Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA Dewan Pengarah Lembaga Sertifikasi Profesi Kimia Industri (LSP-KI) Dr Mas Ayu Elita Hafizah pada acara Pembukaan Pelatihan Asesor Kompetensi LSP-KI di Kantor Badan Pengembangan SDM Industri Kementerian Perindustrian Jakarta, Senin ( 8/4), menyatakan siap mendukung peningkatan kualitas SDM Indonesia.
"Seperti kita ketahui bersama, ada 10 strategi prioritas nasional dalam menerapkan Making Indonesia 4.0 di mana salah satunya peningkatan kualitas SDM Indonesia. Maka melalui LSP-KI ini sebagai perpanjangan tangannya dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) berkewajjban untuk mendukung program nasional tersebut yang salah satu bentuknya pelaksanaan pelatihan asesor kompetensi ini," kata Mas Ayu Elita melalui keterangan tertulis Senin.
Dikatakan, melalui pelaksanaan pelatihan kompetensi akan melahirkan para asesor yang kompeten di bidang masing-masing, sehingga mampu menjadi para pembina dan penentu untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja khususnya yang bergerak di bidang industri kimia. Sehingga diharapkan mampu membangun para tenaga kerja yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dapat bersaing di era revolusi industri 4.0.
"Saya yakin dan optimistis pelatihan asesor dari LSP-KI ini mampu menjadi pendukung untuk mencapai program nasional making Indonesia 4.0 ," tegasnya.
Baca juga: Diskusi Nasional Alumni HI Unpar Ungkap Kunci Kemajuan Indonesia
Pada kesempatan sama, Kepala Badan Pengembangan SDM Industri Kemenperin, Mujiono, mengutarakan, industri Tanah Air membutuhkan tenaga kerja hingga 600 ribu orang per tahun. Hanya saja, angka sebesar itu hingga kini belum bisa terpenuhi.
Dikatakannya, dari sekian banyak kebutuhan tenaga kerja tersebut, didominasi kualifikasi lulusan SMK atau SMA.
Mujiono mengungkapkan, dari kebutuhan 600 ribu orang per tahun itu, 350 ribu di antaranya adalah untuk lulusan SMK.
"Kebutuhan ini belum dapat terpenuhi, karena masih kurangnya kompetensi," ungkap Mujiono saat membuka pelatihan asesor tersebut.
Dia beralasan bahwa ada kesenjangan antara kurikulum di SMK dan tuntutan kompetensi dari dunia industri. Untuk mengatasinya, kurikulum di SMK saat ini mesti diselaraskan dengan dunia industri. Karena itu, pihaknya bersinergi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam menggenjot peningkatan kompetensi.
"Kami menggenjot dunia industrinya, Kemendikbud menggenjot SMK-nya," tukasnya.
Dia berharap dengan adanya penyelarasan tersebut, lulusan SMK ke depan lebih siap diterima masuk ke dunia kerja. Upaya ke arah itu yakni harus adanya program satu industri membina sejumlah SMK.
Saat ini, ada 855 unit industri yang mengikuti program pembinaan SMK tersebut. Sementara jumlah SMK yang sudah dibina mencapai 2.612 unit, dengan total perjanjian kerja sama mencapai 4.497.
"Karena satu SMK bisa menandatangani beberapa perjanjian kerja sama," pungkasnya. (OL-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved