Headline

Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.

Pengelolaan SDA Butuh Iptek Ramah Lingkungan

Dhika Kusuma Winata
29/8/2019 05:40
Pengelolaan SDA Butuh Iptek Ramah Lingkungan
KLHK menggelar konferensi internasional ke-5 peneliti kehutanan (The 5th International Conference of Indonesia Forestry Researchers/INAFOR)(KLHK)

PENGELOLAAN sumber daya alam termasuk hutan membutuhkan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) agar berkelanjutan dan ramah lingkungan. Iptek berperan penting dalam pengelolaan hutan dan hasil hutan untuk terus menjalankan fungsinya dari aspek ekonomi, ekologi, dan sosial.

Sekretaris Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Sylvana Ratina menegaskan hal itu dalam The 5th International Conference of Indonesia Forestry Researchers (Inafor) di Bogor, Jawa Barat, kemarin.

Forum tersebut dihadiri 700 peneliti dalam dan luar negeri dan diselenggarakan hingga Jumat, 30 Agustus 2019. "Peran iptek menjadi kebutuhan dan harus terus didukung berbagai inovasi agar pengelolaan sumber daya khususnya hasil hutan bisa efisien dan berkelanjutan," kata Sylvana.

Dengan penerapan teknologi, imbuhnya, pemanfaatan limbah dapat ditingkatkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah tinggi, baik produk kayu, bioenergi, bahan pendukung industri dan produk strategis lainnya.

Iptek juga mampu berkontribusi pada peningkatan pendapatan, ekonomi sirkular, dan efisiensi pemanfaatan SDA yang diarahkan pada zero waste. Ekonomi sirkular, jelas Sylvana, menggunakan limbah menjadi produk yang memiliki potensi untuk dikembangkan dan memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan.

Ia mencontohkan, pengembangan bioenergi dari limbah pertanian ataupun perkebunan, menjadi salah satu jalan keluar untuk menghemat energi fosil yang semakin berkurang, sementara kebutuhan energi terus meningkat.

Pengelolaan hutan produksi lestari, pangan (makanan), kesehatan (obat-obatan, kosmetik), sosial, dan kemanusian, ialah isu-isu strategis yang perlu ditelaah peneliti di bidang kehutanan. "Sebab, hutan juga sangat berperan dalam aspek sosial dan kemanusian," kata Deputi Ilmu Kebumian LIPI Zainal Arifin.

Menurutnya, hal itu sejalan dengan rencana Induk Riset Nasional (RIRN 2045) yang memuat delapan besar tema riset, yakni pangan, energi, kesehatan, transportasi, teknik, pertahanan dan kemanan, maritim sosial, dan humaniora.

Melek sekitar

Menteri Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi Mohamad Nasir mengungkapkan, dalam melaksanakan riset, seorang peneliti kerap kali lupa untuk melihat kebutuhan masyarakat. Pada saat idealisme keilmuan mendorong untuk terus melahirkan karya adiluhung, peneliti tidak melek pada kondisi masyarakat sekitarnya.

"Yang membutuhkan kontribusi langsung karya intelektualnya," kata Nasir dalam sambutan yang dibacakan Juldin Bahriansyah, Kepala Sub Direktorat Valuasi dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual, Kemenristekdikti.

Karena itu, lanjutnya, pemerintah berupaya membangun budaya riset dengan sistem reward yang lebih sehat di masa datang. "Sehat, berarti menambah semangat dan motivasi tanpa menimbulkan efek samping 'obesitas' dalam riset, antara lain penelitian gemuk yang tidak efisien dan berpenyakit karena kontraproduktif," seru Nasir.(DD/H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya