Pemerintah Kurang Memerhatikan Pendidikan Non-formal
Melati Yuniasari Fauziyah
19/11/2015 00:00
(ANTARA/Risky Andrianto)
Sekretariat Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag) Ishom Yusqi menganggap bahwa pemerintah kurang memberikan perhatian khusus terhadap pendidikan non-formal; pendidikan Islam. Menurutnya, ada ketimpangan anggaran antara Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemdikbud) dengan Kemenag.
"Permasalahannya berangkat dari gejolak di Kemenag soal anggaran dana pendidikan antara Kemenag dengan Kemendikbud. Ada ketimpangan dalam hal pendidikan," ungkapnya dalam acara bedah buku Mendidik Tanpa Pamrih: Kisah Para Pejuang Pendidikan Islam di Perhimpunan Pengembangan Pesantren Masyarakat (P3M), Jakarta Timur, Rabu (18/11).
Ia turut menjelaskan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencapai 2000 Trilliyun. Sesuai dengan amanah UUD, maka 20% dari APBN untuk pendidikan. Artinya, sekitar 400 Trilliyun dikucurkan untuk dana pendidikan. 65% dari dana tersebut kemudian ditransferkan ke daerah; provinsi dan kabupaten. 53 Trilliyun untuk Kemendikbud Pusat dan sisanya diberikan kepada Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).
Sedangkan Kemenag hanya terima dana sebesar 46 Triliyun yang kemudian dikucurkan lagi untuk dana pondok pesantren seluruh Indonesia sebesar 800 Milyar. "Uang itu tapi tidak dapat akses oleh pendidikan non-formal seperti madrasah, santri maupun ustadz. Ada ketimpangan dana," Jelas Ishom.
Dari latar belakang ini, Ishom menilai kehadiran pemerintah dalam pendidikan non-formal masih kurang. Padahal, negara memiliki tiga fungsi, yaitu rekognisi, regulasi, dan fasilitasi. "Sebenarnya pendidikan formal dan non-formal itu seharusnya sama rekognisi, fasilitas, dan lainnya."
Ia mengkhawatirkan, jika di era globalisasi masih ada ketimpangan dana serta kurangnya fasilitas, pendidikan komersialisasi akan muncul hingga menghilangkan spirit of education dari para guru. "Pendidikan komersialisasi bisa menghilangkan karakter itu dari seorang guru," pungkasnya.
Berangkat dari gambaran kehidupan ustadz dan ustadzah yang menaruh perhatian khusus pada pendidikan Islam, namun kurang diketahui perannya oleh masyarakat luas membuat Abi S. Nugraha, editor buku, beinisiatif menggarap buku bertajuk Mendidik Tanpa Pamrih: Kisah Para Pejuang Pendidikan Islam. Dengan tujuan untuk mendorong pemerintah dan masyarakat sehingga pendidikan agama menjadi lebih baik. "Buku ini hadir untuk mendorong pemerintah dan masyarakat agar pendidikan agama jadi lebih baik," ujar Abi.(Q-1)