyarakat Diminta Dukung Tenaga Medis Covid-19
"Baik sumber gempa subduksi lempeng maupun sesar aktif yang tersebar di beberapa daerah seperti Selatan Selat Sunda, Selatan Jawa Timur, Selatan Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Maluku Utara, dan Papua," katanya, Kamis (2/4).
Pada 25 Maret, di wilayah Indonesia tercatat 3 (tiga) kali gempa tektonik. Antara lain Gempa Jailolo yang dipicu sesar aktif berkekuatan M=2,1 pada pukul 16.54.42 WIB, Gempa Yahukimo, Papua akibat aktivitas Sesar Naik Pegununan Tengah berkekuatan M=4,5 pada pukul 17.54.36 WIB, dan Gempa Ende, NTT, akibat aktivitas sesar aktif berkekuatan M=3,3 pada pukul 16.23.36 WIB.
Pada 26 Maret, dua gempa tektonik mengguncang Selatan Selat Sunda yang dipicu sesar Mentawai berkekuatan M=4,2 pada pukul 16.23.36 WIB dan Mindanao, Filipina, akibat aktivitas subduksi lempeng di Palung Cotabato berkekuatan M=6,1.
Gempa kedua itu berdampak berupa guncangan hingga dirasakan hingga di sebagian wilayah Provinsi Sulawesi Utara pada pukul 22.38.03 WIB.
Pada 27 Maret, BMKG mencatat 3 (tiga) kali gempa tektonik dirasakan. Antara lain Gempa Sarmi di Papua yang dipicu oleh Sesar Naik Mamberamo berkekuatan M=5,8 pada pukul 04.36.43 WIB, Gempa Barat Daya Jember yang dipicu aktivitas sesar dasar laut berkekuatan M=4,9 pada pukul 03.34.16 WIB, dan Gempa Wajo, Sulawesi Selatan, yang dipicu aktivitas Sesar Walanae berkekuatan M=4,9 pada pukul 04.58.58 WIB.
"Seluruh gempa dirasakan ini belum sampai menimbulkan kerusakan. Sebagian besar memiliki skala intensitas antara II hingga III MMI (Modified Mercally Intensity), yang artinya guncangan sudah dirasakan oleh masyarakat seolah ada truk yang berlalu," jelas Rahmat.
Baca juga: Ini Upaya Calon Pendeta di Palangka Raya Sembuh Covid-19
Dia menambahkan, peningkatan aktivitas kegempaan akhir-akhir ini patut diwaspadai masyarakat. "Mengingat peristiwa gempa kuat dapat terjadi kapan saja, sewaktu-waktu, dan hingga saat ini belum dapat diprediksi," ujar Rahmat.
"Untuk itu, masyarakat perlu memahami cara selamat saat terjadi gempa bumi dan tsunami, dengan menyiapkan bangunan aman gempa dan tata ruang pantai berbasis risiko bencana tsunami," pungkasnya. (OL-6)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved