Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
SISA hujan masih membekas di tanah yang cokelat. Dedaunan pohon terhampar di halaman rumah kayu di Jalan Baru, Pasar Mudik Nomor 7, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Sumatra Barat, Senin (4/2) malam.
Halamannya terbilang lapang sehingga punya ruang untuk menggelar hajatan. Pembauran begitu terasa kental di rumah milik Hiapman (Tjoa Kim An) saat detik-detik menyambut Tahun Baru Imlek 2570 yang jatuh pada Selasa (5/2).
Di halaman rumah pengusaha air aki dengan merek dagang UD Surya Cahaya itu tampak tenda serta deretan kursi-kursi. Sekira pukul 20.30 WIB, satu per satu tamu berdatangan. Tua, muda, wajah etnis Tionghoa, dan tentu saja wajah-wajah orang Minang.
Saat bersamaan, tungku perapian yang dibuat pada sudut halaman sebelah kanan berlangsung aktivitas pemanggangan ikan, udang, dan cumi-cumi. Kentara sekali, perempuan-perempuan berkerudung menggawangi 'dapur dadakan' itu.
Seorang bapak berpeci hitam mondar-mandir menghidangkan makanan dan minuman kepada tamu yang datang. "Saya berkawan cukup lama dengan Pak Yapman (Hiapman). Saya orang sini. Beliau sering kayak begini. Bahkan, dia juga menggelar buka bersama," ujar Eldon, 51.
Hiapman menyulap rumahnya menjadi tempat berkumpul sesama marganya, Tjoa Kwa, di Padang. Hiapman sudah sekitar 30 tahun tinggal di Pasar Mudik, kantongnya etnik Minang. Sejauh ini dia begitu mencair, hingga pambauran dengan etnis lain mengalir begitu saja, tanda kendala berarti.
Meskipun malam tahun baru ala Tiongkok, tidak terbetik keraguan di hati Eldon untuk mencicipi hidangan yang disediakan tuan rumah.
Padahal, secara keyakinan Hiapman juga seorang Nasrani.
"Tidak ada rasa canggung bagi saya terhadap masakan yang ada. Saya tahu semua bahan yang dimasak didatangkan dari luar. Yang memasak tetangga-tetangga di sini," ungkapnya.
Kawasan Pasar Mudik mayoritas berpenduduk etnik Minang sebagaimana Pasar Gadang yang tidak begitu jauh dari sana. Ke arah barat lagi terdapat Kampung Pondok yang didominasi etnik Tionghoa.
Di kawasan Pondok, malam itu begitu ramai. Lampion bergelantungan membuat kampung pecinan itu terasa semarak. Kelenteng See Hin Kiong di pusaran kawasan Pondok terlihat bejibun orang beragam rupa.
Halaman kelenteng disesaki orang-orang yang menonton pertunjukan barongsai. Alhasil, bagi warga etnik Tionghoa yang hendak berdoa di kelenteng harus menerobos kerumuman orang.
"Saya baru pulang dari rantau (Pekanbaru) karena kebetulan libur Imlek. Saya sengaja ke sini untuk melihat kemeriahan perayaan Imlek," terang Dial, salah seorang pengunjung.
Pada kelenteng yang meruah itu, jelas sekali terjadi pembauran. Mereka yang datang tidak saja bermata sipit, tetapi juga wajah-wajah Padang, Batak, Nias, dan Jawa.
Sekretaris Perhimpunan Keluarga Tjoa Kwa, Petrus Hendra Tjuatja, menjelaskan, nuansa perayaan Imlek di Padang atau Sumbar secara keseluruhan berbeda jika dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Menurutnya, kalau daerah lain, etnik Tionghoa merayakan Imlek berbasis daerah asal (Tiongkok daratan). Di Padang, perkumpulan saat menyambut tahun baru itu berbasiskan klan atau marga.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved