Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
KALANGAN santri harus menghidupkan tradisi intelektual dalam memperkuat persatuan dan kesatuan untuk merawat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Peran penting tersebut harus terus dilestarikan lantaran bangsa ini memiliki peradaban nusantara yang luhur. Sejak dulu, para leluhur sudah memberikan ketauladanan hingga saat ini.
Demikian pendapat yang mengemuka dalam seminar memperingati Hari Santri 22 Oktober 2018 bertema Santri dalam Memperkokoh Persatuan Bangsa, di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Kamis (18/10).
Seminar itu menghadirkan pembicara anggota Dewan Petimbangan Presiden (Wantimpres) KH Yahya Cholil Staquf, Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah, dan Intelektual Muhammadiyah Zuly Qodir.
"Santri itu mereka yang berjuang mempertahankan dan merawat Indonesia," tegas Zuly Qodir.
Untuk itu para santri harus mampu menciptakan kedamaian di tengah gencarnya pengaruh negatif media sosial. Pengaruh itu bisa dilihat sekarang dengan maraknya mengkafirkan orang lain di medsos.
Apalagi perilaku itu hanya mengandalkan copy paste (copas). Padahal di dunia maya ada sekitar 87 juta penerima informasi. Penyebaran fitnah dengan dibumbui mendapatkan pahala sangat memprihatinkan. Kondisi sosial itu semakin melebar, merambah pada politik nasional hingga pilpres.
"Apa sih yang dipermasalahkan, siapa pun presiden yang terpilih nanti, itu tetap orang Indonesia," ujar Zuly.
Kondisi mengerikan di dunia maya tersebut sudah mempengaruhi generasi muda bangsa. Zuly mengutip hasil penelitian bahwa sebanyak 77% anak muda terutama mahasiswa semester 1-3 lebih menyukai 'ustaz google' ketimbang mengaji pada kiai di pesantren.
Bahkan, lanjutnya, penelitian Wahid Institute menyatakan banyak anak muda reaksioner dan setuju berperilaku kekerasan. "Mereka tidak suka yang sifatnya analitis. 52,7% menginginkan mengganti dasar negara Indonesia. Yang tidak setuju hanya 32,7%. Itu tantangan keindonesiaan," ungkapnya
Wantimpres KH Yahya Cholil Staquf mengatakan santri adalah mereka yang memelihara tradisi intelektual pada diri mereka. Ia mengingatkan para leluhur bangsa pun sudah meletakkan fondasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
"Peradaban nusantara sudah melahirkan konsep Bhinneka Tunggal Ika. Sejak Kerajaan Majapahit, bahkan memiliki gagasan filsafat," katanya.
Yahya menegaskan leluhur bangsa ini memiliki tradisi ngemong atau mengayomi. Dalam sejarah peradaban intelektual hal itu dimaknai memiliki momongan di masyarakat.
Kendati sekarang digempur berbagai isu di medsos, ia meyakini masyarakat Indonesia akan tetap utuh dengan menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
"Ngemong masyarakat itu sudah dimiliki dalam tradisi NU. Kita punya ketahanan tinggi, sebab masyarakat memiliki watak independen secara natural," tuturnya.
Untuk itu, para santri didorong untuk terus menghidupkan tradisi intelektual yang memilki gagasan akademis, memiliki unsur spiritual dan tradisi pergerakan ke arah yang lebih baik. (A-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved