Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
DI usianya yang menginjak 69 tahun, aktris senior Widyawati masih aktif menjalani berbagai kegiatan. Menurutnya, hal itu tidak lepas dari berkah tubuh sehat yang diberikan Tuhan padanya.
Berkah itu ia jaga baik-baik, yakni dengan menerapkan gaya hidup sehat. Upayanya tak rumit-rumit, meliputi olahraga teratur, menjaga pola makan, dan cukup tidur.
"Tiap pagi saya selalu sempatkan berjemur dan olahraga ringan. Jalan kaki di sekeliling rumah dan mengayuh sepeda statis sampai berkeringat, biasanya 30 menitan," terangnya, beberapa waktu lalu.
Soal makan juga ia perhatikan betul. Ibu dua anak itu sejak lama menghindari konsumsi makanan berlemak, termasuk menghindari makanan bersantan. Ia lebih memperbanyak konsumsi buah dan sayur.
Menurutnya, pola hidup sehat membawa banyak manfaat. "Saya rasakan benar, badan jadi enggak gampang capek, enggak gampang sakit. Terasa bedanya kalau saya melewatkan olahraga, badan saya terasa tidak enak," pungkasnya.
Gaya hidup sehat seperti yang diterapkan Widyawati mungkin terkesan remeh dan simpel. Namun, tidak semua orang bisa melakukannya dengan konsisten. Padahal, manfaatnya luar biasa. Menjaga kebugaran sekaligus mencegah penyakit tidak menular (PTM) berbahaya, seperti penyakit jantung, stroke, diabetes, kanker, dan gagal ginjal.
"Dampak PTM sangat merugikan. Dari sisi biaya, pengobatan PTM menghabiskan lebih dari sepertiga pembiayaan yang dikeluarkan BPJS Kesehatan," ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Cut Putri Arianie, baru-baru ini.
Belum lagi kerugian akibat kehilangan waktu produktif. Orang yang stroke misalnya, lanjut Cut Putri, tentu tidak bisa lagi berkarya seperti sedia kala. Sebagian waktu keluarganya juga dipastikan habis untuk perawatan si pasien. Karena itulah, pemerintah sangat menekankan upaya pencegahan.
"Upaya penanggulangan PTM fokus pada pencegahan faktor risiko PTM. Itu karena kalau sudah jadi penyakit tidak bisa dicegah lagi, penderita harus patuh menjalani pengobatan yang biasanya berlangsung seeumur hidup," kata Cut Putri.
Menurutnya, ada sejumlah faktor risiko PTM. Yang utama ialah merokok, asupan gula, garam, dan lemak berlebihan, serta kurangnya aktivitas fisik. "Melihat faktor-faktor risiko tersebut, jelas terlihat bahwa penanggulangan PTM butuh upaya dan sinergi lintas sektor," tegas Cut Putri.
Ia mencontohkan upaya mengurangi konsumsi makanan tinggi gula, garam, lemak (GGL). Kemenkes sudah menerbitkan Peraturan Menteri Kesehatan No 30/2013 tentang Pencantuman Informasi Kandungan GGL serta Pesan Kesehatan Pada Pangan Olahan dan Pangan Siap Saji. Aturan tersebut diperuntukkan bagi produsen pangan siap saji yang mengandung GGL.
"Tapi sejauh ini industri masih enggan untuk mencantumkan label tersebut," cetusnya.
Kemudian, untuk upaya menurunkan prevalensi perokok, menurut Cut Putri, dibutuhkan upaya pengendalian melalui peningkatan cukai rokok, pembatasan iklan, dan kontrol peredaran agar tidak terjangkau anak-anak. Juga upaya mendorong para kepala daerah agar menerapkan ‘kawasan tanpa rokok’ di tujuh tatanan sesuai UU Kesehatan dan PP No 109/2012.
"Itu semua perlu peran berbagai kementerian/lembaga dan pemda."
Lalu, untuk menekan faktor risiko rendahnya aktivitas fisik, lanjut Cut Putri, jelas tidak cukup dilakukan dengan imbauan. "Imbauan agar masyarakat tidak mager (malas gerak), minimal mau melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit per hari, harus sejalan dengan ketersediaan fasilitas umum dan ruang terbuka hijau yang bisa mempermudah masyarakat menjalankan imbauan itu."
Intinya, Cut Putri menyimpulkan, upaya mencegah PTM melalui gaya hidup sehat butuh keterlibatan dan berbagai pihak.
Butuh komitmen
Meski praktik gaya hidup sehat terkesan sederhana, tidak semua orang bisa dengan mudah melakukan perubahan ke arah itu. Terkait dengan hal itu, pakar psikologi, Vera Itabiliana, menjelaskan manusia merupakan makhluk yang terbentuk dari kebiasaan atau habit. Habit bisa terbentuk bila sebuah aksi dijalankan dengan rutin dan terus-menerus.
"Ketika melakukan tindakan baru, psikis manusia melawannya karena tidak sesuai dengan kebiasaan yang telah tertanam. Itulah mengapa mempraktikkan kebiasaan baru, seperti memulai berolahraga atau mengonsumsi makanan sehat, cenderung berujung kegagalan sebab psikis manusia sudah terpola dengan kebiasaan lama dan menolak rutinitas baru," tuturnya.
Selain itu, tuturnya, sering kali ada anggapan bahwa perubahan kebiasaan itu cenderung ribet atau rumit sehingga dirasa sebagai beban.
Untuk mengatasinya, lanjut Vera, komitmen diri menjadi vital. Selain itu, faktor penunjang eksternal juga krusial. Melakukan langkah-langkah kecil untuk memulai perubahan kebiasaan berdampak yang jauh lebih efektif asalkan konsisten. "Orang cenderung ingin mengubah kebiasaan sekaligus secara besar-besaran. Padahal, seharusnya bertahap dan butuh proses. Lingkungan di sekitar juga harus mendukung," pungkasnya. (*/H-...)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved