Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Pusat Kirim Tim Selidiki Kematian 41 Anak di Papua

Cornelius Eko Susanto
26/11/2015 00:00
 Pusat Kirim Tim Selidiki Kematian 41 Anak di Papua
(Ilustrasi--- ANTARA FOTO/Husyen Abdillah/)
PEMERINTAH pusat mengirimkan tim tim surveilens ke Distrik Mbuwa, Kabupaten Nduga, Papua, Rabu (25/11) malam. Mereka akan memverifikasi kabar kematian 41 anak yang terjadi di sana.

“Tim surveilens sudah berangkat ke sana. Nanti kami juga akan ke lokasi mengirimkan dana bantuan sosial,” sebut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise, disela acara bakti sosial menyambut Peringatan Hari Ibu (PHI), di Jakarta, kamis (26/11).

Tim yang dikirim, lanjut dia, terdiri dari tenaga medis Kementerian Kesehatan (Kemenkes), KPP-PA dan pihak terkait lainya.

Yohana mengatakan pihaknya masih terus menjalin komunikasi dengan Dinas Kesehatan setempat. Sampai saat ini, sambung dia, belum jelas penyebab pasti kematian puluhan bocah tersebut.

“Katanya ada wabah penyakit yang menyerang sejak awal November. Tapi belum pasti juga. Saya juga menyampaikan duka cita pada keluarga yang ditinggalkan,” sebut Yohana.

Dalam kesempatan itu, Yohana mengungkapkan bahwa kesehatan merupakan salah satu hak yang mendasar bagi seorang anak. Hak tersebut tercantum dalam Konvensi Hak Anak (KHA) yang sudah diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia 25 tahun lalu melalui Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990.

Hak yang dimaksud adalah Hak terhadap Kelangsungan Hidup (survival rights), yang meliputi hak-hak untuk melestarikan dan mempertahankan hidup (the rights of life) dan hak untuk memperoleh standar kesehatan tertinggi dan perawatan yang sebaik-baiknya (the rights to highest standard of health and medical care attainable).

Pada wawancara terpisah, Sekjen Kemenkes Untung Suseno menyatakan kemungkinan penyebab kematian adalah infeksi malaria atau infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang mengarah ke pneumonia.

Namun, tambah Untung, itu semua masih dalam hipotesa. Yang jelas, sambungnya, tidak ada kondisi kejadian luar biasa (KLB) di sana. Pasalnya, kematian tidak terjadi serentak. Jumlah total kematian tersebut, merupakan akumulai dari beberapa kasus selama beberapa bulan.

Ada juga dugaan bahwa mereka menderita gizi buruk. Akibat gizi buruk, daya tahan tubuh menjadi lemah, sehingga mudah terinfeksi penyakit. Terlebih lagi, tambah Untung, sarana kesehatan di sana juga masih kurang lengkap.  (Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya