Headline
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Kumpulan Berita DPR RI
MISI lingkungan Indonesia di arena internasional meraih sukses besar dalam sidang Majelis Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Environtment Assembly (UNEA) ke-4 di Nairobi, Kenya. Delegasi Indonesia berhasil membawa lima rancangan resolusi (ranres) yang diadopsi pada salah satu pertemuan lingkungan terpenting di dunia yang ditutup pada Jumat, 15 Maret 2019.
Pertemuan tersebut diselimuti duka mendalam, karena sehari sebelum pembukaannya, pesawat Ethiopian Airlines penerbangan ET 302 jatuh beberapa menit setelah lepas landas dari Addis Ababa menuju Nairobi dan menewaskan seluruh penumpangnya. Di antara 157 korban, setidaknya ada 21 staf PBB serta sejumlah pegiat masyarakat madani dan pekerja kemanusiaan yang seharusnya mengikuti UNEA-4.
Pada pertemuan dua tahunan itu menetapkan prioritas kebijakan lingkungan global dan mengembangkan hukum lingkungan internasional, UNEA merupakan badan pembuat keputusan tingkat tertinggi di dunia tentang lingkungan. Pertemuan bertujuan untuk mengatasi masalah-masalah lingkungan kritis yang dihadapi planet ini.
Memahami tantangan-tantangan melestarikan dan merehabilitasi lingkungan global adalah jantung dari Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan.
Inisiasi Indonesia merupakan yang paling banyak diadopsi pada sidang UNEA-4, yaitu sebanyak lima dari 23 resolusi yang dihasilkan. Pertama, Innovative Pathways to Achieve Sustainable Consumption and Production (SCP) yang diusung Uni Eropa, Kolombia, Indonesia, Jepang, dan Chile. Kedu usulan tentang Protection of the Marine Environment from Land-Based Activities yang juga diusung Indonesia. Ketiga tentang Sustainable Management for Global Health of Mangrove yang diusung Indonesia dan Srilanka. Keempat tentang Conservation and Sustainable Management of Peatlands yang diusung Indonesia. Terakhir, tentang Sustainable coral reefs management, diusung Indonesia dan Monaco dengan co-sponsor dari Korea Selatan, Meksiko, and Filipina.
Capaian itu sangat membanggakan karena empat dari lima resolusi Indonesia merupakan resolusi yang paling cepat disepakati pada tingkat pembahasan teknis.
Selain itu, delegasi Indonesia dan beberapa negara lain men-<i>counter<p> dan memblok rancangan resolusi Uni Eropa (UE) yang membawa isu deforestasi dengan mengaitkan komoditi kelapa sawit. Tekanan tersebut menyebabkan UE mencabut ranres deforestasi setelah lebih dari satu pekan proses negosiasi.
"Harus diingat tindakan yang dilakukan hari ini akan dinilai generasi mendatang, dan kita harus bersatu untuk dapat mewujudkan masa depan yang kita inginkan," uja Ketua Delegasi RI yang adalah Duta Besar Indonesia di Nairobi, Soehardjono Sastromihardjo, dalam pidatonya.
Dalam perlindungan ekosistem laut dan pengelolaan lahan gambut, misalnya, resolusi telah sepakat untuk mengapresiasi Indonesia dalam pembentukan Regional Capacity Centre for Clean Seas (RC3S) di Bali, serta mendukung International Tropical Peatland Centre (ITPC) di Bogor, Jawa Barat.
Berlokasi di Jl CIFOR, Situ Gede, Sindang Barang, Bogor, ITPC menjadi pusat data, informasi, dan hasil kajian analisis untuk mengimplementasikan konservasi dan pengelolaan lahan gambut secara lestari.
Sementara itu, RC3S akan di-launching pada pertemuan Intergovernmental Meeting-Coordinating Body on the Seas of East Asia (IGM-Cobsea) pada Juni 2019 di Bali.
Untuk mempersiapkan hal tersebut, pada Apri 2019 akan diselenggarakan pertemuan teknis Cobsea di Jakarta, yang merupakan kesempatan bagi Indonesia untuk melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak dalam rangka implementasi Regional Center.
Pada penutupan UNEA-4, para menteri menyampaikan blue print yang tegas untuk perubahan menuju model pembangunan baru. Blue print ini meliputi sebuah Deklarasi Menteri, 23 resolusi dan tiga keputusan, yang semuanya bertujuan untuk menyikapi masalah lingkungan global.
Intinya, dengan bertambahnya bukti bahwa planet bumi makin tecemar, kian panas, dan sumber dayanya berkurang pada tingkat yang membahayakan, para menteri bertekad untuk mengatasi tantangan lingkungan dengan mementingkan pengentasan kemiskinan, solusi inovatif dan mengadopsi pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan.
Komitmen kuat
Tidak hanya menunjukkan peran kepemimpinannya pada proses UNEA-4, Indonesia juga berhasil memastikan untuk mengambil peran yang lebih besar di sesi berikutnya. Dalam pemilihan biro untuk UNEA-5, Staf Ahli Menteri LHK Bidang Industri dan Perdagangan Internasional Laksmi Dhewanthi terpilih sebagai salah satu Wakil Presiden UNEA-5 dari kawasan Asia Pasifik, bersama dengan wakil Bahrain.
Berbagai inisiatif Indonesia di UNEA-4 merupakan bagian dari tanggung jawab Indonesia untuk lingkungan global yang lebih baik dan mendorong negara-negara untuk segera melakukan upaya tindak lanjut dalam mengimplementasikan resolusi-resolusi yang diadopsi.
"Melalui lima resolusi ini, Indonesia datang dengan komitmen yang kuat, dan membawa contoh-contoh komitmen dan inisiatif yang nyata. Misalnya untuk perlindungan ekosistem laut, Indonesia membawa inisiatif pembentukan Regional Capacity Centre for Clean Seas (RC3S) di Bali. Dalam pengelolaan lahan gambut, Indonesia menggaungkan kembali International Tropical Peatland Centre (ITPC) di Bogor," jelas Laksmi.
Untuk menjaga kepentingan Indonesia dan menghadapi UNEA-5, delegasi Indonesia juga secara aktif mengikuti pembahasan atau negosiasi rancangan resolusi lainnya. Upaya itu juga untuk memastikan agar resolusi yang akan diadopsi ialah mencerminkan kebutuhan dan kepentingan lingkungan hidup global.
Beberapa rancangan resolusi yang mendapatkan perhatian besar Delegasi Indonesia antara lain sampah plastik di laut (marine plastic litter), penggunaan plastik sekali pakai, inovasi keanekaragaman hayatidan, pengurangan degradasi lahan, the blue economy, geoengineering, dandeforestation and agricultural supply-chain. (S1-25)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved