APA yang banyak diketahui orang tentang Thailand? Negeri Gajah Putih. Budha dan para Banthe. Ornamen kayu ukir warna emas mengkilau. Tulisan mirip aksara Jawa. Olahraga kick boxing. Sup pedas asam Tom Yam Kung. Mie goreng Pat Thai dengan taburan kacang gepuk, dan tumbukan cabe kering , dan puluhan ragam lain.
Dari sekian banyak tema itu yang paling cepat termemori dan lama bertahan di benak, adalah kuliner atau masakan Thailand. Menteri Pariwisata Arief Yahya menilaidi situlah salah satu kunci sukses Thailand mempromosikan tourism-nya. Mereka berhasil mengembangkan kulinernya ke seluruh penjuru dunia.
Selera rasa Thailand makin mendunia, dan itu menjadi daya pikat orang untuk berkunjung ke negeri yang dulu bernama Muang Thai itu.
"Kuliner, makanan, tata boga, gastronomi itu induknya ada di Kemenpar. Kuliner adalah karya budaya, atau cultural. Dan budaya adalah alasan nomor wahid 65% orang berkunjung dan berlaama-lama ke Indonesia. Baru 30% nature, dan 5% man made, seperti MICE. Karena itu, sudah betul Thailand melakukan penetrasi kebudayaan besar-besaran melalui makanan. Lebih ampuh menyihir turis untuk datang," kata Menpar.
Diam-diam Menpar memang mengintai poin-poin penting pendorong sukses Thailand itu. Saat kunjungan kerja di Melbourne Australia, Menpar bersama tim KJRI – Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Melbourne berkeliling kota mencari ide dan lokasi untuk memperkuat branding Wonderful Indonesia. “Kami ingin promosi beli satu dapat tiga. Kami ingin mencari mitra pengusaha restoran, yang menjual masakan Indonesia, lokasinya strategis, di pusat kota, akses mudah, banyak orang lihat, di situ kami mau branding,†kata Menpar.
"Syaratnya, yang dijual adalah masalah khas Indonesia. Bisa sate, nasi gorong, mie, rendang, yang saat Wonderful Indonesia Festival 2015 kemarin ramai diserbu orang," jelas Mantan Dirut PT Telkom ini.
Di Melbourne, kata Menpar, ibu kota negara bagian Victoria ini, jumlah restoran Thailand lebih dari 600 gerai, peringkat kedua restoran Vietnam, lebih dari 200-an lokasi. Dan, ketiga Malaysia dengan masakan Melayu, yang sudah lebih dari 100 titik.
Bagaimana dengan Restoran Indonesia? Berapa jumlahnya? Seberapa eksis mereka? Hanya 30-50 resto, di tengah hampir 5 juta jiwa penduduk bekas ibukota Australia sebelum tahun 1972 dipindahkan ke Canberra itu.
"Dari data jumlah restoran itu saja, kita sudah bisa membaca, mereka sangat serius, agresif mengembangkan budaya kulinernya ke pasar Australia. Karena itu kami akan coba di 2016 branding bersama restoran."
Thailand dan Malaysia juga disupport oleh pemerintahnya untuk menjadikan teste masakannya naik kelas, menjadi berselera global.
Mengapa masakan Thailand lebih cepat ngeboom di Australia jika dibandingkan dengan resto Jepang, Korea dan Tiongkok? "Semua materi makanannya dibuat di Thailand, dibekukan, berbentuk frozen, lalu dikirim ke Melbourne, kecuali yang ada unsur dagingnya. Karena tidak boleh memasukkan daging ke Australia, semua harus daging local. Nah, saat hendak dihidangkan tinggal dipanaskan dengan mesin, cepat, standar rasanya sama, kontroling mudah," kata Arief Yahya.
Pola itu sangat memungkinkan pada makanan-makanan Indonesia. Kecuali yang ada dagingnya, itu yang harus dimasak sendiri di Australia. Toh, daging Australia lebih empuk, lebih enak, dan lebih terjamin dari berbagai penyakit.
"Kalau problemnya di ketenaga kerjaan, kami punya STP (Sekolah Tinggi Pariwisata) dan Akademi Pariwisata di Bandung, Bali, Medan, Makasar, dan sebentar lagi akan dibuat di Palembang. Kami bisa setting anak-anak itu untuk magang di restoran-restoran Indonesia," jelasnya.
Kolaborasi dengan kuliner, kata Arief Yahya, sudah saatnya diseriusi. Benchmark-nya sudah jelas. Kunci sukses Amazing Thailand mendunia adalah kuliner. Urusan ujung dan pangkal lidah. Pedas asem-nya Thailand harus diakui sudah menerobos cepat dalam peta rasa dunia, dan mensejajarkan diri dengan rasa Oriental Cuisine, Japanesse Food, maupun Korean Food.
Jika di Asia Timur selama ini peta karakter makanan hanya tiga, Tiongkok, Jepang dan Korea, kini nambah satu chapter lagi, Thai Food.
Mendeskripsikan Chinesse Food itu adalah gurih, pedas, asin. Japanesse Food lebih soft, detail, setengah matang atau bahkan tidak dimasak, wasabi. Sedang Korean Style itu kimchi dan ginseng. Orang awam ditutup mata, kalau disuruh mencicipi tiga model masakan itu. Cukup dari ujung lidah saja, sudah pasti bisa menebak tepat dari mana asal usul makanannya. Thai Food sudah masuk dalam peta besar, makanan popular Asia itu.
"Harus diakui, mereka sudah memulai sejak lama, didukung pemerintah, konsisten dan sukses," kata Menpar Arief Yahya.(R-1)