Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Greeting Terpopuler di Aussie 'Selamat Pagi dan Terima Kasih

Ghani Nurcahyadi
15/11/2015 00:00
Greeting Terpopuler di Aussie 'Selamat Pagi dan Terima Kasih
(Dok. Kemenpar)
MENPAR Arief Yahya sering dibuat terharu dengan dua kata itu: 'Selamat Pagi dan 'Terima Kasih' dari bule-bule Australia yang hadir dan turut menikmati The Wonderful Indonesia Festival 2015 di Queensbridge Square, Melbourne, Australia.

Begitu banyak muda mudi Negeri Kanguru itu yang sudah lincah berbahasa Indonesia dan pede berucap di depan umum. Ya begitulah kalau culture yang disentuh. Orang akan merinding, bulu kuduk berdiri, sangat tersanjung, amat terpuji, terhormat.

Walaupun hanya sekedar small word, dua suku kata, sudah menyentuh jurag batin yang paling dasar. Mirip dengan kebiasaan Menpar yang selalu mengawali perbincangan dengan para pejabat pariwisata Tiongkok dengan kata Ni hao ma yang bermakna apa kabar dan xiexie untuk mengakhiri sambutan yang berarti terima kasih.

Di Melbourne Menpar baru merasakan dahsyatnya magic words itu. Tapi bukan orang Indonesia kalau tidak kehilangan akal untuk berbalas pantun. Salah satu performance music khas Sulawesi Utara, Kulintang yang dimainkan di small stage di square itu adalah lagu Waltzing Matilda, sebuah lagu legendaris yang liriknya sudah disusun sejak 1859 dan dipublish pertama kali sejak 1903. Lagu balada itu baru dicatat sebagai The Sounds of Australia di National Film and Sound Archive tahun 2008 lalu.

Serangan budaya Australia berikutnya lebih telak lagi. Anak-anak SMA di Melbourne, dengan seragam sekolahnya, celana pendek, baju kalem, rapi berdasi menyanyikan lagu Burung Kakak Tua dengan lafal yang sangat Indonesia. Di awal acara yang 75% audience-nya masih community Indonesia di sana, langsung merinding berjamaah. Itu adalah laku anak-anak TK dan pre school di Tanah Air. Sementara di Aussie dinyanyikan olah remaja selevel SMA yang baik.

Masuk nalar, di ujung lagu "…trek dung..trek dung..tralala.. burung kakak tua.." yang bernada naik, semua orang bertepuk tangan riuh. Suhu Melbourne yang pagi itu di 15 derajad Celcius dengna bonus angin pun, terasa hangat. Anak-anak muda Australia pun masih membuat perform lagi yang lebih menusuk. Dalam berbagai tarian tampil di main stage, beberapa personilnya adalah perempuan bule yang berdandan dan berpakaian adat Bali, Jawa, Sumatra.

Mereka bukan saja mahir berbahasa Indonesia, tetapi juga pintar menari dan menjiwai gerakan-gerakan tarian tradisional yang tidak gampang, sekalipun oleh anak-anak Indonesia di sana. Ada spirit kebersamaan, rasa bangga, semangat memiliki budaya yang tinggi dari sini. "Ini yang saya sebut blended, menyatu, dan fundamental. Kemasan festivalnya sederhana saja, tetapi content, pesan budaya dan filosofi kebersamaan Indonesia-Australia-nya, sangat terasa sampai ke tulang. Sukses dan antusias," aku Menpar

Menteri Keuangan Robin David Scott hadir di lokasi Festival di tengah-tengah show lalu menghampiri ke tenda Menpar. Bahkan Scott yang berlatar belakang Partai Buruh Australia dan pernah menjadi anggota legislatif pada 2006 itu bangga mengenakan topi merah bertuliskan huruf putih, Wonderful Indonesia.

"Nah, sudah deh, nyerah kita, 2-5," aku Arief Yahya, yang pernah dinobatkan sebagai The Best CEO BUMN, CEO Innovation Award, The Best CEO Finance Asia The Best CEO of The Year, Anugerah Business Review sepanjang tahun 2013 itu.

Skor itu, bisa dibaca, lebih banyak muda mudi Australia yang menggunakan karya budaya Indonesia dalam performance di Festival itu. Jika di juri, poinnya 2-5, ketinggalan 3 poin. Sebagai sebuah multicultural message, festival itu sukses.

Sebagai promosi pariwisata, event ini lebih sukses lagi. Melibatkan lebih banyak orang Australia, didampingi oleh komunitas anak-anak Indonesia di Melbourne yang sudah pasti mereka akan menjadi public relations yang baik buat negeri.(R-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya