Wonderful Indonesia Festival 2015 Menyapa Melbourne
Nurul Fadillah
15/11/2015 00:00
(Dok. Kemenpar)
MENPAR Arief Yahya (14/11) jadi bintang di balik sukses The Wonderful Indonesia Festival 2015 yang digulirkan di Queensbridge Square, Melbourne, Australia. Sebuah kolaborasi antara seni tradisi, musik popular, artis kedua negara, interaktif, kuliner, sampai promosi pariwisata dengan pemberdayaan community Indonesia di sana.
Lebih dari 500 jepretan dari kamera yang diminta masyarakat bersama Menpar seharian itu. Lebih dari 5.000 anak muda berkumpul silih berganti di Queensbridge Square dari jam 11.00-17.00 itu. Lebih dari 15 ribu orang Indonesia, yang saat ini bermukim dan hidup bersosialisasi dengan warga Melbourne, Australia. Sebuah Kota berpenduduk mendekati 5 juta, dan mendapat predikat The World’s Most Liveable Cities, kota paling nyaman ditinggali 2002 dan 2004, lalu 2011 dan 2012 oleh The Economist.
Makin sore, makin mendekati batas akhir izin penyelenggaraan acara out door itu makin heboh. Itulah untungnya jika sebuah even di kreasi bersama komunitas anak-anak Indonesia yang berada di luar negeri. Acaranya sukses, semua pihak senang, branding Wonderful Indonesia menancap tajam, Pemerintah Australia juga appreciate.
"Lengkap sudah. Tinggal menunggu impact-nya terhadap target kunjungan wisman asal Australia ke Indonesia,†kata Menpar yang tak henti-henti harus rehat senejak karena diajak berfoto dengan warga di sana.
Menpar pun pun berterima kasih pada Konsul Jenderal untuk Victoria dan Tasmania Dewi Wahab yang antusias. Juga Lord Mayor Robert Doyle yang turut hadir dan memberi sambutan. Juga Siam Nugraha, CEO Telkom Australia yang bersama-sama mempersiapkan acara tahunan ini.
"Kebetulan, di pertengahan acara, Minister for Multicultural Affairs, Robin David Scott datang ke tenda lokasi festival, dan saya minta izin tahun depan acara ini boleh digelar lagi. Beliau antusias, beliau setuju," kata Menpar. Bisa jadi tahun depan acara ini dilangsungkan di Federation Square di Flinder Street yang berseberangan dengan St Paul's Cathedral itu. Lokasi paling ideal untuk festival yang fun, simple dan bersahabat seperti The Wonderful Indonesia Festival ini.
"Saya puas dengan acara ini. Blended, antara komunitas Indonesia dan orang Australia, dengan komposisi 50%-50%," aku mantan Dirut PT Telkom itu.
Stand Sate Madura, Empek-empek Palembang, Sup Kondro Makasar, Masakan Padang, Jajan Pasar khas daerah, hampir semua ludes sebelum acara memasuki half time. Antrean panjang mengular untuk membeli dan mencicipi aneka teste masakan khas Indonesia itu sendiri menjadi pemandangan yang amat melegakan. Musik kulintang, gamelan Jawa, tarian Bali, tarian daerah, dari Sumatra Utara, Aceh, dengan kostumnya yang menyala di terang matahari Melbourne menambah meriah suasana.
Pemandangan orang Australia menenteng makanan, bersama-sama, dibawa di sepanjang riverside Yarra, di bawah pepohonan yang rindang rapi, di atas rumput hijau, diganggu satu dua burung manyar dan duduk sambil berdialog santai. Sangat familiar. Berbagai latar belakang suku, agama, tradisi, bersama-sama menikmati cita rasa Indonesia yang amat terkenal di lidah mereka.
Kostum Malang Flower Carnaval yang wow juga menjadi objek selfie orang-orang Australia di Melbourne. Perempuan cantik mengenakan kostum karnaval yang besar, tinggi, lebar, berwarna-warna menantang. Ada juga tarian Gading Alit (Malang), tarian Cendrawasih (Bali), tari Jejer Gandrung (Banyuwangi), yang turut menghangatkan suasana.
Performance Sandi Sandoro dan kawan-kawan juga sempat heboh, dengan hits nya Tak Pernah Padam. Audience pun ikut bersenandung ketika Sandi dengan suara penuh power itu mengajak bernyanyi bersama. Puncaknya, ketika group music popular Australia, Justice Crew yang merupakan simbol komunitas multicultural tampil menghebohkan panggung. Dengan breakdance yang gesit, beat yang cepat, gerakan yang extreme, betul-betul membius audience.(R-1)