Makna MoU Menpar RI dan Menpar Italia di depan Presiden
Nurul Fadillah
11/11/2015 00:00
(ANTARA/Yudhi Mahatma)
Di hadapan Presiden Joko Widodo dan Presiden Italia YM Sergio Mattarella, dua menteri yang mengurus pariwisata menandatangani kesepahaman (MoU). Yakni Menpar Arief Yahya dan Menteri Warisan dan Aktivitas Budaya dan Pariwisata Italia Federica Guidi. Apa makna di balik itu?
Pertama, pariwisata adalah sektor yang paling cepat bisa bergerak, paling kelihatan dampaknya dan paling heboh mengundang perhatian publik.
Aktivitasnya pun paling fleksibel, bisa di mana saja, kapan saja, tidak mengenal musim. Dalam peta kerja sama bilateral, pariwisata itu semacam kail yang baik, pelepas umpan yang memikat, dan ketika sudah terjalin, bisa menjadi lem perekat yang menyatukan kedua bangsa.
"Kita sangat terbuka. Kita punya 10 destinasi unggulan, yang harus diramaikan dengan investor baru, selain 3 greater Bali-Jakarta-Batam. Kita juga punya 25 area yang hendak dibangun sebagai kawasan strategis pariwisata dan kawasan ekonomi khusus pariwisata," jelas Menpar Arief Yahya.
Ke-10 destinasi unggulan itu, antara lain Danau Toba Sumut, Tanjung Kelayang Belitung, Tanjung Lesung Banten, Pulau Seribu DKI, Boborudur Jateng, Bromo Jatim, Mandalika Lombok, Morotai Malut, Wakatobi Sultra, dan Labuan Bajo Komodo NTT.
Di berbagai forum, baik di dalam maupun di luar negeri, Menpar selalu mempromosikan 10 lokasi itu buat investor. Dengan begitu, posisi Kemenpar bisa menjadi kail yang baik untuk menarik ikan-ikan, juga bisa menangkap ikan itu sendiri dengan prospek bisnis pariwisata yang sedang bergairah.
Pekerjaan pariwisata, tidak sekedar menambah volume dan frekuensi orang Italia yang berkunjung ke Indonesia, tetapi sekaligus memasarkan investasi bisnis berbasis pariwisata di tanah air. Entah itu hotel, resort, atraksi turisme, dermaga marina, pelabuhan, kapal pesiar, maupun kawasan khusus pariwisata. "Itulah pariwisata, yang luwes, fleksibel, cepat, lincah dan bisa dirasakan gregetnya," kata Menpar.
Seperti diketahui, message Presiden Jokowi, soal hubungan bilateral Indonesia Iralia itu menyangkut tiga sektor, yakni politik, ekonomi dan social budaya.
Di bidang politik lebih banyak ke arah interfaith dialogue. Sedang di ekonomi, bisa melebar meliputi perdagangan, investasi, industri kreatif, kemaritiman, infrastruktur, dan energi. Begitupun soal social budaya, itu termasuk di dalamnya pendidikan dan pariwisata.
MoU yang ditandatangi di hadapan kedua pemimpin kedua negara itu selain menegaskan kemitraan secara tertulis, juga bermakna strategis. Pariwisata harus cepat menangkap peluang ini dan segera aksi untuk kerja sama yang konkret.
"Ada lima poin di MoU Indonesia-Italia itu. Kami akan segera tidaklanjuti di level teknis," jelas dia.
Pertama, kerja sama di bidang pemasaran dan promosi pariwisata, di forum pameran internasional kedua negara. Lalu peningkatan perjalanan kedua negara secara perseorangan atau group, kerjasama MICE – meeting, incentives, conferences, dan expo. "Baik Italia maupun Indonesia, sama-sama gencar dalam promosi dan pemasaran, jadi bisa dicari konektivitasnya," katanya.
Kedua, kerjasama pengembangan produk, riset, kajian, dan promosi bersama, baik destinasi konvensional, ataupun tidak konvensional. Tukar pengalaman, bagi informasi, kunjungan pengkajian dan perbandingan itu menjadi penting. Italia puya banyak objek heritage, sisa-sisa kejayaan Zaman Romawi yang paling berkuasa di Eropa kala itu. Artefaknya juga tersebar di banyak kota, seperti Colosseum, Menara Pisa, Kota Air Venezia, berbagai arsitektural Roma, patung-patung peninggalan Michael Angelo, Pablo Picaso, dan lainnya. (R-1)