Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggandeng lintas sektor guna menyederhanakan informasi bencana sehingga mudah dipahami masyarakat umum.
Hal itu dikemukakan Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB Bernardus Wisnu Widjaja saat Diklat Teknis Penanggulangan Bencana bagi Wartawan di Bandung, Jawa Barat, Rabu (24/4).
“Info harus mudah dipahami, harus sampai sehingga masyarakat tidak panik saat bencana terjadi. Penting juga bahwa penanganan bencana itu pentahelix atau tidak bisa ditangani sendirian, tapi harus dengan kerja sama lintas sektor,” cetusnya.
Peristiwa gempa bumi harus dipahami secara baik sehingga masyarakat seharusnya tidak panik. Mereka tahu antisipasi dan mitigasi jika pergerakan tanah terjadi.
Infrastruktur pun sudah dibuat sedemikian rupa dengan kemungkinan terburuk. Pipa gas tidak melewati patahan-patahan yang telah dipetakan karena jika tetap dilewati, saat gempa terjadi pipa bisa bocor dan memicu kebakaran hebat.
“Tokyo (Jepang) dan San Andreas (Amerika Serikat) ialah area patahan tektonik yang berisiko terjadi gempa bumi kapan saja, tapi masyarakat di kawasan itu sudah dipersiapkan dengan kemungkinan terburuk,” bebernya.
Saat Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bencana 2019 di Surabaya, Jawa Timur, Februari lalu, BNPB berjanji akan merilis hasil riset dan kajian analisis forensik bencana kepada publik secara rutin sebagai bentuk mitigasi bencana.
Bukan tontonan
Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api Badan Geologi Hendra Gunawan menyayangkan minimnya pengetahuan masyarakat tentang kebencanaan alam. Itu terlihat dari perilaku warga saat terjadinya bencana yang tidak sesuai langkah-langkah mitigasi bencana.
Ia mengambil contoh belum banyaknya masyarakat yang memahami proses mitigasi terutama terkait pergerakan tanah. Padahal, kata dia, meski tidak bisa diprediksi, ciri-ciri akan adanya pergerakan tanah mudah diketahui seperti tiba-tiba munculnya mata air atau pepohonan yang menjadi miring.
Ketika ada pergerakan tanah, warga justru menjadikan itu tontonan padahal potensi tanah longsor susulan masih dimungkinkan terjadi. “Ini paradigma yang harus diubah. Tempat bencana jangan jadi tontonan,” ujarnya.
Yang paling banyak terjadi ialah munculnya bangunan tidak tahan gempa di daerah yang rawan bencana tersebut. Dia meminta masyarakat agar lebih aktif melaporkan tanda-tanda keanehan alam untuk meminimalkan dampak bencana.
Selain itu, masyarakat bisa memanfaatkan aplikasi berbasis Android dan IOS yang bernama Inarisk Personal sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana. Aplikasi karya anak bangsa ini bisa memberi informasi tentang potensi kebencanaan. “Aplikasi ini berbasis GIS, software pemetaan,” kata analis mitigasi BNPB, Aminudin Hamzah.
Aplikasi ini juga akan memberi tahu langkah-langkah antisipatif saat terjadi dan setelah bencana. (Ant/H-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved