Headline

Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.

Restorasi Hutan bukan cuma Pohon

Dede Susianti
28/8/2019 04:00
Restorasi Hutan bukan cuma Pohon
Konferensi Internasional ke-5 Peneliti Kehutanan Indonesia atau the 5th International Conference of INAFOR- Indonesia Forestry Researchers(ist)

SUDAH saatnya kita melihat restorasi hutan lebih dari sekadar pohon. Sebab, restorasi sebenarnya menekankan bagaimana upaya mereformasi lanskap di seluruh dunia yang digunduli, terdegradasi, atau kurang dimanfaatkan.

Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup (LHK) Siti Nurbaya menekankan hal itu kepada 700 peneliti dari dalam dan luar negeri, pengambil kebijakan, pelaku usaha, akademisi dan LSM yang berkumpul di Konferensi Internasional ke-5 Peneliti Kehutanan Indonesia atau the 5th International Conference of INAFOR- Indonesia Forestry Researchers di Bogor, Jawa Barat, kemarin.

Siti mengatakan, luasnya hutan dunia kini telah mencapai sekitar 4 miliar hektare, mencakup 30% dari luas daratan bumi. Diperkirakan, 1,6 miliar orang atau 25% dari populasi global bergantung pada hutan.

Hutan juga merupakan rumah bagi sekitar 80% dari semua spesies terestrial dan berkontribusi secara substansial untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim serta keanekaragaman hayati.

Di masa lalu, imbuhnya, berbagai kebijakan dan tindakan ditujukan untuk mencapai produksi hutan berkelanjutan. Namun sekarang, perspektif tersebut bergeser ke arah keseimbangan nilai sosial, lingkungan dan ekonomi. Dari pengelolaan berorientasi kayu ke pengelolaan lanskap hutan.

"Kami telah mengambil kebijakan korektif untuk mencapai pengelolaan hutan berkelanjutan. Selain itu, kami juga menyelaraskan kebijakan dan peraturan kehutanan dengan visi nasional dan rencana pembangunan dan dengan komitmen internasional," urai Siti dalam sambutan yang dibacakan Agus Justianto, Kepala Badan Litbang dan Inovasi KLHK.

Ia menuturkan, komitmen internasional yang dimaksud ialah SDG, Perjanjian Paris, dan Konvensi Keanekaragam-an Hayati (CBD).

Sejak 2004, lanjut Siti, pihaknya telah meluncurkan Program Restorasi Ekosistem yang melibatkan 33.000 desa di sekitar kawasan hutan. Sasaran utamanya ialah masyarakat desa dapat menghasilkan banyak barang dan jasa dan kemudian mereka akan mendapat manfaat darinya. "Saya berharap kemandirian ekonomi, keamanan pangan, dan energi dimulai dari desa," ungkapnya.

Beri rekomendasi

Di sisi lain, pertumbuhan populasi yang cepat telah menimbulkan tantangan serius dalam berbagai aspek, termasuk pengelolaan sampah di perkotaan.

Di Indonesia, kata Agus Justianto, pusat-pusat kota besar menghasilkan hampir 10 juta ton limbah setiap tahun, dan jumlah ini meningkat 2 hingga 4% setiap tahun.

Agus berharap Konferensi Internasional ke-5 Peneliti Kehutanan Indonesia akan memunculkan solusi untuk mempercepat restorasi hutan dan pengelolaan limbah. "Hasil Inafor akan menjadi rekomendasi tidak hanya pemerintah, tapi untuk semua pihak," sebutnya.

Dalam forum itu, imbuhnya, dibahas lebih dari 200 paper mengenai iptek dan inovasi. Adapun lima subtema yang dibahas, mengadopsi bioe-nergi terbarukan, pemanfaat-an limbah untuk mendukung ekonomi sirkular dan ling-kungan, dan solusi inovatif untuk mengelola hutan tropis. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya