Plastik merupakan bahan yang sulit terurai sehingga diperlukan cara–cara khusus untuk mengurangi jumlah sampah plastik yang semakin meningkat. Namun hal itu tidak bagi Paijan dan warga Karang Rejo, Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Sampah plastik disulap menjadi bahan bakar minyak, seperti premium, solar, dan minyak tanah.
Semakin meningkatnya angka penimbunan sampah di Tarakan membuat pemandangan menjadi kotor dan kumuh. Namun tidak banyak yang mengetahui sampah tersebut sangat bermanfaat bagi kehidupan.
Di tangan Paijan dan kelompok swadaya masyarakat Lestari dengan jumlah anggota 21 orang, sampah plastik itu diolah menjadi bahan bakar minyak (BBM). Setiap hari, mereka mampu memproduksi antara lima sampai delapan liter BBM yang terdiri dari premium, solar, dan minyak tanah.
Untuk memperoleh BBM dengan kualitas baik, plastik yang diolah harus dalam kondisi kering. Kotak yang memiliki diameter 100 centimeter persegi yang disiapkan mampu menampung delapan kilogram sampah plastik.
Kemudian sampah plastik dipanaskan pada suhu 200 – 500 derajat celcius sehingga berubah menjadi uap gas, kemudian terjadi proses perengkahan. Selanjutnya uap gas dikondensasikan menjadi cair. Tetesan BBM yang dihasilan akan terjadi setelah kotak reaktor dipanaskan sekitar 40 menit.
Untuk saat ini, Paijan belum bisa menjual BBM yang diproduksinya, karena hanya baru sebatas pemakaian untuk memenuhi kebutuhan operasional anggota LSM yang dia pimpin. Khususnya kendaraan roda tiga yang digunakan untuk mengangkut sampah dari salah satu kompleks perbelanjaan ke gerainya untuk diolah.
Namun minyak tanah dijual kepada pedagang kaki lima dengan harga Rp5.000 per liter.
Untuk bisa mengoperasikan serta merakit alat pembuat BBM dari limbah plastik ini, Paijan belajar ke salah satu teman di Jawa selama kurang lebih satu bulan.
Rencananya dia akan membuat mesin pengolah dengan kapasitas yang lebih besar lagi karena bahan baku yang melimpah. (Q-1)