Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
KUALITAS air yang baik menjadi salah satu hal yang penting dalam proses hemodialisis. Hemodialisis merupakan modalitas terapi pengganti ginjal yang dibutuhkan oleh pasien dengan gagal ginjal kronik.
Dokter Okki Ramadian SpPD dari Klinik Hemodialisis Renal Team Pondok Indah menjelaskan air menjadi salah satu media dalam proses hemodialisis. Air yang digunakan harus dipastikan bersih, bebas dari kuman, bakteri, dan zat kimia lainnya.
"Badan kita diciptakan steril, begitu pula ketika pasien harus menjalani terapi hemodialisis. Kalau menggunakan air PAM sudah tercampur-campur klorin dan zat lain. Jadi yang digunakan ialah air tanah, dibutuhkan sistem penyaringan air yang bagus," terang dr Okki di sela-sela peresmian Klinik Hemodialisis Renal Team Pondok Indah, Jakarta, pada Selasa (23/10).
Dijelaskan Okki, hemodialisis berfungsi untuk menggantikan fungsi ginjal dalam memfiltrasi darah dari zat-zat yang tidak dibutuhkan oleh tubuh. Dalam prosesnya air dibutuhkan sebagai bagian dari proses infiltrasi. Proses hemodialisis berlangsung sekitar empat jam dan membutuhkan setidaknya 120 liter air selama proses tersebut.
Presiden Direktur RenalTeam Clinic Chan Wai Chuen, pada kesempatan yang sama menjelaskan klinik RenalTeam Hemodialisa Pondok Indah, menggunakan reverse osmosis water system. Sistem tersebut memiliki membran khusus yang didesain untuk meminimalisasi terjadinya kontaminasi dalam air yang akan digunakan selama proses hemodialisis.
"Keselamatan pasien ialah hal yang paling utama," terangnya.
Dr Okki menambahkan bahwa selain air penularan risiko penularan infeksi juga dapat terjadi saat pasien menjalani hemodialisis. Penyakit yang dapat ditularkan antara lain hepatitis B, hepatitis C, dan HIV. Oleh karena itu, pasien dengan penyakit-penyakit tersebut harus menggunakan mesin terpisah agar tidak ada peluang terjadinya penularan.
"Penularan bisa melalui alat, hepatitis B tidak bisa dibersihkan. Kalau B dan C alatnya harus sendiri. Kami di sini dipisah alatnya dan ada kamar isolasi," tuturnya.
Tren gagal ginjal kronik di Indonesia semakin naik. Pasien yang membutuhkan hemodialisis angkanya meningkat dari tahun ke tahun. Data hemodialisis dari 2007-2016 menunjukan, pasien lama yang menjalani hemodialisis mencapai 52.835 (2016) dari 1.885 pasien pada 2007.
Adapun pasien baru, trennya juga bertambah yakni 4.977 pada 2007 menjadi 25.446 pada 2016. Data prevalensi gagal ginjal pada penduduk berusia di atas 15 tahun sebanyak 0,2%.
Dr Okki mengatakan terdapat tiga faktor risiko yang dapat menyebabkan seseorang mengalami kondisi gagal ginjal yakni hipertensi, diabetes, dan obesitas. Selain itu kebiasaan merokok dan minum minuman beralkohol juga menjadi variabel yang bisa menyebabkan gagal ginjal kronik pada seseorang.
Ia melanjutkan, seseorang dengan faktor risiko tidak langsung mengalami gagal ginjal stadium terminal atau akhir. Jika penyakit dasarnya diobati kejadian gagal ginjal terminal bisa ditekan.
Langkah menekan penyakit dasar tersebut seperti kadar gula darah dijaga agar jangan sampai tinggi, atau tekanan darah orang dengan hipertensi harus terkontrol, dan modifikasi gaya hidup.
"Dengan begitu fungsi ginjal tidak menurun dengan cepat," terangnya.
Seseorang dapat dikatakan gagal ginjal kronik stadium V atau akhir, terang Okki, apabila fungsi ginjalnya di bawah 15%. Artinya pada kondisi itu, pasien harus melakukan hemodialisa dengan waktu yang dianjurkan tiga kali selama satu minggu.
Ada sejumlah terapi pengganti fungsi ginjal yang dapat dilakukan pasien dengan gagal ginjal kronik (dialisis), yakni hemodialisa menggunakan mesin, peritoneal dialysis menggunakan cairan, dan transplantasi ginjal. Dikatakan dokter Okki, di Indonesia terapi yang paling umum digunakan yakni hemodialisa. (A-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved