Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Siswa Cendekia Harapan Tampilkan Semangat Berbagi di ISD 2019

Syarief Oebaidillah
29/4/2019 20:30
Siswa Cendekia Harapan Tampilkan Semangat Berbagi di ISD 2019
HUT PP-Iptek dengan tema Indonesia Science Day/ISD 2019 di Taman Mini Indonesia Indah oleh SMP dan SMA Cendekia Harapan(Ist)

ADA yang menarik pada acara Indonesia Science Day (ISD) 2019 di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta dalam rangkaian HUT PP-Iptek yang berlangsung 25-28 April.

Di tengah kehebohan generasi milenial yang menggandrungi gim dan media sosial, ada 8 tunas muda siswa SMP dan SMA Cendekia Harapan berusia 13-16 dari Bali yang membawa semangat 'berbagi' mengusung kepedulian bagi Indonesia.

Diam-diam menggebrak, hal itu mungkin yang dapat menggambarkan mereka. Mereka menuangkan kepedulian ke dalam produk-produk inovatif yang ditampilkan pada booth mereka.

Produk-produk tersebut mengusung ide besar membantu bangsa dan merupakan aksi nyata mereka untuk berbagi, antara lain Tirta Amerta, Melali, Zero Waste, dan Space Saving Design Product.

Selain itu, yang bernilai dari stan ini adalah anak-anak yang mewakili Cendekia Harapan berasal dari bangsa yang berbeda-beda tetapi tetap menunjukkan kecintaan besar dan kepedulian melalui inovasi yang dipamerkan.

Lidia Sandra, Principal Sekolah Cendekia Harapan, misalnya mengulas tentang produk Tirta Amerta yang dibuat atas dasar keprihatinan terhadap kondisi sungai-sungai yang semakin tercemar oleh polusi.

Pandangan mata siswa Cendekia Harapan pun berbinar-binar menunjukkan begitu besarnya harapan generasi muda ini akan air bersih dan sehat sehingga mereka menciptakan produk tersebut.

Produk Tirta Amerta bahkan diusulkan untuk dijadikan sebagai proyek nasional dalam rangka peningkatan kualitas mutu air dengan menggunakan parameter derajat kesamaan (pH), kekeruhan, dan kesadahan air.

Banyak di Indonesia, terutama kota-kota besar, yang memiliki kondisi sungai memprihatinkan, bahkan hingga sungai di desa-desa terpencil pun tidak luput dari limbah rumah tangga yang langsung di buang ke sungai.


Baca juga: UNJ Gelar Info Day 2019 bagi Calon Mahasiswa


Kepedulian siswa Cendekia Harapan tidak berhenti di situ. Mereka juga menyoroti manajemen limbah pertanian di Indonesia yang menghasilkan 56,54 ton per tahun, terutama limbah jerami. Meski jerami dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau biogas, 80% petani masih melakukan pembakaran yang menyebabkan polusi.

"Kita mengajak anak-anak untuk menyadari masalah di sekeliling dan berbagi apa pun yang dimiliki untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Walaupun emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunya kuberikan padamu. Itu prinsip kami," kata Lidia melalui keterangan tertulis yang diterima Senin (29/4).

Sekolah Cendekia Harapan mampu membuktikan bahwa teknologi tidak harus fancy, tetapi sejatinya harus mampu berdaya guna untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di sekelilingnya.

Cendekia Harapan menebarkan asa untuk lebih banyak sekolah yang mengusung metode seperti mereka yang memampukan anak-anak setiap semesternya menghasilkan produk atau tulisan untuk mengatasi masalah yang ada di bangsa ini.

Sistem pendidikan yang diterapkan di Cendekia Harapan Bali adalah sistem pendidikan yang non-tradisional, masing-masing anak bebas mengkreasikan diri dan mengembangkan karya dan inovasi dengan supervisi prima untuk menghasilkan produk dan mendorong anak-anak menjadi maker bukan consumer, memberi bukan menerima.

Pernyataan Lidia terlihat jelas tergambarkan dalam produk-produk siswa-siswinya yang dilatarbelakangi atas keprihatinan dan semangat untuk berbagi solusi atas masalah yang ada di sekitar.

"Jika semangat berbagi kurang dari 10 generasi muda bangsa ini dapat menjadi pendorong dalam diri setiap warga negara Indonesia, tentu masalah yang ada di seluruh Indonesia dapat terselesaikan dengan cepat," pungkasnya. (RO/OL-9)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya