Headline

Presiden mengecam keras tindakan keji yang menyebabkan gugurnya para prajurit TNI.

Lahan Rawa dan Pasang Surut Butuh Pupuk Khusus

Andhika Prasetyo
19/10/2018 16:00
Lahan Rawa dan Pasang Surut Butuh Pupuk Khusus
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melakukan panen padi di lahan rawa lebak di Desa Pelabuhan Dalam, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatra Selatan pada Kamis (12/10/2017).(MI/Dwi Apriani)

UPAYA Kementerian Pertanian (Kementan) dalam pengoptimalan lahan rawa lebak dan pasang surut sebagai areal pertanian baru tampak mengalami kendala yang mengkhawatirkan.

Pasalnya, lahan-lahan suboptimal tersebut relatif memiliki tingkat produktivitas yang rendah yakni hanya sekitar 3 ton per hektare (ha). Sementara, untuk lahan konvensional, produktivitas rata-rata ialah 5,5 ton per ha.

Rendahnya produktivitas itu disebabkan tingginya tingkat keasaman tanah.

Untuk menyiasati hambatan itu, Kementan menciptakan teknologi pupuk Beka Gambut yang mampu menaikkan pH tanah, rawa lebak dan pasang surut sehingga tingkat keasaman dapat ditekan dan produktivitas di lahan suboptimal dapat didorong hingga menyamai lahan konvensional.

Penggunaan pupuk yang bersifat cair itu sedianya terbilang baru. Selama ini, para petani di lahan rawa lebak atau oasang surut kerap menggunakan komponen dolomit untuk menyuburkan tanah.

Namun, komponen itu dinilai tidak efisien karena terlalu mahal.

Edy Darmawan, Kepala Divisi Marketing PT Indo Acidatama, perusahaan yang memproduksi pupuk Beka Gambut mengungkapkan, setiap satu hektare lahan, petani hanya memerlukan sekitar 6 liter pupuk Beka atau setara Rp500 ribu. Bandingkan dengan penggunaan dolomit yang mencapai Rp2 juta untuk mencukupi kebutuhan satu ha lahan.

"Selain hemat biaya, Beka lebih praktis untuk digunakan,” ujar Edy melalui keterangan resmi, Jumat (19/10).

Edy menilai kebijakan pemerintah dalam mengembangkan lahan pasang surut, dan lahan rawa sudah tepat karena potensinya yang besar dan biaya pengolahan lahan lebih kecil jika dibandingkan dengan cetak sawah baru.

"Maka dari itu, petani harus diedukasi terkait proses tanamnya. Mereka harus bisa mengelola pH tanah dan mengatur tata kelola air. Dengan begitu, jenis benih padi apapun akan bisa ditanam," jelasnya. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya