Peningkatan kualitas pendidikan secara menyeluruh di Indonesia masih menghadapi berbagai kendala. Pemerataan pendidikan hingga ke daerah terluar hingga peningkatan kualitas guru masih menjadi program utama yang akan diutamakan sebagai upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia secara menyeluruh.
Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud Hamid Muhammad mengatakan saat ini fokus pendidikan Indonesia adalah memaksimalkan program wajib belajar 12 tahun. Program yang telah dirintis sejak masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono di tahun 2012 tersebut mulai dijalankan pada tahun ajaran baru 2015/2016 Juni lalu.
"Kendala dihadapi di daerah-daerah terpencil yang belum sepenuhnya terjamah pendidikan berkualitas. Untuk itu, fokus kami adalah bagaimama menciptakan sarana pendidikan memadai serta pengadaan guru berkuakitas di banyak lokasi terpencil," ujar Hamid, hari ini.
Selain itu dikatakan Hamid, peningkatan angka keberlanjutan tingkat pendidikan juga menjadi kendala yang harus dihadapi. Hingga saat ini, baru sebesar 91,2% siswa sekolah dasar dan menengah yang melanjutkan ke jenjang sekolah menengah atas. Ditargetkan pada tahun 2019, angka tersebut dapst meningkat setidaknya hingga mencapai 94,5%.
"Kami menyediakan berbagai program bagi siswa, terutama yang tidak mampu untuk tetap dapat melanjutkan sekolah. Selain itu, saat ini kami juga fokus melakukan pambangunan untuk memperbanyak dan memperbaiki unit sarana dn prasarana pendidikan di seluruh Indonesia," tambahnya.
Diterangkan Hamid, saat ini diseluruh Indonesia, tercatat sebanyak sekitar 55 juta siswa yang bersekolah. Dari jumlah tersebut, jumlah siswa sekolah dasar masih menjadi urutan terstas, yakni 30,7 juta siswa. Sementara untuk SMA/SMK, masih menjadi urutan terendah dengan sebanyak 10,7 juta siswa yang tengah menempuh pendidikan. Angka tersebut ditargetkan akan meningkat hingga mencapai 61,4 juta siswa di tahun 2020 dengan peningkatan jumlah siswa SMA/SMK hingga mencapai 13,9 juta jiwa.
"Kami membutuhkan banyak dukungan, terutama dalam hal dana untuk mewujudkan hal tersebut. Dibutuhkan setidaknya Rp69 triliun untuk dapat melakukan pembenahan menyeluruh di berbagai lini pendidikan Indonesia, itu masih kami usahakan," tegasnya.
Di seluruh Indonesia saat ini, jumlah sekolah menengah atas, yakni SMA/SMK juga masih nerada di posisi terendah. Jumlah SMA dan SMK di seluruh Indonesia masing-masing berjumlah 12.656 dan 12.761 sekolah. Sementara sekolah dasar dan menengah pertama masing-masing berjumlah 148.155 dan 37.341 unit sekolah. Ditargetkan pada tahun 2020 akan telah dibangun sekitar 6.000 unit sekolah menengah atas tambahan di berbagai wilayah Indonesia.
Sementara itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengatakan, untuk mencapai hal tersebut sangat diperlukan input dari semua elemen yang bersentuhan langsung dengan dunia pendidikan. Tidak hanya dari dalam, input tersebut juga diharapkannya dapat didapat dari luar negeri, terutama negara-negara tetangga terdekat di ASEAN.
"Kita memang harus terus belajar, ibaratnya harus melakukan mirroring terhadap negara-negara ASEAN. Tidak hanya dalam hal pendidikan, tetapi lebih jauh hingga bagaimana menciptakan tenaga kerja berkualitas. Karena bisa dibilang lebih dari 50% warga ASEAN berada di Indonesia, untuk itu membenahi pendidikan dan kualitas SDM Indonesia berarti kita juga berkontribusi untuk kemajuan Indonesia, juga ASEAN," ujar Anies di Jakarta kemarin.
Dikatakan Anies, salah satu yang juga utama dan harus segera dilakukan untuk memaksimalkan wajib belajar 12 tahun adalah dengan melakukan peningkatan kualitas guru. Dengan demikian, semua guru yang ada di Indonesia memiliki kemampuan maksimal dalam mendidik dan dapat bersaing dengan tenaga pendidik dari mancanegara dan dapat menghasilkan generasi yang juga dapat bersaing secara global. (Q-1)