Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

BMKG Bangun Sistem Peringatan Dini Pada Bencana Alam

Ghani Nurcahyadi
18/11/2015 00:00
BMKG Bangun Sistem Peringatan Dini Pada Bencana Alam
(ANTARA/Oky Lukmansyah)
MENINGKATNYA bencana alam yang akhir-akhir ini terjadi, 80% diantaranya adalah disebabkan oleh faktor hidrologi, meteorologi dan iklim. Hal ini disampaikan oleh Kepala Badan Meteorologi,  Klimatologi dan Geofisika (Ka BMKG) Andi Eka Sakya dalam seminar yang bertujuan untuk melakukan evakuasi metode perkiraan dan mendukung kerangka global iklim bertajuk "Roving Seminar On Weather Forcast Verification In Support Of Global Framework For Climate Service (GFCS)" di kantor BMKG, Selasa (17/11).

"Selain angka 80% kejadian bencana alam yang disebabkan faktor hidrologi,  meteorologi dan iklim tadi,  data menyebutkan bencana tersebut telah menewaskan korban jiwa sekitar 45% dan 79% orang kehilangan harta benda" ujar Andi. "Mencermati kondisi ini, BMKG membangun dan mengembangkan sistem peringatan dini meteorologi, klimatologi" ujarnya melanjutkan.

Andi memaparkan melalui sistem ini diharapkan dapat meningkatkan layanan informasi cuaca dan iklim secara cepat, tepat akurat, serta mudah dipahami oleh stakeholders.

Andi menjelaskan ada empat faktor yang menyebabkan resiko bencana, yaitu: pertama, manusia tidak dapat memahami suatu resiko menjadi bahaya, kedua, keterkaitan keretanan alam dengan pemanasan global, ketiga ketiberdaryaan manusia dalam menyikapi alam, dan keempat ketidaksediaan atau masih kurangnya sistem peringatan dini yang dapat bekerja dengan lebih baik.

"Informasi cuaca dan Iklim yang saat ini disampaikan oleh BMKG sangat penting  dalam bidang maritime, pertanian, ketahanan pangan, sektor kelautan, sektor lingkungan, kesehatan, dan dijadikan sebagai pengambil kebijakan" ujarnya.  Namun demikian,  andi juga mengaku bahwa penyampaian informasi yang dilakukan BMKg masih terbatas dalam akurasi informasi, " BMKG akan terus berupaya meningkatkan akurasi pengamatan cuaca dan iklim" janjinya.

Seminar yang diprakarsai oleh Organisasi Meteorologi Dunia yang juga merupakan bagian dari program penelitian mengenai cuaca dunia dimana kali ini BMKG menjadi tuan rumahnya. "Bagi Indonesia seminar ini sangat penting sekali dan ini juga sebagai seminar pertama di dunia,  biasanya WMO yang menggundang tapi untuk kali ini diselenggarakan di Indonesia, dan ini menjadi penting karena Indonesia memasuki musim transisi," ujar Andi. "Diharapkan kegiatan dapat meningkatkan pengetahuan, dan dapat memberikan masukan kepada para pengamat BMKG sehingga dapat meningkatkan tingkat akurasi dan kualitas pengamata" harapnya.(R-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya